Aceh Utara
Berawal Geunta Alam ke Sibrok Blang Pha, Kisah Grup Rapai Pase Bertahan Saat Konflik hingga Banjir
Nama tersebut kemudian diganti menjadi Rapai Sibrok Blang Pha atas usulan Tgk Imum Sufi, tokoh masyarakat asal Desa Blang Pha.
Penulis: Jafaruddin | Editor: Nur Nihayati
Grup Rapai Sibrok Blang Pha memiliki rapai andalan Sibrok, dan rapai legendaris lain yang masing-masing menyimpan kisah tersendiri, seperti Raja Bujok, Bulukat Teubai, Taen Gulong, Boh Langai, Leumo Peu Ateung, Pinto Rimba dan Si Pirak.
Selama lebih dari dua dekade terakhir, kelompok ini dipimpin oleh Syekh Tarmizi yang kini berusia lebih dari 60 tahun. Ia didampingi Abdul Munir sebagai Apied atau asisten syekh.
Setiap kali berlatih, para pemain berkumpul mulai pukul 22.00 WIB hingga pukul 02.00 WIB dini hari. Jadwal tersebut disepakati bersama warga agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat sekitar.
"Tidak pernah berhenti latihan. Setelah banjir besar akhir tahun 2025 kami tetap latihan. Cuma sekarang sedang berhenti sementara karena sudah masuk musim haji," ujar Moris.
Menurutnya, latihan akan kembali dimulai setelah para calon jamaah haji asal daerah tersebut kembali ke daerah dari Tanah Suci.
Tradisi menghentikan latihan pada musim haji merupakan pesan yang diwariskan para pemain rapai generasi terdahulu.
"Ini pesan orang-orang tua dulu. Kalau musim haji, latihan rapai tidak diadakan," katanya.
Perjalanan kelompok tersebut tidak selalu berjalan mulus. Saat konflik Aceh berlangsung pada periode 1999 hingga 2005, aktivitas rapai nyaris terhenti total.
Situasi keamanan ketika itu membuat masyarakat membatasi berbagai aktivitas yang melibatkan keramaian.
"Kami tidak latihan selama masa konflik. Rapai mulai hidup lagi setelah perdamaian Aceh dan penandatanganan MoU Helsinki tahun 2005," ungkap Moris.
Cobaan berikutnya datang saat pandemi Covid-19. Selama periode 2021 hingga 2023, latihan kembali terhenti karena pembatasan aktivitas masyarakat dan aturan menjaga jarak.
Belum lama bangkit dari pandemi, banjir besar yang merendam sebagian wilayah Aceh Utara pada akhir 2025 kembali menjadi tantangan bagi para pemain rapai.
Namun berbeda dengan masa konflik dan pandemi, kali ini mereka memilih tetap bertahan.
Meski harus menghadapi berbagai keterbatasan, latihan tetap berlangsung sebagai bentuk komitmen menjaga warisan budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
Saat ini Grup Rapai Sibrok Blang Pha masih aktif mengikuti berbagai kegiatan budaya dan kompetisi Rapai Pase atau meuroh di berbagai daerah, mulai dari Aceh Utara, Langsa hingga Banda Aceh.
Bagi Moris, menjaga rapai bukan sekadar hobi atau kegiatan seni semata. Di balik setiap dentuman rapai terdapat amanah leluhur yang harus diteruskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, ia mengaku rela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran bahkan biaya pribadi demi memastikan tradisi tersebut tetap hidup.
"Ini budaya indatu yang diwariskan kepada kita. Kami berupa menjaganya," pungkasnya.(*)
| 69 Unit Huntara Rusak Akibat Dihantam Badai di Langkahan Aceh Utara, Data Terbaru |
|
|---|
| Karyawan Kebun Cot Girek Kecewa Audiensi Gagal, Bupati Aceh Utara Dinas ke Luar Daerah |
|
|---|
| Begini Kondisi 13 Rumah di Aceh Utara Rusak Dihantam Angin Kencang, Atap Beterbangan hingga Ambruk |
|
|---|
| Rapai Buket Meulinteung dari Akar Tualang Berusia Ratusan Tahun, Warisan Budaya Masyarakat Pase |
|
|---|
| Dua Terdakwa Kasus Pengangkutan Kayu Ilegal di Aceh Utara Disidangkan, Pemilik Masih Buron |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Rapai-0606.jpg)