Berita Banda Aceh
21 Profesor FKIP USK Bedah Masa Depan Pendidikan Aceh, Kadisdik Soroti Minimnya Peran Intelektual
“Sekarang, semua sekolah bangga kalau nilai kognitif bagus, tapi pencapaian afektif atau sikap justru mulai terabaikan,” kata Murthalamuddin.
Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Faisal Zamzami
Ringkasan Berita:
- Dinas Pendidikan Aceh bersama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala (FKIP USK) menggelar forum “Profesor Bicara Pendidikan Aceh” di Aula Dinas Pendidikan Aceh, Selasa (19/5/2026).
- Forum itu menjadi ruang diskusi antara Disdik Aceh dan kalangan akademisi untuk membahas arah pendidikan Aceh menuju 2045.
- Murthalamuddin mengatakan kondisi pendidikan Aceh tidak cukup hanya mengejar capaian akademik, tapi harus diarahkan untuk membentuk karakter dan cara berpikir generasi muda
Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Yarmen Dinamika | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Dinas Pendidikan Aceh bersama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala (FKIP USK) menggelar forum “Profesor Bicara Pendidikan Aceh” di Aula Dinas Pendidikan Aceh, Selasa (19/5/2026).
Forum itu menjadi ruang diskusi antara Disdik Aceh dan kalangan akademisi untuk membahas arah pendidikan Aceh menuju 2045.
Kegiatan dibuka Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin MSP. Hadir Plh Dekan FKIP USK, mantan dekan Prof Dr Djufri MSi, Ketua Senat FKIP USK Prof Dr Mohd. Harun MPd, Koordinator Dewan Profesor FKIP USK, Prof Dr Saminan, belasan profesor FKIP USK lainnya, serta anggota DPRA dari Komisi VI.
Hadir pula para kepala cabang dinas pendidikan kabupaten/kota se-Aceh dan para kepala SMA dan SMK se-Kota Banda Aceh.
Dalam sambutannya, Murthalamuddin berbicara mengenai kondisi pendidikan Aceh yang menurutnya tidak cukup hanya mengejar capaian akademik semata. Ia menilai pendidikan harus kembali diarahkan untuk membentuk karakter dan cara berpikir generasi muda.
“Sekarang, semua sekolah bangga kalau nilai kognitif bagus, tapi pencapaian afektif atau sikap justru mulai terabaikan,” kata Murthalamuddin.
Ia juga menyoroti minimnya keterlibatan kaum intelektual di ruang publik. Menurutnya, para akademisi perlu hadir memberi pencerahan melalui media sosial, media massa, maupun forum masyarakat agar masyarakat tidak dipenuhi informasi yang menyesatkan.
Murthalamuddin mengaku prihatin karena ruang-ruang publik saat ini lebih banyak dipenuhi narasi yang tidak rasional dibanding pandangan ilmiah dari kalangan kampus.
“Saya hampir tidak lagi melihat tulisan-tulisan intelektual di media mainstream maupun media sosial. Padahal, masyarakat membutuhkan pandangan yang mencerahkan,” ujarnya.
Baca juga: Unimal Jalani Surveillance Audit ISO, Perkuat Mutu Pendidikan Tinggi
Murthala menekankan bahwa pendidikan tidak boleh sekadar menghasilkan lulusan dengan nilai tinggi, tetapi juga manusia yang memiliki empati, karakter, dan kemampuan berpikir sehat di tengah perubahan sosial yang cepat.
Sementara itu, Prof Saminan menegaskan pentingnya membangun grand design pendidikan Aceh yang terintegrasi dari tingkat dasar hingga menengah sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Ia turut menyoroti pentingnya penguatan bahasa Aceh di sekolah supaya bahasa ini tidak punah.
Menurutnya, pelestarian bahasa daerah membutuhkan dukungan kebijakan pemerintah agar memiliki posisi jelas dalam sistem pendidikan.
| Kemenkeu RI Kaji Permohonan Tambahan Anggaran Pemerintah Aceh |
|
|---|
| Cek! Ini Sejumlah Konten Meresahkan yang dihapus Tim Pemantau KPI Aceh |
|
|---|
| Tegas! KPI Aceh Hapus Konten Meresahkan dan Mengganggu Ketertiban Umum |
|
|---|
| KPK Soroti Masih Besarnya Alokasi Dana Hibah Aceh untuk Instansi Vertikal |
|
|---|
| The Future of Voting: KIP Aceh Besar Gandeng Siswa SMAN Modal Bangsa Tatap Pemilu 2029 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Kepala-Dinas-Pendidikan-Aceh-Murthalamuddin-MSP-menyampaikan-sambutan-di-USK.jpg)