Wawancara Eksklusif
PKB Siap Jadi Jembatan Aspirasi Rakyat
Momentum ini menjadi penanda awal konsolidasi kepengurusan baru periode 2026–2031, sekaligus mempertegas komitmen PKB
PENGURUS Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Aceh di bawah kepemimpinan Haji Ruslan Daud (HRD) dijadwalkan akan dikukuhkan malam ini, Selasa (31/3/2026). Momentum ini menjadi penanda awal konsolidasi kepengurusan baru periode 2026–2031, sekaligus mempertegas komitmen PKB sebagai jembatan aspirasi rakyat di Aceh.
Di bawah kepemimpinan HRD, yang dikenal sebagai mantan Bupati Bireuen dan anggota DPR RI dua periode, PKB Aceh diarahkan untuk memperkuat peran politik yang inklusif dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari ulama, akademisi, hingga generasi muda. Formasi kepengurusan yang disebutnya sebagai “kolaborasi banyak unsur” ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat, terutama dalam bidang pembangunan, keagamaan, dan sosial.
Pengukuhan yang berlangsung di Hotel Hermes Palace ini juga menjadi langkah strategis PKB Aceh dalam memperluas pengaruh politiknya, tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga nasional, sejalan dengan visi menjadikan partai sebagai penghubung kepentingan rakyat dengan kebijakan pemerintah.
Guna mengetahui lebih lanjut visi PKB Aceh ke depan, pembaca dapat menyaksikan wawancara eksklusif dalam bentuk video di kanal YouTube Serambinews.com, yang dipandu langsung oleh Pemimpin Redaksi Harian Serambi Indonesia Zainal Arifin M. Nur. Berikut petikan wawancara bersama HRD yang telah disederhanakan:
Bisa diceritakan karier politik, Pak Ruslan?
Saya rasa kalau memang latar belakang nggak usah lagi kita cerita ya kan. Sebab saya tahu dan sama-sama tahu, orang sudah mengenal kita semenjak kita jadi Bupati di Kabupaten Bireuen. Dan alhamdulillah masyarakat Dapil Aceh 2 mulai tahun 2019 mempercayakan kita ke tingkat nasional, yaitu DPR RI. Bahkan ini bukan periode pertama, ini sudah periode kedua. Ini yang perlu kita ceritakan adalah kepercayaan Ketum terhadap Kepimpinan PKB Aceh ke depan.
Saya merasa bersyukur, merasa bangga dan terharu atas apa yang didorong, atas kepercayaan pada hari ini oleh Ketua Umum PKB terhadap diri kami. Ini adalah satu tantangan yang sangat luar biasa, sehingga kami penuh keyakinan untuk membawa PKB ini harus ada manfaat kepada masyarakat banyak dalam segi apapun, baik dalam konteks agama, pendidikan, sosial dan sebagainya. Apalagi PKB, sama-sama juga kita tahu ini lahir dari rahim Nahdlatul Ulama. Maka kepengurusan kali ini yang kami terapkan ini adalah seperti “Kuah Pliek” yaitu banyak unsurnya. Ada kalangan ulama, ada akademisinya, kepemudaannya, ada santrinya, dan juga sebagainya. InsyaAllah kolaborasi ini saya pikir sangat menentukan keberhasilan kita untuk ke depan.
Bisa diceritakan latar belakang keterlibatan dalam GAM?
Kami memang dulu tinggal di luar negeri, sama-sama juga seperti Mualem, Pak Muzakir Manaf dan juga beberapa teman yang lain memang mengasingkan diri. Dan saat kami mengasingkan diri, sama-sama juga kami menuntut keadilan. Dan Alhamdulillah di saat kami pulang ke kampung halaman kami masing-masing yaitu ke Aceh, kami mendapatkan kepercayaan dengan bermacam ragam. Ada yang di eksekutif, ada yang di legislatif. Yang intinya adalah semua untuk meringankan beban masyarakat. Tetapi tanggung jawab ini ada yang berbeda-beda.
Kalau memang kita berbicara terlibat dengan GAM, ini hampir semua terlibat kalau orang Aceh. Tapi ada levelnya. Sebab, kita ini dituntut adalah untuk keadilan, pemerataan, kita kan kesenjangan. Sebab Aceh ini kan modal kemerdekaan Indonesia. Makanya orang Aceh ini menuntut kesetaraan, menuntut keadilan. Sila yang kelima. Jadi tidak salah, makanya tidak mungkin tidak ada yang terlibat dulu. Walaupun tidak nampak tetapi doa pun ada. Sudah pasti.
Dan saya memang itu terlibat. Saat pembicaraan damai MoU Helsinki saya juga salah seorang support grup di Helsinki kemarin. Membawa juga teman-teman, grup-grup kami dari Kuala Lumpur untuk memberi semangat. Dan juga menyaksikan itu apa yang terjadi di Eropa di sana. Dalam proses-proses itu termasuk waktu di titik-titik ditandatangani di Helsinki juga kami ikut.
Kenapa memilih partai nasional daripada partai lokal?
Yang sebenarnya kalau kami dulu kan sama-sama PA (Partai Aceh). Saya juga dilahirkan dari PA. Tentunya itu tidak bisa kita pisahkan. Saya sangat tahu, sangat bersyukur yang bahwa saya dilahirkan dari rahimnya PA. Jadi kalau kita berbicara untuk nasional, sebab ini kita lokal. PA ini lokal. Apalagi kalau kita untuk menjalankan diri untuk DPR RI itu memang tidak bisa dari PA.
Dan sebelum saya ke PKB, saya dulu Gerindra juga. Tetapi ada sesuatu hal mungkin pada saat itu saya ke PKB terakhirnya. Dan alhamdulillah saya mendapatkan kursi, mendapatkan kepercayaan. Ini berkat doa dan juga kerja keras para Abu, para ulama kita, guru-guru kita semua. Alhamdulillah 2019 kami mendapatkan kepercayaan yang pertama. Padahal kalau kita lihat tantangan dan rintangan di lapangan pada saat itu memang sangat susah kalau memang PKB untuk mendapatkan kursi. Tetapi berkat perjuangan Abu saya rasa, itu ikhtiar yang sangat luar biasa. Para alumni, para santri, para pimpinan-pimpinan dayah, pimpinan balai pengajian, atas instruksi Abu, terutama Abu Mudi, Waled Nu, Allahyarham Abu Tumin Blang Blahdeh dan Abu Kuta Krueng, juga para Abu lainnya alhamdulillah saya mendapatkan kepercayaan yang sangat luar biasa.
Di sinilah saya sangat bangga dan bersyukur kepada Allah dan juga berterima kasih kepada guru-guru kami sekalian. Maka di saat saya dipilih juga saya tidak henti-hentinya memperjuangkan sedikit banyaknya infrastruktur untuk dayah. Sebab harapan para guru kami, harapan para orang tua kami dapat melihat kesinambungan, dapat melihat dengan terpilihnya kita untuk memberi sedikit angin segar supaya dayah-dayah ini ada sentuhan yaitu kehadiran negara di tengah-tengah dayah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/HRD-ajak-kader-PKB-Aceh-pimpin-dpc.jpg)