Kamis, 7 Mei 2026

Berita Banda Aceh

PT GLEH Launching Insinerator Limbah B3 Medis, Proyeksi Raup PAD Rp 70 Miliar Per Tahun

Fasilitas ini diproyeksikan menambah PAD Aceh hingga Rp 50–70 miliar per tahun, sekaligus menekan biaya pengiriman limbah ke luar provinsi.

Tayang:
Penulis: Sara Masroni | Editor: Saifullah
Serambinews.com/Sara Masroni
LAUNCHING MESIN INSINERATOR - Direktur PT GLEH, T Emi Syamsyumi atau akrab disapa Abu Salam bersama Komisaris PT GLEH, Sunnyl Ikbal, dan tim, saat peresmian pengoperasian mesin insinerator limbah B3 medis di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh, Kamis (7/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • PT Garda Lestari Ekologi Hutama (GLEH) meresmikan insinerator limbah B3 medis di TPA Blang Bintang, Aceh Besar, sebagai langkah strategis mengelola limbah dalam daerah.
  • Fasilitas ini diproyeksikan menambah PAD Aceh hingga Rp 50–70 miliar per tahun, sekaligus menekan biaya pengiriman limbah ke luar provinsi.
  • Selain itu, pembangunan pusat pengolahan limbah terpadu di Ladong diyakini mampu menyerap tenaga kerja lokal dan mengurangi pengangguran.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Sara Masroni | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - PT Garda Lestari Ekologi Hutama (GLEH) meresmikan pengoperasian perdana Mesin Insinerator Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Medis di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Blang Bintang, Aceh Besar. 

Prosesi peresmian berlangsung di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh, Kamis (7/5/2026).

Direktur PT GLEH, T Emi Syamsyumi atau akrab disapa Abu Salam menyampaikan, fasilitas ini menjadi langkah strategis untuk memutus rantai pengiriman limbah medis ke luar Aceh.

Sekaligus potensi menambah pendapatan asli daerah (PAD) yang diproyeksi bernilai puluhan miliar rupiah.

Ia juga mengkalkulasikan pendapatan bisa diraup bila seluruh limbah B3 dari 86 rumah sakit di seluruh Aceh dapat dikelola secara mandiri dalam daerah. 

“Potensi PAD bisa mencapai Rp 50-70 miliar per tahun bisa didapatkan oleh Aceh sendiri, namun itu tidak ada. Makanya itu kita upayakan dan hari ini terwujud,” ujar Abu Salam.

Baca juga: Pembuangan Limbah Medis B3 RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang Ditangani Rekanan

Dikatakan dia, selama bertahun-tahun, limbah medis dari fasilitas kesehatan di Aceh selalu dikirim ke Medan, Sumatera Utara, hingga Pulau Jawa untuk dimusnahkan. 

Kondisi ini dinilai menjadi ironi karena menghilangkan potensi perputaran ekonomi yang seharusnya bisa dimanfaatkan oleh daerah.

Berdasarkan data yang dipaparkan, sekitar 86 rumah sakit yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Aceh, volume limbah B3 yang dihasilkan diperkirakan mencapai 11 hingga 15 ton setiap harinya, atau menyentuh angka 4.000 ton per tahun.

Mesin insinerator PT GLEH yang saat ini beroperasi baru memiliki kapasitas awal sekitar 6 ton per hari. 

Namun, kapasitas tersebut akan terus ditingkatkan secara bertahap melalui pembangunan fasilitas tambahan.

Untuk mendukung ekspansi tersebut, PT GLEH telah menyewa lahan milik pemerintah di kawasan Ladong, Aceh Besar. 

Lahan ini diproyeksikan menjadi pusat fasilitas pengolahan limbah terpadu dari hulu ke hilir, dengan masa pembangunan memakan waktu 12 hingga 18 bulan ke depan.

Baca juga: DLHK Aceh Besar Dorong Fasyankes Tertib Kelola Limbah B3

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved