Rabu, 22 April 2026

Berita Subulussalam

Datangi Bappenas, Wali Kota Subulussalam Ajukan 4 Program Prioritas Jadi Proyek Strategis Nasional

"Dalam perspektif nasional, keberadaan jalan ini akan mendukung pengembangan koridor ekonomi kawasan Barat Selatan dan Tengah Provinsi Aceh sebagai...

Penulis: Dede Rosadi | Editor: Nurul Hayati
Serambinews.com/HO/Serambinews.co/HO
Proyek Strategis Nasional: Wali Kota Subulussalam Haji Rasyid Bancin, mendatangi Kementerian PPN/Bappenas untuk serahkan usulan penetapan proyek strategis nasional di daerahnya, Selasa (7/4/2026). 

Kondisi geografis berupa tebing curam di satu sisi dan jurang dalam di sisi lainnya menjadikan ruas ini sebagai salah satu titik rawan nasional (blackspot). 

Rawan bencana longsor, pohon tumbang, serta kecelakaan lalu lintas fatal.

Kemudian Memiliki sisi tebing curam dan jurang dalam dengan tingkat risiko tinggi.

Jalan ini merupakan satu-satunya jalur distribusi logistik utama bagi wilayah Barat Selatan Aceh menuju Sumatera Utara, yang menopang arus barang seperti sembako, hasil pertanian dan aktivitas perdagangan lintas daerah.

Sehingga layak menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN) oleh karena itu butuh penanganan komprehensif meliputi: 

Pelebaran dan peningkatan struktur jalan, penguatan tebing dan stabilisasi lereng rawan longsor dan pembangunan pengaman jalan pada sisi jurang. 

Berikutnya penerapan sistem mitigasi bencana terpadu guna menjamin keselamatan pengguna jalan.

4. Penanganan tanjakan Kedabuhen, yang populer dengan istilah program Kelok Delapan Kedabuhen.

Tanjakan Kedabuhen merupakan titik kritis yang berada di kawasan perbukitan dengan karakteristik tebing curam dan jurang dalam, yang setiap hari berpotensi menimbulkan  kecelakaan lalu lintas. 

Ruas ini merupakan bagian dari jalur strategis yang dilintasi oleh sedikitnya delapan kabupaten/kota di Aceh melalui Kota Subulussalam menuju Pakpak  Bharat, Sumatera Utara dan Kota Medan.

Karakteristik jalan berupa tanjakan panjang, terjal, serta tikungan tajam dengan risiko tinggi bagi kendaraan, khususnya angkutan berat. 

Saat ini telah tersedia dua jalur (2x2 lajur), yaitu satu jalur berada di sisi jurang dan satu jalur alternatif yang lebih landai di sisi tebing.

Namun hal ini belum mampu mengurangi risiko secara signifikan.

Kendaraan besar, bus dan berat seperti truk kerap mengalami kegagalan menanjak, yang berpotensi menimbulkan kecelakaan beruntun. 

Setiap bulan, puluhan kendaraan  terlibat kecelakaan di kawasan ini, dengan korban jiwa yang telah mencapai puluhan orang akibat berbagai insiden.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved