Kamis, 4 Juni 2026

Banda Aceh

Konferensi Internasional UIA DR3 2026 Ditutup, Pakar Dunia Belajar ke Aceh soal Ketahanan Bencana

Acara tersebut diinisiasi Organisasi Arsitek Dunia (UIA) melalui program kerja Natural and Human Disasters, bekerja sama dengan Ikatan Arsitek...

Tayang:
Penulis: Sara Masroni | Editor: Eddy Fitriadi
Serambinews.com/Sara Masroni
KONFERENSI - Ketua Penyelenggara DR3 Aceh 2026 sekaligus Ketua Region IV (Asia dan Oceania) UIA Natural and Human Disasters Work Programme, Aimee Roslan bersama para perwakilan UIA dan mitra foto bersama, usai penandatangan deklarasi sebagai tanda berakhirnya International Conference on Natural & Human Disaster 2026, Rethinking Architecture: Disaster Risk Reduction, Resilience & Recovery (DR3) di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh, Minggu (19/4/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Konferensi International Conference on Natural & Human Disaster 2026 resmi ditutup di Hermes Palace Hotel setelah berlangsung tiga hari.
  • Forum ini mempertemukan pakar dunia membahas pengurangan risiko, ketahanan, dan pemulihan pascabencana.
  • Hasilnya berupa rekomendasi global yang akan dibawa ke International Union of Architects untuk pengembangan lanjutan.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Sara Masroni | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Konferensi internasional tentang Bencana Alam dan Bencana Buatan Manusia bertajuk International Conference on Natural & Human Disaster 2026, Rethinking Architecture: Disaster Risk Reduction, Resilience & Recovery (DR3) yang digelar sejak 17 April lalu, resmi ditutup di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh, Minggu (19/4/2026). Acara tersebut diinisiasi Organisasi Arsitek Dunia (UIA) melalui program kerja Natural and Human Disasters, bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dan Arcasia Emergency Architects (AEA), serta didukung Kementerian Ekonomi Kreatif RI yang menghadirkan para pakar arsitektur dari berbagai negara.

Selama tiga hari, para peserta membahas strategi arsitektur dalam menghadapi risiko bencana, membangun ketahanan, serta merancang pemulihan pascabencana. Diskusi intensif berlangsung dalam bentuk seminar, lokakarya, hingga kunjungan lapangan ke lokasi yang pernah dilanda tragedi. Banda Aceh dipilih sebagai tuan rumah karena pengalaman panjangnya menghadapi bencana besar, sekaligus menjadi simbol ketangguhan masyarakat atau laboratorium hidup ketahanan bencana.

Ketua Penyelenggara DR3 Aceh 2026 sekaligus Ketua Region IV (Asia dan Oceania) UIA Natural and Human Disasters Work Programme, Aimee Roslan, menyampaikan konferensi ini menjadi ajang solidaritas internasional. Perwakilan dari berbagai organisasi arsitek dunia hadir, termasuk sejumlah universitas di Aceh memberikan dukungan akademis. Kehadiran tokoh-tokoh arsitektur lintas negara menegaskan pentingnya kolaborasi global dalam menghadapi ancaman bencana yang semakin kompleks.

“Selama tiga hari terakhir kita telah mendengar cerita kehilangan, penyelamatan, dan pembangunan. Kita berjalan di tanah di mana tragedi pernah terjadi, dan melihat bagaimana kesejahteraan bukan hanya konsep, tetapi adalah kebenaran,” ujar Aimee.

Baca juga: Arsitek Dunia Telusuri Jejak Tsunami di Banda Aceh

Ia juga mengisahkan tantangan besar yang dihadapi panitia dalam mempersiapkan konferensi ini. Meski demikian, semangat tim dan dukungan masyarakat Aceh membuat acara tetap terlaksana. “Keberanian orang-orang Aceh luar biasa. Mereka tetap tersenyum dan hidup seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. Dari sini saya belajar bahwa pemulihan bukanlah akhir penyelamatan, melainkan awal dari tanggung jawab baru,” tambahnya.

Pihaknya juga telah mendeklarasikan beberapa poin dalam rangkaian konferensi internasional yakni berkaitan pengurangan risiko, ketahanan dan pemulihan pasca-bencana. “Hasil dan rekomendasi dari konferensi internasional ini akan dibawa ke UIA untuk dikembangkan nantinya,” ucap Aimee.

Ia juga menyampaikan kekagumannya terhadap masyarakat Aceh, yang begitu antusias menyambut para pakar baik nasional maupun internasional, untuk bertukar pikiran dan transfer pengetahuan terkait arsitektur dan kebencanaan.

Kemudian Aimee bercerita, ada yang hadir dari Afrika dan berbagai negara, mereka banyak melakukan kajian akademik tentang Aceh, tetapi tidak pernah datang langsung ke sini. “Dengan adanya acara ini, menggerakkan hati mereka untuk datang pertama kalinya, walau sudah puluhan tahun mengetahui tentang Aceh,” ungkapnya.

Sementara Co-Director UIA Natural & Human Disasters Work Programme, Yolanda David-Reyes, turut memberikan apresiasi kepada seluruh peserta. “Terima kasih telah menjadi bagian dari konferensi ini. Mari kita tepuk tangan untuk semua pihak yang hadir dan mendukung, kehadiran Anda adalah bukti nyata komitmen terhadap ketahanan dan pemulihan,” tutupnya.

Kegiatan penutupan diakhiri dengan penandatangan deklarasi oleh Ketua Penyelenggara DR3 Aceh 2026 sekaligus Ketua Region IV (Asia dan Oceania) UIA Natural and Human Disasters Work Programme Aimee Roslan, Wakil Ketua Penyelenggara DR3 Aceh 2026 dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Aceh International Affairs Fitriyani Insanuri Qismullah, Co-Director UIA Natural & Human Disasters Work Programme Yolanda David-Reyes, perwakilan Arcasia Emergency Architects Tony Wong, Ketua Region V UIA Natural and Human Disasters Work Programme Batshetsi Kgamane, dan Ketua IAI Aceh Said Husain.(*)

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved