Minggu, 31 Mei 2026

Opini

Pintar Berhaji: Memahami Ifrad, Tamattu’, dan Qiran 

Perubahan cara pandang jamaah ini tidak muncul begitu saja. Jamaah Banda Aceh diketahui mengikuti pembinaan manasik secara intensif melalui

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/HO
Mallikatul Hanin, petugas Media Center Haji Embarkasi Banda Aceh 

Berbeda dengan Tamattu’, Haji Ifrad memiliki karakteristik yang lebih menuntut kedisiplinan. Pada jenis ini, jamaah langsung berniat melaksanakan haji sejak mengambil miqat tanpa didahului umrah.

Jamaah tetap berada dalam keadaan ihram hingga seluruh rangkaian puncak ibadah haji selesai dilaksanakan. Setelah itu, barulah umrah dilakukan secara terpisah.

Pilihan terhadap Haji Ifrad menunjukkan kesiapan spiritual yang lebih panjang. Jamaah harus mampu menjaga seluruh larangan ihram dalam waktu yang tidak singkat. Namun kelebihan dari Haji Ifrad ialah jamaah tidak diwajibkan membayar dam.

Jamaah Banda Aceh yang memilih Haji Ifrad diketahui tiba di Kota Mekkah hanya beberapa hari sebelum keberangkatan menuju Arafah. Situasi tersebut dinilai memungkinkan untuk mempertahankan ihram hingga pelaksanaan puncak ibadah haji.

Setibanya di Mekkah, mereka hanya melaksanakan Tawaf Qudum, kemudian memperbanyak ibadah sambil menunggu waktu wukuf.

Pilihan 61 jamaah Banda Aceh terhadap Haji Ifrad menunjukkan bahwa masyarakat kini semakin memahami dimensi fiqih dalam ibadah haji. Mereka tidak lagi sekadar mengikuti tradisi mayoritas, melainkan mulai mempertimbangkan bentuk ibadah yang paling sesuai dengan kondisi dan keyakinan masing-masing.

Sementara itu, Haji Qiran merupakan pelaksanaan ibadah haji dan umrah secara bersamaan dalam satu niat dan satu ihram. Jamaah yang memilih jenis ini melaksanakan seluruh rangkaian tanpa bertahallul di antara umrah dan haji. Sama seperti Tamattu’, jamaah Qiran juga diwajibkan membayar dam.

Secara teknis, Haji Qiran tergolong cukup berat karena jamaah harus mempertahankan ihram dalam durasi panjang. Namun dalam perspektif spiritual, jenis haji ini juga menunjukkan totalitas penghambaan dan kesiapan menjalani rangkaian ibadah secara utuh.

Mahasiswa sebagai Agen Literasi Ibadah Haji

Meningkatnya pemahaman jamaah terhadap jenis-jenis haji memperlihatkan pentingnya pendidikan dan manajemen ibadah haji di tengah masyarakat. Dalam konteks ini, keberadaan Program Studi Manajemen Haji dan Umrah di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry menjadi sangat relevan.

Program studi tersebut tidak hanya mempelajari aspek teknis perjalanan haji, tetapi juga membahas fiqih manasik, pelayanan jamaah, komunikasi dakwah, hingga strategi pendampingan di lapangan.

Mahasiswa Manajemen Haji dan Umrah memiliki peluang besar untuk menjadi agen literasi ibadah di tengah masyarakat.

Mereka dapat berperan sebagai pembimbing manasik, edukator, maupun pengelola pelayanan haji yang mampu menjembatani kebutuhan spiritual jamaah dengan sistem penyelenggaraan haji yang terus berkembang. Kehadiran generasi muda yang memahami ilmu haji secara akademik tentu menjadi harapan baru dalam peningkatan kualitas pelayanan ibadah haji di Indonesia.

Pada akhirnya, manasik haji tidak seharusnya dipandang hanya sebagai formalitas menjelang keberangkatan. Manasik merupakan ruang pembelajaran yang membentuk kesiapan mental dan spiritual jamaah.

Semakin baik pemahaman seseorang terhadap ibadah haji, maka semakin besar pula peluangnya menjalankan ibadah dengan tenang, khusyuk, dan penuh makna.

Kebebasan memilih jenis haji merupakan langkah progresif dalam pelayanan keagamaan. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah haji dibangun atas dasar ilmu dan kesadaran.

Haji bukan sekadar perjalanan ke Tanah Suci, tetapi juga perjalanan menuju kedewasaan spiritual. Karena itu, jamaah yang baik bukan hanya mampu berangkat, tetapi juga memahami ibadah yang dijalankannya.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved