Selasa, 19 Mei 2026

Berita Nagan Raya

APEL Green Aceh Putar Film Dokumenter "Pawang Uteun Beutong Ateuh" di Nagan Raya

“Inilah tanah Beutong, tanah nenek moyang kami yang diwariskan kepada kami,” ungkap Makwod, pemain film tersebut yang merupakan wanita asal...

Tayang:
Penulis: Rizwan | Editor: Nurul Hayati
Serambinews.com/HO/Dok APEL Green Aceh
Pemutaran film dokumenter Pawang Uteun Beutong Ateuh di Nagan Raya. 

Ringkasan Berita:
  • APEL Green Aceh bersama Selamatkan Hutan Hujan akan memutar film dokumenter Pawang Uteun Beutong Ateuh pada Selasa, 19 Mei 2026 malam di aula hotel setempat.
  • Film ini merekam suara warga adat Beutong Ateuh di pedalaman Nagan Raya yang menyoroti: kerusakan hutan, makna hutan,ancaman deforestasi.
  • Program adat Pawang Uteun menjadi sistem penjagaan hutan berbasis masyarakat.
  • Banjir bandang dan longsor akhir November 2025 menghancurkan permukiman, merusak sungai, dan menimbulkan krisis air bersih. 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Rizwan I Nagan Raya

SERAMBINEWS.COM, SUKA MAKMUE - APEL Green Aceh memutarkan film dokumenter pawang uteun yang akan berlangsung Selasa, 19 Mei 2026 sekitar pukul 20.00 WIB di sebuah aula hotel terbesar di Kecamatan Kuala.

Film dokumenter tersebut menceritakan terkait masyarakat Beutong Ateuh bersuara daerah pedalaman di Nagan Raya itu lewat film pawang uteun.

Film dokumenter Pawang Uteun Beutong Ateuh yakni suara tentang sungai yang mulai menyusut, udara yang semakin panas, hingga banjir dan longsor yang datang membawa lumpur ke permukiman warga.

Bagi masyarakat adat Beutong Ateuh, hutan bukan sekadar bentang alam hijau, tetapi hutan adalah sumber kehidupan, ruang budaya, sekaligus warisan leluhur yang harus dijaga untuk generasi mendatang.

Pesan itu menjadi inti film dokumenter Pawang Uteun Beutong Ateuh yang diproduksi oleh APEL Green Aceh bersama Selamatkan Hutan Hujan.

Film ini merekam suara masyarakat adat yang selama bertahun-tahun menjaga kawasan hutan di antara dua bentang ekologis penting Aceh yakni ekosistem leuser dan ekosistem ulu masen.

“Inilah tanah Beutong, tanah nenek moyang kami yang diwariskan kepada kami,” ungkap Makwod, pemain film tersebut yang merupakan wanita asal Beutong Ateuh.

Baca juga: Ketua Komisi II DPRK Nagan Minta Gubernur Aceh Mualem tak Paksakan Kehendak Terkait JKA

Di kawasan yang masih memiliki tutupan hutan itu, masyarakat menggantungkan hidup dari hasil alam seperti kopi, kemiri, pinang, kakao, rotan, hingga tanaman obat. Bagi warga, kelestarian hutan menentukan keberlangsungan hidup masyarakat.

“Kenapa kami menjaga hutan? Karena satu pohon saja ditebang, berapa banyak oksigen yang hilang di bumi ini,” ujar Makwod.

Bagi masyarakat Beutong Ateuh, menjaga hutan juga berarti menjaga sumber air dan melindungi kampung dari ancaman bencana.

Kekhawatiran itu semakin besar, setelah kawasan tersebut diterjang banjir bandang dan longsor pada akhir November 2025.

Bencana itu menghancurkan permukiman warga, merusak aliran sungai, dan menyebabkan krisis air bersih di sejumlah titik pengungsian.

Warga menilai kerusakan hutan menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko bencana di kawasan tersebut.

“Masyarakat Beutong sekarang sudah merasakan panas yang luar biasa. Air sungai juga semakin menyusut setelah banjir,” ujar Tgk Diwa, sebagai Pawang Uteun dalam dokumenter itu.

Isu Dalam Film

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved