Berita Aceh Utara
Kisah Rapa-i Raja Siwah Tanah Pasir Aceh Utara, Penjaga Tradisi Rapa-i Geurimpheng
Kelompok Rapa-i Raja Siwah dari Tanah Pasir, Aceh Utara menjadi salah satu penjaga tradisi Rapa-i Geurimpheng yang masih bertahan hingga kini.
Penulis: Jafaruddin | Editor: Saifullah
Ringkasan Berita:
- Kelompok Rapa-i Raja Siwah dari Desa Alue, Kecamatan Tanah Pasir, Aceh Utara menjadi salah satu penjaga tradisi Rapa-i Geurimpheng yang masih bertahan hingga kini.
- Berawal dari kebersamaan masyarakat membeli seperangkat rapa-i dengan dana hasil panen padi, kelompok ini tumbuh menjadi tim seni yang disegani dan kerap tampil di berbagai acara resmi maupun pesta rakyat.
- Meski tetap eksis, mereka kini menghadapi krisis regenerasi karena minimnya minat generasi muda.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Jafaruddin | Aceh Utara
SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON - Kelompok Rapa-i Raja Siwah dari Desa Alue, Kecamatan Tanah Pasir, Aceh Utara, merupakan salah satu penjaga tradisi Rapa-i Geurimpheng yang masih bertahan hingga kini.
Berawal dari kebersamaan masyarakat membeli seperangkat rapa-i dengan dana hasil panen padi, kelompok ini tumbuh menjadi tim seni yang disegani dan kerap tampil di berbagai acara, mulai dari pesta rakyat hingga kegiatan resmi pemerintahan.
Seiring waktu, Raja Siwah mengalami perubahan bentuk rapa-i dari Baloh Panjang menjadi Baloh Pendek sekitar akhir 1990-an, mengikuti perkembangan yang diperkenalkan oleh tokoh seni Nisam.
Perubahan ini membuat rapa-i lebih praktis dibawa, meski suara Baloh Panjang dianggap lebih padu.
Nama kelompok pun sempat berganti menjadi Balum Bilie, namun akhirnya dikembalikan ke Raja Siwah sebagai penghormatan pada warisan leluhur.
Tokoh-tokoh penting seperti Keuchik Sop, Nek Him, Nek Mae, dan Apa Baka, pernah menjadi syekh yang memimpin kelompok ini.
Baca juga: Seni Rapa-i Daboh Terancam Punah, Ekses Kurangnya Generasi Penerus dan Perubahan Kualitas Tradisi
Mereka mewariskan teknik permainan rapa-i kepada generasi berikutnya.
Kini, sebagian besar pemain Raja Siwah adalah orang dewasa hingga lanjut usia.
Seperti Burhanuddin yang menjadi Apied sejak 1999, serta Tarmizi dan Mukhaidir, yang masih aktif memainkan variasi pukulan rapa-i.
Meski tetap eksis, kelompok ini menghadapi tantangan besar berupa minimnya minat generasi muda.
Mukhaidir, salah seorang penerus, bahkan rela membeli rapa-i dengan biaya sendiri demi melestarikan tradisi.
Namun, ia mengakui bahwa anak-anak muda kini kurang tertarik, sehingga regenerasi pemain menjadi krisis yang nyata.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa tanpa dukungan generasi baru, Rapa-i Geurimpheng bisa kehilangan penerusnya.
Baca juga: Syekh Dan 40 Tahun Merawat Sejarah Rapa-i Pase, Begini Jejak Sang Maestro
| Pengendara Honda CBR Meninggal Tergilas Truk Tangki di Jalan KKA Usai Terjatuh di Tikungan |
|
|---|
| Tiga KK Korban Semburan Lumpur di Lhoksukon Kembali Tempati Rumah, Perbaikan Atap Rampung |
|
|---|
| Soal Surat Gubernur ke BPJS, Akademisi Unimal: Pembukaan Blokir JKA Harus Berdasarkan Dokumen Hukum |
|
|---|
| Krueng Peuto Butuh Tanggul Permanen, Warga Lhoksukon Sudah 4 Kali Terendam Banjir dalam 5 Bulan |
|
|---|
| Jaga Warisan Indatu, Grup Rapai Raja Meudeuhak Bertahan dari Konflik hingga Banjir Bandang Besar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Rapai-7484i4.jpg)