Berita Banda Aceh
Keuangan RSUZA Tidak Sehat, Utang Membengkak Rp 392 Miliar
"Kita punya beban utang cukup besar. Ini menyangkut manajemen. Terhadap beban yang sudah ada, bagaimana menutupinya?" kata anggota Pansus
Penulis: Rianza Alfandi | Editor: Faisal Zamzami
Ringkasan Berita:
- Kondisi keuangan Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUDZA) sedang tidak sehat. Rumah sakit pelat merah itu kini mengalami pembengkakan utang sebesar Rp 392 miliar sejak 2023.
- Beban utang ini paling besar berasal dari pembelian obat-obatan, konsumsi pasien, dan termasuk biaya pembelian BBM jenis Solar sebesar Rp 2 miliar kepada Pertamina saat terjadi pemadaman listrik ketika banjir November 2025 lalu.
- Hal ini terungkap dalam pertemuan antara Tim Pansus LKPJ DPRA dengan manajemen RSUDZA
Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Rianza Alfandi | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Kondisi keuangan Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUDZA) sedang tidak sehat. Rumah sakit pelat merah itu kini mengalami pembengkakan utang sebesar Rp 392 miliar sejak 2023.
Beban utang ini paling besar berasal dari pembelian obat-obatan, konsumsi pasien, dan termasuk biaya pembelian BBM jenis Solar sebesar Rp 2 miliar kepada Pertamina saat terjadi pemadaman listrik ketika banjir November 2025 lalu.
Hal ini terungkap dalam pertemuan antara Tim Pansus LKPJ DPRA dengan manajemen RSUDZA, di rumah sakit tersebut, Jumat (8/5/2026).
Dalam kunjungan itu, rombongan Tim Pansus LKPJ dipimpin oleh Wakil Ketua Pansus Ilmiza Sa'aduddin Djamal bersama Sekretaris Pansus, Khalid.
"Kita punya beban utang cukup besar. Ini menyangkut manajemen. Terhadap beban yang sudah ada, bagaimana menutupinya?" kata anggota Pansus LKPJ, Fuadri.
Baca juga: Pansus DPRA Sorot Persoalan Pelayanan RSUDZA, Singgung Soal Utang dan Ketersediaan Obat
"Kami berharap angka 392 ini bisa hilang. Bagaimana caranya. Atau skema apa yang bapak direktur punya untuk menghilangkan angka ini," tambah politisi PAN ini.
Ia menyatakan bahwa kondisi ini menimbulkan keresehan di masyarakat mengingat RSUDZA merupakan rumah sakit rujukan dari daerah.
"Ini menjadi sebuah keresahan. Bagaimana nasib pelayanan. Ini akan menjadi bom waktu. Ketika dilayani di rumah sakit, obat kadang-kadang ada, kadang-kadang tidak ada," ujarnya.
Sebelumnya, anggota Pansus lainnya, Munawar Ngoh Wan juga menyorot dan mempertanyakan utang rumah sakit milik Pemerintah Aceh itu.
"Informasi yang kami peroleh saat raker, cash flow terjadi disektor obat-obatan dan bahan habis pakai medis, ini sangat berbahaya," kata Ngoh Wan.
Menurut dia, kondisi finansial yang tidak stabil dapat berdampak langsung pada operasional dan keselamatan pasien.
"Kita berharap Pemerintah Aceh segera mengambil langkah cepat dang kongkret untuk menyelesaikan masalah ini," kata Munawar.
Baca juga: Tim Pansus LKPJ DPRA Periksa Layanan Kesehatan & Realisasi Keuangan RSUDZA
Utang Diselasaikan Bertahap
| PPDI Sebut Banyak Penyandang Disabilitas Masuk Desil 5-8, Dorong Pemerintah Mutakhirkan Data |
|
|---|
| Pansus DPRA Sorot Persoalan Pelayanan RSUDZA, Singgung Soal Utang dan Ketersediaan Obat |
|
|---|
| PT PEMA Perluas Bisnis melalui Investasi Jaringan Telekomunikasi |
|
|---|
| BPOM Audit Izin Penerapan CPOB pada Rumah Pangan Olahan di Banda Aceh |
|
|---|
| Rutan Banda Aceh Tes Urine Tahanan, Pastikan Bebas Narkoba dan HP Ilegal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Tim-Pansus-LKPJ-DPRA-memeriksa-kondisi-ruangan-RSUDZA.jpg)