Opini
Mahalnya Ongkos Sosial Haji dan Umrah
Keluarga, tetangga, sahabat, hingga masyarakat sekitar datang memberi restu kepada jamaah yang akan berangkat ke Tanah Suci.
Setelah menjalani ibadah yang menguras tenaga dan fisik, sebagian jamaah justru tidak memiliki cukup waktu untuk beristirahat karena harus terus menunggu, menerima tamu, dan melayani berbagai rombongan yang datang bersilaturahmi.
Ironisnya, perjalanan spiritual yang seharusnya menghadirkan ketenangan perlahan berubah menjadi aktivitas sosial yang melelahkan.
Jamaah yang baru pulang dari ibadah haji atau umrah kadang lebih sibuk mengurus tamu dibanding menikmati ketenangan spiritual setelah kembali dari Tanah Suci.
Bahkan ada yang mengaku lebih lelah menghadapi agenda sosial sepulang ibadah dibanding saat menjalani rangkaian ibadah itu sendiri.
Di sisi lain, banyak jamaah juga disibukkan dengan urusan oleh-oleh.
Sebelum berangkat, sebagian sudah mulai memikirkan daftar titipan, jumlah sajadah Arab yang harus dibeli, mukena yang harus dibagikan, parfum, tasbih, hingga berbagai kenang-kenangan untuk keluarga dan tamu peusijuek.
Bahkan, karena keterbatasan kapasitas bagasi pesawat, tidak sedikit jamaah yang akhirnya membeli oleh-oleh khas Arab di toko penyedia oleh-oleh Arab di Aceh setelah pulang dari Tanah Suci.
Fenomena ini menunjukkan bahwa yang kerap dijaga bukan lagi semata kebutuhan ibadah, melainkan juga ekspektasi sosial masyarakat.
Di tengah masyarakat, ada semacam kewajiban tidak tertulis bahwa jamaah yang pulang dari haji atau umrah harus membawa oleh-oleh dalam jumlah tertentu.
ika tidak, muncul rasa tidak enak atau kekhawatiran dianggap tidak menghargai orang yang datang saat peusijuek.
Akibatnya, sebagian jamaah lebih sibuk memikirkan oleh-oleh dibanding mempersiapkan ketenangan hati dan kekhusyukan ibadahnya.
Mungkin bagi jamaah yang memiliki kemampuan ekonomi kuat, keadaan ini tidak menjadi persoalan besar. Mereka bisa menikmati suasana sosial tersebut tanpa tekanan berarti.
Namun bagi masyarakat ekonomi sederhana, kondisi tersebut sering berubah menjadi tekanan yang diam-diam memberatkan.
Ada keluarga yang harus menguras tabungan, meminjam uang, bahkan menjual sebidang tanah warisan demi memenuhi biaya kenduri, peusijuek, dan berbagai kebutuhan sosial lainnya.
Yang lebih menyedihkan, ada sebagian orang yang menunda keberangkatan umrah bukan karena biaya ibadahnya belum cukup, melainkan karena belum memiliki cukup uang untuk memenuhi berbagai biaya sosial setelah pulang nanti.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Banta-Diman-09ikl.jpg)