Sabtu, 2 Mei 2026

Opini

Pendidikan dan Krisis Karakter, Refleksi Hardiknas 2026

Lebih mengkhawatirkan lagi, krisis pendidikan hari ini bukan semata-mata soal rendahnya kemampuan akademik.

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/HO
Dr. Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc, Dosen Universitas Syiah Kuala, Ketua Pemuda ICMI Aceh, dan Pengurus PISPI Aceh. 

Kini, dengan hadirnya kecerdasan buatan, tantangan etika pendidikan menjadi semakin kompleks. Banyak pelajar tergoda menggunakan teknologi bukan sebagai alat belajar, melainkan jalan pintas memperoleh nilai tinggi tanpa proses berpikir yang sehat. Pendidikan akhirnya hanya mengejar hasil, bukan pembentukan karakter dan integritas.

Belum lagi persoalan tawuran pelajar yang masih terjadi di berbagai kota besar. Anak-anak usia sekolah yang seharusnya sibuk menimba ilmu justru terlibat kekerasan jalanan yang membahayakan nyawa.

Ini bukan sekadar kenakalan remaja biasa, tetapi alarm keras bahwa pendidikan kita belum sepenuhnya berhasil membangun kedewasaan emosional dan kemampuan menyelesaikan konflik secara bermartabat.

Kita tentu tidak anti teknologi. Dunia memang sedang bergerak menuju era kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Kehadiran AI membuka peluang besar untuk pemerataan akses belajar, efisiensi administrasi guru, hingga personalisasi pembelajaran.

Namun teknologi hanyalah alat, bukan tujuan utama pendidikan. Sebagus apa pun perangkat digital yang digunakan di sekolah, ia tidak akan mampu menggantikan keteladanan seorang guru.

Sebanyak apa pun informasi tersedia di internet, ia tidak otomatis melahirkan manusia berkarakter. Pendidikan tetap membutuhkan sentuhan kemanusiaan, yakni kasih sayang, keteladanan, dialog, dan pembiasaan nilai.

Di sinilah letak tantangan terbesar pendidikan Indonesia hari ini. Kita terlalu sibuk mengejar modernisasi, tetapi sering lupa membangun fondasi moral. Kita bangga pada digitalisasi sekolah, tetapi lalai memastikan peserta didik memiliki kecakapan etika digital. Kita mengejar angka kelulusan, tetapi kurang serius membentuk integritas.

Padahal, sejarah menunjukkan bahwa bangsa besar tidak hanya dibangun oleh manusia cerdas, tetapi oleh manusia berkarakter. Jepang bangkit pasca perang bukan semata karena teknologi, melainkan karena budaya disiplin dan etos kerja.

Korea Selatan maju bukan hanya karena inovasi, tetapi karena konsistensi membangun kualitas sumber daya manusia. Pendidikan mereka berhasil menanamkan nilai, bukan sekadar pengetahuan.

Indonesia seharusnya belajar dari pengalaman tersebut. Pendidikan nasional tidak boleh hanya berorientasi pada capaian administratif dan proyek jangka pendek. Pendidikan harus kembali pada tujuan utamanya yaitu membentuk manusia Indonesia yang berilmu, berakhlak, kreatif, dan bertanggung jawab terhadap bangsanya.

Karena itu, ada beberapa langkah konstruktif yang perlu menjadi perhatian bersama. Pertama, penguatan karakter harus menjadi arus utama pendidikan. Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan melalui slogan atau mata pelajaran formal.

Ia harus hadir dalam budaya sekolah. Guru harus menjadi teladan integritas, kepala sekolah harus menjadi simbol kepemimpinan moral, dan lingkungan pendidikan harus menghadirkan suasana yang menghargai kejujuran, kerja keras, dan empati.

Kedua, peningkatan kualitas guru harus menjadi prioritas nasional. Guru adalah jantung pendidikan. Namun hingga kini, masih banyak guru menghadapi keterbatasan pelatihan, beban administrasi berlebihan, dan ketimpangan fasilitas, terutama di daerah terpencil.

Transformasi pendidikan tidak akan berhasil tanpa transformasi kualitas guru. Negara harus lebih serius memperkuat kapasitas pedagogik, literasi digital, dan kesejahteraan tenaga pendidik.

Ketiga, pemerataan pendidikan harus menjadi agenda nyata, bukan sekadar retorika. Ketimpangan pendidikan antara kota dan daerah masih sangat terasa.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved