Selasa, 12 Mei 2026

Berita Abdya

Buka GPBLHS Adiwiyata, Plt Sekda Abdya Harap Sekolah Jadi Contoh Gerakan Peduli Lingkungan 

Kegiatan itu diikuti oleh para kepala sekolah, madrasah, Dinas Pendidikan, Cabdisdik, dan pengawas sekolah

Tayang:
Penulis: Masrian Mizani | Editor: Subur Dani
SERAMBINEWS.COM/MASRIAN MIZANI
PEDULI LINGKUNGAN - Pelaksana tugas Sekretaris Daerah (Plt Sekda) Aceh Barat Daya (Abdya) membuka Sosialisasi Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (GPBLHS) - Adiwiyata tahun 2026, di aula Hotel Leuser, Blangpidie, Selasa (12/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Plt Sekda Aceh Barat Daya, Amrizal, membuka Sosialisasi Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (GPBLHS) Adiwiyata 2026.
  • Ia menegaskan bahwa isu lingkungan kini menjadi persoalan utama pembangunan, sehingga sekolah harus menjadi pusat pembentukan budaya peduli lingkungan.
  • Amrizal menekankan bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga wadah membentuk karakter dan kesadaran ekologis. 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Masrian Mizani I Aceh Barat Daya 

SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Pelaksana tugas Sekretaris Daerah (Plt Sekda) Aceh Barat Daya (Abdya) resmi membuka Sosialisasi Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (GPBLHS) - Adiwiyata tahun 2026.

Kegiatan yang diikuti oleh para kepala sekolah, madrasah, Dinas Pendidikan, Cabdisdik, dan pengawas sekolah itu, dilaksanakan di aula Hotel Leuser, Blangpidie, Selasa (12/5/2026).

Plt Sekda Abdya Amrizal dalam sambutannya menyampaikan bahwa lingkungan hidup hari ini bukan lagi sekedar isu pelengkap dalam pembangunan. 

Baca juga: VIDEO - Aliansi Rakyat Aceh Dirikan Posko Perjuangan di Kantor Gubernur, Pergub JKA Belum Dicabut

Menurutnya, lingkungan telah menjadi persoalan utama yang menentukan kualitas hidup masyarakat, keberlanjutan ekonomi, bahkan masa depan generasi yang akan datang. 

"Kita menyaksikan sendiri bagaimana perubahan iklim, kerusakan ekosistem, persoalan sampah, pencemaran air, hingga berkurangnya kawasan hijau menjadi tantangan nyata yang harus dijawab bersama," ucapnya.

Karena itu, kata Amrizal, pemerintah tidak cukup hanya membangun infrastruktur fisik, tapi juga harus membangun kesadaran, budaya, dan karakter masyarakat yang mencintai lingkungannya.

Dan tempat terbaik untuk memulai semuanya adalah sekolah.

Menurut Amrizal, sekolah bukan hanya ruang belajar membaca dan berhitung, tetapi adalah tempat membentuk cara berpikir, bersikap, dan memandang kehidupan. 

Baca juga: Bukan Saat Pemilu Saja, KIP Banda Aceh Rutin Perbarui Data Pemilih

"Ketika anak-anak sejak dini dibiasakan menjaga kebersihan, menghemat energi, mencintai tumbuhan, mengelola sampah, dan memahami pentingnya keseimbangan alam, maka sejatinya kita sedang menanam investasi peradaban untuk masa depan daerah ini," ungkap Amrizal.

Ia memandang Program Adiwiyata bukan sekedar seremonial atau perlombaan mendapatkan penghargaan. Lebih dari itu, Adiwiyata adalah gerakan moral dan gerakan pendidikan karakter yang harus hidup dalam keseharian sekolah.

Baca juga: CJH Asal Lhokseumawe Bertambah Jadi 140 Orang, Ini Jadwal Keberangkatan

Pelaksanaan kegiatan ini memiliki dasar regulasi yang sangat kuat.

Pemerintah Republik Indonesia telah menetapkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Program Adiwiyata sebagai pedoman dalam membangun sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan hidup.

"Artinya, menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau dinas tertentu semata, tetapi merupakan tanggung jawab bersama, termasuk dunia pendidikan," ucapnya.

Bahkan, tambahnya, dalam konteks pembangunan daerah, isu lingkungan telah menjadi bagian penting dari agenda pembangunan berkelanjutan yang harus  dilaksanakan secara konsisten.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved