Selasa, 19 Mei 2026

Banjie Landa Aceh

Lima Bulan Pascabanjir Sawah di Aceh Utara Tak Tergarap, Kini Ditumbuhi Semak

“Untuk sawah di Meurah Mulia sangat dibutuhkan revitalisasi agar masyarakat bisa kembali bertani seperti biasa. Lumpur yang terbawa banjir sangat...

Tayang:
Penulis: Jafaruddin | Editor: Nurul Hayati
Serambinews.com/HO/Serambinews.co/HO
Areal persawahan di Kabupaten Aceh Utara hingga kini belum bisa digarap petani, setelah diterjang banjir pada November 2025. 

Ringkasan Berita:
  • Belasan ribu hektare sawah di Aceh Utara masih belum bisa digarap lima bulan pascabanjir November 2025.
  • Sawah yang sebelumnya produktif kini tertutup lumpur tebal dan berubah menjadi semak belukar, terutama di Kecamatan Meurah Mulia.
  • Tokoh pemuda setempat, Syibral Mulasi, menegaskan perlunya revitalisasi lahan agar petani bisa kembali bertani.
  • Akibat kondisi ini, petani terpaksa menunda masa tanam sehingga pendapatan mereka menurun drastis.

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin I Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON – Lima bulan setelah diterjang banjir pada November 2025, belasan ribu hektare areal persawahan di Kabupaten Aceh Utara hingga kini belum bisa digarap petani.

Lahan yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan petani kini berubah menjadi semak belukar, akibat tertutup lumpur tebal yang dibawa banjir.

Kondisi ini terlihat di sejumlah wilayah, termasuk di Kecamatan Meurah Mulia.

Sawah yang sebelumnya produktif kini terbengkalai karena tidak memungkinkan untuk ditanami kembali.

Tokoh Pemuda Kecamatan Meurah Mulia, Syibral Mulasi kepada Serambinews.com, Senin (27/4/2026), mengatakan bahwa para petani sangat membutuhkan langkah cepat dari pemerintah untuk melakukan revitalisasi lahan sawah yang terdampak.

“Untuk sawah di Meurah Mulia sangat dibutuhkan revitalisasi agar masyarakat bisa kembali bertani seperti biasa. Lumpur yang terbawa banjir sangat tebal, sehingga sawah tidak bisa difungsikan,” ujarnya.

Ia menyebutkan, pascabanjir, ratusan hektare sawah di wilayah tersebut tidak dapat digunakan.

Akibatnya, para petani terpaksa menunda masa tanam, yang berdampak langsung pada penurunan pendapatan mereka.

“Dampak banjir ini sangat terasa. Petani tidak bisa menanam, sehingga penghasilan menurun. Kami berharap pemerintah segera melakukan pembersihan lumpur agar sawah bisa kembali digarap,” tambahnya.

Baca juga: Rehab Sawah Terdampak Banjir di Aceh Utara Dimulai, Tahap Awal Sasar 1.093 Hektare

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Pangan Aceh Utara, total luas baku sawah di daerah tersebut mencapai 39.762 hektar.

Dari jumlah itu, sekitar 18.316 hektare atau 46 persen terdampak banjir.

Rinciannya, sawah dengan kategori rusak berat mencapai 4.679 hektare, rusak sedang 6.447 hektare, dan rusak ringan 7.189 hektare.

Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian di Aceh Utara.

Tanpa penanganan cepat, dikhawatirkan produksi pangan akan menurun dan berdampak pada ketahanan pangan daerah.

Masyarakat berharap adanya intervensi segera dari pemerintah, baik melalui program rehabilitasi maupun bantuan alat dan tenaga untuk membersihkan lahan, sehingga aktivitas pertanian dapat kembali normal dalam waktu dekat.(*)

 


 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved