Rabu, 13 Mei 2026

Opini

Bom Waktu MBG

ISTILAH “bom waktu MBG” mungkin terdengar provokatif, tetapi ia justru relevan untuk konteks hari ini. Dalam urusan pangan dan gizi

Tayang: | Diperbarui:
Editor: mufti
IST
Dr Fairus M Nur Ibrahim MA 

Fairus M Nur Ibrahim, Dosen Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry

ISTILAH “bom waktu MBG” mungkin terdengar provokatif, tetapi ia justru relevan untuk konteks hari ini. Dalam urusan pangan dan gizi, dampak paling serius memang tidak selalu meledak saat diasup di fase awal, tetapi tersembunyi dalam proses seiring berjalannya waktu.

Apalagi, saat ini Indonesia pun sedang menghadapi fakta pahit berupa semakin banyak anak sekolah dan remaja tanggung mengalami penyakit kronis yang dulu hampir mustahil terjadi pada usia muda: gagal ginjal, obesitas, diabetes, gangguan metabolik, hingga penyakit hati yang mulai muncul lebih dini. Penyebabnya jelas, yakni pola makan yang didominasi makanan ultra-proses, tinggi gula, garam, lemak, dan zat aditif.

MBG hadir dalam situasi genting seperti itu. Secara konsep, ia adalah kebijakan mulia dan sangat dibutuhkan selain sebagai realisasi janji politik Prabowo-Gibran dalam kontestasi kepemimpinan bangsa saat pemilu lalu.

Program Makan Bergizi Gratis alias MBG ini bukan sekadar program dalam aspek pendidikan atau kesehatan, tetapi kebijakan negara berbasis pangan, gizi, dan sumber daya manusia yang melibatkan aktor-aktor lintas level dan sektor. Melalui program ini, anak-anak dari keluarga rentan mendapatkan jaminan makan. 

Namun, karena berskala masif dan cakupannya pun nasional, MBG tidak boleh salah arah. Kesalahan kecil dalam standar menu, bahan baku, atau filosofi gizi, dampaknya bisa besar dan berjangka panjang sehingga di sinilah titik rawan yang membuat MBG potensial menjadi bom waktu.

Baca juga: REPUBLIK “TETAPI”

Potensi bom waktu

Reduksi makna gizi merupakan cikal-bakal bom waktu pertama yang potensial meledak. Jika gizi dipahami hanya sebatas angka kalori dan daftar zat gizi di atas kertas, maka makanan ultra-proses bisa dengan mudah lolos sebagai makanan “sangat layak konsumsi”. Nuget, sosis, mi instan, minuman berpemanis, atau produk fortifikasi sangat mungkin “terhitung” sebagai asupan yang mengandung protein, vitamin, atau mineral.

Padahal, tubuh anak bukan mesin akuntansi yang dapat dengan mudah menoleransi angka-angka. Ia merespons kualitas bahan, tingkat pemrosesan, dan keseimbangan alami nutrisi. Makanan yang terlalu sering diproses justru mengacaukan sistem metabolisme yang masih berkembang.

Banyak hasil riset tentang bahaya makanan pabrikan dan ultra-proses ini telah dipublikasi di banyak laporan penelitian, jurnal, bahkan media populer. Kita tinggal googling saja untuk memahaminya secara mendalam.

Bom waktu berikutnya adalah normalisasi rasa dan selera. Apa yang dimakan anak hari ini akan membentuk preferensi makannya di kemudian hari. Jika MBG membiasakan rasa gurih buatan, manis berlebih, dan tekstur instan, maka itulah standar yang akan mereka cari di masa depan.

Sayur segar terasa hambar, ikan terasa amis, makanan rumahan dianggap “tidak enak”. Ini bukan persoalan selera semata, tetapi investasi atau bahkan kegagalan, menanamkan budaya pangan bangsa dalam fase yang panjang.

Bom waktu ketiga adalah beban negara yang tertunda. Program MBG sering dipandang sebagai pengeluaran besar negara, apalagi konon saat Ramadhan pun tetap didistribusikan. Di sinilah, jika salah desain, MBG justru melipatgandakan beban fiskal di masa depan.

Anak-anak yang tumbuh dengan pola makan buruk berisiko menjadi warga negara dengan biaya kesehatan tinggi. Anggaran kesehatan akan terkuras untuk penyakit tidak menular yang seharusnya bisa dicegah sejak usia sekolah. Akhirnya, negara membayar dua kali: hari ini untuk makan, esok untuk obat-obatan.

Bom waktu selanjutnya adalah ilusi keberhasilan kebijakan. Secara administratif, MBG bisa dinilai sukses jika jutaan porsi tersalurkan, laporan rapi, foto-foto anak sekolah makan dari food tray (wadah) MBG tersebar di berbagai media.

Namun, kesehatan tentu saja tidak tunduk pada laporan tahunan pengelola dapur MBG, pidato Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), atau foto dan berita yang dirilis di media. Ia diuji oleh waktu. Tanpa indikator kualitas jangka panjang, status metabolik anak, kebiasaan makan, kesehatan ginjal dan organ lain, keberhasilan MBG bisa menjadi semu.

Kontrol sosial

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved