Opini
Perang Iran dan Polarisasi Mazhab
Sejarah Islam sendiri menunjukkan bahwa perbedaan “mazhab” tidak selalu simetris atau berbanding lurus dengan posisi politik.
Oleh: Dr Fairus M Nur Ibrahim MA, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh
TIDAK hanya mengguncang Timur Tengah, perang AS-Israel versus Iran rupanya mengguncang pula ruang batin masyarakat Aceh dalam membaca realitas yang sedang terjadi.
Di mimbar-mimbar dakwah Ramadhan dan khutbah salat Id, dalam ruang-ruang silaturahim saat Idul Fitri, bahkan hingga percakapan para akademisi pada berbagai platform media sosial, satu pertanyaan yang terus berulang adalah “apakah Iran harus didukung atau mesti dimusuhi karena identitas mazhabnya yang bukan Sunni”.
Bagi sebagian orang, posisi aktor perang tampak sederhana: Amerika Serikat dan Israel adalah musuh nyata, sedangkan Iran adalah “musuh dalam selimut”.
Karena dianggap representasi Syiah, Iran tidak diposisikan sebagai kerabat yang patut dibela, bahkan mesti diwaspadai.
Baca juga: Bom Waktu MBG
Narasi ini kemudian melahirkan sikap ekstrem: menolak segala bentuk simpati terhadap Iran, bahkan ketika ia berhadapan langsung dengan kekuatan yang selama ini menindas dunia Islam.
Namun, benarkah realitas yang terjadi sesederhana itu? Di titik inilah kita melihat bahwa masyarakat Aceh yang umumnya Sunni kini tengah dihadapkan pada dilema klasik antara identitas teologis (mazhab) dan realitas politik.
Dalam konteks mengambil posisi keberpihakan, mazhab dan pandangan teologis memang penting.
Namun, menjadikan aspek ini sebagai satu-satunya kacamata dalam membaca konflik global saat ini akan berisiko menyederhanakan persoalan yang kompleks, karut marut, dan telah beranak pinak.
Sejarah Islam sendiri menunjukkan bahwa perbedaan “mazhab” tidak selalu simetris atau berbanding lurus dengan posisi politik.
Masalahnya hari ini, konflik Sunni-Syiah telah mengalami politisasi yang begitu dalam. Ia tidak lagi semata soal perbedaan teologi, tetapi telah menjadi instrumen geopolitik yang dimainkan oleh berbagai kekuatan dunia.
Polarisasi ini diperparah oleh propaganda media dari luar maupun dari dalam dunia Islam yang terus menguatkan narasi fragmentasi (perpecahan).
Akibatnya, kaum muslim jadi lebih sibuk memperdebatkan siapa yang “lebih benar” daripada memikirkan siapa yang paling diuntungkan dari perpecahan yang terjadi.
Membaca realitas
Dalam konteks perang yang inisiatif agresi dimulai oleh Amerika dan Israel dengan menyerang berbagai target di Iran pada 28 Februari 2026 itu, setidaknya ada tiga lapisan realitas yang perlu dibaca secara jernih.
Pertama, realitas kekuasaan global dengan Amerika Serikat dan sekutunya memiliki kepentingan strategis di Timur Tengah dalam hal energi, keamanan, dan pengaruh politik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Fairus-M-Nur-Ibrahim-MA.jpg)