Sabtu, 6 Juni 2026

Berita Banda Aceh

FGD Bertema Alam Peudeung sebagai Pemersatu Digelar di Banda Aceh

generasi muda Aceh harus mampu menerjemahkan nilai-nilai Alam Peudeung ke dalam prestasi dan kontribusi nyata bagi kemajuan daerah

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
BENDERA ALAM PEUDEUNG - Komando Aneuk Muda Alam Peudeung Al Asyi (Komandan Al Asyi) bekerja sama dengan Yayasan Sultan Alaidin Mansyursyah menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Alam Peudeung sebagai Pemersatu” di Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Aceh, Gampong Mulia, Banda Aceh, Sabtu (6/6/2026). 
Ringkasan Berita:Komandan Al Asyi bersama Yayasan Sultan Alaidin Mansyursyah menggelar FGD bertema “Alam Peudeung sebagai Pemersatu” di Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh, Banda Aceh, Sabtu (6/6/2026)
 
Para narasumber menekankan pentingnya memahami sejarah, filosofi, dan nilai persatuan yang terkandung dalam Alam Peudeung sebagai warisan Kesultanan Aceh
 
Kegiatan yang dihadiri mahasiswa dan organisasi kepemudaan ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat keacehan serta mendorong generasi muda

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Komando Aneuk Muda Alam Peudeung Al Asyi (Komandan Al Asyi) bekerja sama dengan Yayasan Sultan Alaidin Mansyursyah menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Alam Peudeung sebagai Pemersatu” di Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Aceh, Gampong Mulia, Banda Aceh, Sabtu (6/6/2026).

Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh moderator Ustaz Mujiburrijal dan pemutaran film sejarah pelantikan Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah di Masjid Tuha Indrapuri.

Narasumber pertama, Tuanku Warul Waliddin selaku Pang Ule Komandan Al Asyi, memaparkan sejarah lahirnya Bendera Alam Peudeung yang dideklarasikan oleh Sultan Ali Mughayatsyah pada 23 Juli 1507 bersamaan dengan penetapan Alam Peudeung Mirah sebagai bendera kerajaan. 

Baca juga: Masa Sultan Aceh Melarang Tebang Kayu Dalam Hutan, Bila Dilanggar Kena Hukum Adat yang Berat

Menurutnya, tanggal tersebut layak diperingati sebagai hari lahir Bendera Alam Peudeung karena menjadi simbol persatuan berbagai kerajaan di Aceh di bawah satu panji.

Ia juga mengajak generasi muda Aceh untuk menghidupkan kembali semangat “Turi Droe Tusoe Droe” sebagai spirit kemajuan dan persatuan dalam membangun Aceh di masa depan.

Pemateri kedua, Tarmizi A Hamid atau Cek Midi, Direktur Rumoh Manuskrip Aceh, mengulas pentingnya manuskrip Kesultanan Aceh yang pernah menjadi rujukan di berbagai negeri Islam seperti Brunei, Malaysia, dan Thailand. 

Ia menilai nilai-nilai yang terkandung dalam Alam Peudeung masih relevan untuk diaktualisasikan di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa.

Baca juga: Ihwal Terbentuknya Kerajaan Aceh Darussalam

Sementara itu, Tgk Raja Aulia Habibie, Koordinator BEM Seluruh Indonesia Wilayah Aceh, menyebut kegiatan tersebut memberikan wawasan baru bagi generasi muda mengenai filosofi dan makna Alam Peudeung yang selama ini jarang dibahas secara mendalam.

Narasumber terakhir, Prof. Yusni Sabi, menilai FGD seperti ini perlu menjadi agenda rutin organisasi kepemudaan dalam menumbuhkan semangat keacehan. 

Menurutnya, generasi muda Aceh harus mampu menerjemahkan nilai-nilai Alam Peudeung ke dalam prestasi dan kontribusi nyata bagi kemajuan daerah.

Mendorong kemajuan Aceh

Kegiatan tersebut turut dihadiri pengurus BEM dari berbagai perguruan tinggi, antara lain UIN Ar-Raniry, USK, dan Unmuha, serta perwakilan YARA dan sejumlah organisasi kepemudaan. 

Diskusi yang berlangsung menghasilkan berbagai pandangan mengenai harapan dan langkah strategis untuk mendorong kemajuan Aceh di masa depan dengan berlandaskan semangat persatuan yang diwariskan Alam Peudeung. (*)

Baca juga: Rindu Gubernur Rasa Sultan Aceh 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved