Sabtu, 9 Mei 2026

Berita Banda Aceh

Keuangan RSUZA Tidak Sehat, Utang Membengkak Rp 392 Miliar 

"Kita punya beban utang cukup besar. Ini menyangkut manajemen. Terhadap beban yang sudah ada, bagaimana menutupinya?" kata anggota Pansus

Tayang:
Penulis: Rianza Alfandi | Editor: Faisal Zamzami
SERAMBINEWS.COM/ M ANSHAR
PERIKSA RSUDZA - Tim Pansus LKPJ DPRA yang dipimpin Wakil Ketua Pansus DPRA, Ilmiza Sa'aduddin Djamal memeriksa kondisi ruangan RSUDZA dalam rangka menindaklanjuti LKPJ Gubernur Aceh Tahun Anggaran 2025, Jumat (8/5/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Kondisi keuangan Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUDZA) sedang tidak sehat. Rumah sakit pelat merah itu kini mengalami pembengkakan utang sebesar Rp 392 miliar sejak 2023.
  • Beban utang ini paling besar berasal dari pembelian obat-obatan, konsumsi pasien, dan termasuk biaya pembelian BBM jenis Solar sebesar Rp 2 miliar kepada Pertamina saat terjadi pemadaman listrik ketika banjir November 2025 lalu.
  • Hal ini terungkap dalam pertemuan antara Tim Pansus LKPJ DPRA dengan manajemen RSUDZA

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Rianza Alfandi | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Kondisi keuangan Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUDZA) sedang tidak sehat. Rumah sakit pelat merah itu kini mengalami pembengkakan utang sebesar Rp 392 miliar sejak 2023.

Beban utang ini paling besar berasal dari pembelian obat-obatan, konsumsi pasien, dan termasuk biaya pembelian BBM jenis Solar sebesar Rp 2 miliar kepada Pertamina saat terjadi pemadaman listrik ketika banjir November 2025 lalu.

Hal ini terungkap dalam pertemuan antara Tim Pansus LKPJ DPRA dengan manajemen RSUDZA,  di rumah sakit tersebut, Jumat (8/5/2026).

Dalam kunjungan itu, rombongan Tim Pansus LKPJ dipimpin oleh Wakil Ketua Pansus Ilmiza Sa'aduddin Djamal bersama Sekretaris Pansus, Khalid.

"Kita punya beban utang cukup besar. Ini menyangkut manajemen. Terhadap beban yang sudah ada, bagaimana menutupinya?" kata anggota Pansus LKPJ, Fuadri. 

Baca juga: Pansus DPRA Sorot Persoalan Pelayanan RSUDZA, Singgung Soal Utang dan Ketersediaan Obat


"Kami berharap angka 392 ini bisa hilang. Bagaimana caranya. Atau skema apa yang bapak direktur punya untuk menghilangkan angka ini," tambah politisi PAN ini.

Ia menyatakan bahwa kondisi ini menimbulkan keresehan di masyarakat mengingat RSUDZA merupakan rumah sakit rujukan dari daerah.

"Ini menjadi sebuah keresahan. Bagaimana nasib pelayanan. Ini akan menjadi bom waktu. Ketika dilayani di rumah sakit, obat kadang-kadang ada, kadang-kadang tidak ada," ujarnya.

Sebelumnya, anggota Pansus lainnya, Munawar Ngoh Wan juga menyorot dan mempertanyakan utang rumah sakit milik Pemerintah Aceh itu.

"Informasi yang kami peroleh saat raker, cash flow terjadi disektor obat-obatan dan bahan habis pakai medis, ini sangat berbahaya," kata Ngoh Wan.

Menurut dia, kondisi finansial yang tidak stabil dapat berdampak langsung pada operasional dan keselamatan pasien.

"Kita berharap Pemerintah Aceh segera mengambil langkah cepat dang kongkret untuk menyelesaikan masalah ini," kata Munawar. 

Baca juga: Tim Pansus LKPJ DPRA Periksa Layanan Kesehatan & Realisasi Keuangan RSUDZA


Utang Diselasaikan Bertahap

Menanggapi persoalan ini, Direktur RSUDZA, dr Muhazar, tidak membantah bahwa rumah sakit tersebut sedang menanggung beban utang yang mencapai ratusan miliar.

Muhazar mengaku akan melakukan pelunasan secara bertahap dan memastikan tidak akan menambah utang di tahun ini.

Tak hanya itu, pihaknya juga mengupayakan pelunasan utang melalui dukungan dari pemerintah daerah dan pusat.

“Mengenai utang, tahun ini insyaallah kita tidak ada utang. Kita akan membayar bertahap utang tahun sebelumnya, tahun 2025, pada saat ada sisa lebih,” ujarnya.

“Dan kita upayakan nanti Pemda atau Pusat akan mengalokasikan dana memang khusus untuk pembayaran utang,” lanjut dia.

Lebih lanjut, Wakil Direktur Administrasi dan Umum RSUDZA, Teuku Hendra Faisal, mengaku beban utang Rp392 miliar tersebut sedang tahap pemeriksaan oleh Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) dan Inspektorat.

“Beban utang memang benar kami akui Rp392 miliar itu nilai konsolidasi utang yang disampaikan oleh APIP Inspektorat kepada kami. Ini sudah ada pemeriksaan APIP Inspektorat, ini sudah masuk tahap kedua selama 12 hari. Mungkin mereka akan selesai di tanggal 14 Mei nantinya,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Direktur Pengembangan Sumber Daya Manusia RSUDZA, dr Arifatul Khoirida menambahkan, bahwa rumah sakit juga berutang pada Pertamina pada saat bencana di akhir tahun 2025 lalu.

"Kita mengabiskan anggaran untuk BBM solar saat bencana banjir dulu. Setelah 15 hari genset kita hidup nonstop. Pada hari terakhir hanya menyala 5 jam," ujarnya.

"Setelah itu kita terhubung dengan Pertamina, kita mendapat ketersediaan solar. Biayanya 2 miliar dan ditanggung rumah sakit. Sekarang masih terutang," tutupnya.

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved