Selasa, 19 Mei 2026

Opini

Jejak Dolar di Rak Warung Kelontong

Mari kita bongkar dari jantung produksi perdesaan kita. Lahan-lahan pertanian yang menjadi urat nadi gampong sejatinya tidak pernah bernapas secara

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/HO
Fahmi Prayoga adalah Economist, Public Policy Analyst, and Researcher of SmartID. 

Bahan baku kebutuhan pokok tersebut, seperti gandum untuk mi instan atau kedelai untuk tahu tempe, sangat bergantung pada impor. Kenaikan harga pangan global akibat pelemahan rupiah di pelabuhan akan menjalar dengan cepat ke pasar-pasar tradisional. 

Akibatnya, rakyat di gampong secara tidak langsung dipaksa mensubsidi pelemahan kurs makro melalui penurunan daya beli mereka. Mereka membayar semacam "pajak tersembunyi" dari menguatnya dolar pada setiap liter minyak goreng yang dibeli.

Inilah mengapa harga barang di keude tetap melambung tinggi meski masyarakat desa tidak pernah melakukan transaksi langsung dengan luar negeri. Dolar menyusup ke dapur-dapur mereka lewat mekanisme pasar yang tidak mengenal batas wilayah.

Mengobati Akar, Bukan Gejala

Menghadapi patologi makroekonomi ini, sekadar melempar retorika populis ibarat memberi obat penahan sakit pada pasien infeksi; gejalanya mungkin mereda sesaat dan membuat kita merasa tenang, padahal akar penyakitnya terus menggerogoti.

Di sinilah letak ujian sebenarnya bagi pemerintah daerah. Kita tidak bisa lagi menunda pekerjaan rumah yang paling esensial, yakni transformasi ekonomi. Kebiasaan lama yang berpuas diri hanya dengan mengekspor bahan mentah, entah itu biji kopi hijau, pinang, atau nilam kasar, harus diakhiri. D

aerah harus mulai memetakan sektor unggulannya secara presisi, memastikan transisi yang jelas agar "pemberian alam" yang berupa keunggulan komparatif bisa diubah menjadi keunggulan kompetitif melalui industri pengolahan di tingkat lokal.

Kehadiran program subsidi atau pembentukan koperasi di hilir memang penting, layaknya payung saat hujan turun. Namun, kita harus sadar bahwa payung tidak akan pernah bisa menghentikan badai. Kedaulatan ekonomi gampong yang sejati baru akan terwujud ketika daerah mampu mengolah kekayaannya dan menahan nilai tambah agar tetap berputar di halamannya sendiri.

Pada akhirnya, kita memang tidak punya kuasa untuk mencegah grafik dolar bergejolak di layar para pialang Wall Street. Akan tetapi, melalui transformasi struktural yang nyata, kita bisa memastikan fondasi ekonomi di meja keude kopi dan petak sawah kita dibangun dengan kokoh, sehingga tidak lagi mudah meriang setiap kali valuta asing sedang bersin.(*)

*) PENULIS adalah Economist, Public Policy Analyst, and Researcher of SmartID.

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved