Jumat, 1 Mei 2026

Berita Aceh Utara

Ketika Kegagalan Menjadi Guru, Anwar Risyen Dari Pencari Kepiting Menemukan Jalannya ke Parlemen

Seorang anak kecil di kawasan pesisir ujung timur Aceh Utara berjalan tanpa alas kaki, menembus lumpur tambak yang dingin.

Tayang:
Penulis: Jafaruddin | Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Wakil Ketua Komisi I DPRK Aceh Utara, H Anwar Risyen 

Ringkasan Berita:Anwar Risyen memulai hidup dari pencari kepiting di pesisir Aceh Utara setelah kehilangan ayah sejak kecil.
 
Ia sempat gagal berulang kali dalam usaha udang, namun bangkit hingga menjadi pengusaha sukses dan menembus pasar ekspor.
 
Kini, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi I DPRK Aceh Utara, membuktikan kegigihan mampu mengubah nasib.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin I Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Seorang anak kecil di kawasan pesisir ujung timur Aceh Utara berjalan tanpa alas kaki, menembus lumpur tambak yang dingin.

Di tangannya, ia menggenggam harapan sederhana, kepiting dan udang yang kelak ditukar dengan biaya sekolah dan sekadar uang jajan.

Dari jejak-jejak kecil di lumpur itulah, kisah panjang tentang kehilangan, keteguhan, dan perjuangan hidup perlahan tumbuh, hingga akhirnya bermuara di ruang sidang DPRK Aceh Utara.

Anak itu kini dikenal sebagai H. Anwar Risyen, Wakil Ketua Komisi I DPRK Aceh Utara periode 2024–2029.

Saat duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, ia kehilangan ayah. 

Sejak itu, hidup berubah drastis. Sebagai anak kedua dari lima bersaudara, ia dipaksa dewasa lebih cepat.

Sepulang sekolah, Anwar kecil menyusuri tambak di kawasan Seunuddon. 

Baca juga: Dari Aktivis Mahasiswa ke Parlemen, Abuzar juga Pimpin Forbes DPRK Wilayah Barat Aceh Utara

Ia mengumpulkan kepiting dan udang untuk dijual, demi membiayai kebutuhan sekolah dan sekadar membeli jajanan harian.

Rutinitas itu dijalaninya hingga remaja, membentuk karakter pekerja keras yang melekat kuat dalam dirinya.

Memasuki dekade 1990-an, ia mulai merintis usaha jual beli udang. Namun jalan yang ditempuh tidak mudah.

Usahanya sempat berjalan lancar, tetapi hanya bertahan enam bulan. 

Ia merugi karena kalah bersaing dengan para tauke bermodal besar. 

Kegagalan itu tidak hanya sekali—bahkan hingga empat kali ia jatuh dalam usaha yang sama.

Baca juga: Dari Santri lalu Pasukan Tengkorak Hitam, Kini Tgk Jinieb Ketua Komisi V DPRK Aceh Utara 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved