Minggu, 7 Juni 2026

Aceh Utara

Berawal Geunta Alam ke Sibrok Blang Pha, Kisah Grup Rapai Pase Bertahan Saat Konflik hingga Banjir

Nama tersebut kemudian diganti menjadi Rapai Sibrok Blang Pha atas usulan Tgk Imum Sufi, tokoh masyarakat asal Desa Blang Pha.

Tayang:
Penulis: Jafaruddin | Editor: Nur Nihayati
Serambinews.com/HO/serambinews
Kolase Ketua Grup Rapai Pase Sibrok Blang Pha Kecamatan Seunuddon Kabupaten Aceh Utara Zamanhuri alias Moris dan pengurus memasang membran rapai. For Serambinews.com 

Nama tersebut kemudian diganti menjadi Rapai Sibrok Blang Pha atas usulan Tgk Imum Sufi, tokoh masyarakat asal Desa Blang Pha.

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin I Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON – Dentuman Rapai Pase dari Desa Blang Pha, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, barangkali tidak lagi seramai masa kejayaannya puluhan tahun lalu.

Namun, di balik suara yang masih menggema itu, tersimpan kisah panjang tentang keteguhan menjaga warisan budaya di tengah berbagai ujian zaman.

Dari mulai Konflik Aceh berkepanjangan dari 1999-2005, kemudian tsunami Aceh-Nias 2004, pandemi Covid-19 dari 2021-2023, hingga banjir besar yang melanda Aceh Utara pada akhir 2025 pernah menghentikan aktivitas mereka.

Namun satu hal yang tidak pernah hilang adalah tekad para pemain untuk mempertahankan Rapai Pase sebagai warisan indatu atau leluhur.

Grup yang kini dikenal dengan nama Rapai Sibrok Blang Pha itu awalnya bernama Geunta Alam.

Nama tersebut kemudian diganti menjadi Rapai Sibrok Blang Pha atas usulan Tgk Imum Sufi, tokoh masyarakat asal Desa Blang Pha.

Perjalanan grup

Perjalanan grup ini tidak terlepas dari sosok Hasbi Abdullah, seorang maestro Rapai Pase yang memimpin kelompok tersebut hingga wafat pada 1994 dalam usia lebih dari 70 tahun. Setelah itu kepemimpinan diteruskan oleh anak keempatnya, Zamanhuri alias Moris.

"Sebagian besar keluarga kami memang pemain rapai. Dari dulu sampai sekarang, rapai sudah menjadi bagian dari kehidupan keluarga kami," kata Moris kepada Serambinews.com, Jumat (5/6/2026), di sebuah warung kopi di kawasan Pantonlabu.

Moris merupakan satu dari tujuh bersaudara. Jejak kesenian rapai telah mengalir dalam keluarganya selama beberapa generasi. Bahkan kakek dan para leluhurnya juga dikenal sebagai pemain Rapai Pase di kawasan Seunuddon.

Meski aktif sejak lama, kelompok tersebut baru memiliki legalitas resmi pada 2019. Saat itu Moris yang juga aktif di Dewan Kesenian Kecamatan (DKK) Seunuddon mendaftarkan grupnya melalui akta notaris.

“Karena ketika itu pemerintah mensyaratkan kelengkapan administrasi untuk mengakses bantuan dan pendanaan kegiatan kebudayaan,” ujar Moris.

Kini Grup Rapai Sibrok Blang Pha memiliki sekitar 25 anggota tetap yang berasal dari berbagai desa, seperti Blang Pha, Paya Dua Uram, Matang Anoe, Alue Caplie, Matang Jeulikat hingga Tanjong Pineung.

Mayoritas pemain berusia di atas 60 tahun, meski beberapa anggota berasal dari kalangan pelajar SMA yang sedang dipersiapkan sebagai generasi penerus.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved