Opini
Memaknai Esensi Idul Adha di Era Digital
Al-Qur’an menegaskan bahwa makna kurban tidak terletak pada darah yang menetes atau daging yang dibagikan. Firman Allah dalam QS. Al-Hajj: 37
Pada akhirnya, kurban bukanlah sekadar ritual menyembelih hewan yang selesai saat daging dibagikan. Jika berhenti pada seremoni tahunan, maknanya akan menguap begitu saja. Esensi kurban adalah latihan radikal untuk “merdeka” dari belenggu duniawi yang sering kali mengikat hati tanpa disadari.
Di zaman digital, ujian kita bukan lagi membawa putra ke altar persembahan, melainkan keberanian melepaskan ketergantungan pada layar, mematikan ambisi buta akan validasi media sosial, dan menyembelih ego yang haus pujian.
Idul Adha adalah momentum untuk menertibkan kembali cinta kita. Menjadi dekat dengan Sang Pencipta bukan berarti memiliki segalanya, melainkan sanggup merelakan apa yang berlebihan demi kemaslahatan sesama.
Dengan melepaskan keterikatan pada materi dan citra semu, kita justru menemukan kejernihan batin dan kemerdekaan hakiki.
Itulah bentuk ketakwaan paling nyata yang dibutuhkan saat ini. Kurban mengajarkan bahwa cinta sejati bukanlah kepemilikan, melainkan kesediaan melepaskan demi kebenaran.
Di era digital, pesan ini semakin relevan agar kita tidak terjebak dalam ilusi layar, sorak sorai maya, dan kabar palsu yang merusak persaudaraan. (*)
*) PENULIS adalah Profesor bidang Manajemen Syariah pada UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Azharsyah-Ibrahim.jpg)