Kamis, 11 Juni 2026

Berita Banda Aceh

Hampir 20 Tahun tak Dikembalikan, CekMidi Terus Berjuang Selamatkan Manuskrip Warisan Ulama Aceh

CekMidi hampir 20 tahun menunggu dikembalikan manuskrip aceh yang dipinjamkan oleh seorang Datuk di Malaysia. Kini terpaksa memilih jalur hukum

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Kolektor manuskrip dan budayawan Aceh, Tarmizi A. Hamid atau Cek Midi menunjuk Nourman Hidayat SH sebagai kuasa hukum. 

Ringkasan Berita:Cek Midi menyiapkan langkah hukum internasional untuk memulangkan sejumlah manuskrip bersejarah Aceh yang diduga masih dikuasai seorang bangsawan Malaysia sejak dipinjam untuk pameran pada 2008. 
 
Manuskrip tersebut mencakup karya dan tulisan tangan ulama besar Aceh, Syekh Nuruddin Ar-Raniry dan Syekh Abdurrauf As-Singkili. 
 
Selain menggandeng pengacara lintas negara, tim hukum juga mempertimbangkan pelaporan ke UNESCO dan lembaga internasional

 

SERAMBINEWS.COM - Di tengah hiruk-pikuk modernisasi dan derasnya arus digitalisasi, ada satu perjuangan sunyi yang terus berlangsung selama hampir dua dekade.

Perjuangan itu bukan tentang harta, jabatan, atau kekuasaan. Melainkan tentang menyelamatkan jejak peradaban Aceh yang terancam hilang dari tanah kelahirannya.

Perjuangan itu dijalani Tarmizi A Hamid, atau yang lebih dikenal masyarakat Aceh sebagai Cek Midi.

Selama hampir 20 tahun, kolektor manuskrip kuno asal Aceh tersebut berupaya membawa pulang sejumlah manuskrip bersejarah yang hingga kini belum kembali dari Malaysia setelah dipinjam untuk sebuah pameran internasional pada 2008.

Bagi sebagian orang, manuskrip mungkin hanya lembaran kertas tua yang rapuh dimakan usia.

Namun bagi Cek Midi, manuskrip adalah identitas bangsa, warisan ilmu pengetahuan, dan bukti bahwa Aceh pernah menjadi pusat peradaban Islam terkemuka di Asia Tenggara.

Baca juga: Mahasiswa UIN Ar-Raniry Belajar Filologi ke Rumoh Manuskrip Aceh

Di antara manuskrip yang belum kembali itu terdapat karya dan tulisan tangan asli dua ulama besar dunia Melayu-Islam, Syekh Nuruddin Ar-Raniry dan Syekh Abdurrauf As-Singkili atau Syiah Kuala.

Kedua tokoh tersebut bukan nama asing bagi masyarakat Aceh. Nama mereka kini diabadikan menjadi identitas dua perguruan tinggi terbesar di Aceh, Universitas Syiah Kuala dan UIN Ar-Raniry.

Berawal dari Kepercayaan

Kisah itu bermula pada 2008.

Saat itu, seorang tokoh terpandang Malaysia yang dikenal sebagai Datuk meminjam sejumlah manuskrip koleksi Cek Midi untuk dipamerkan dalam sebuah pameran manuskrip internasional di Kuala Lumpur.

Permintaan tersebut disambut baik.

Salah satu ulama Aceh, Teungku Muhammad Yusuf atau akrab disapa Abiya Jeunieb didampingi Sekjen Partai SIRA, Muhammad Daud (kanan), Direktur Rumoh Manuskrip Aceh Tarmizi A Hamid (kiri) dan Badaruddin (dua dari kiri) berkunjung ke Rumoh Manuskrip Aceh, di Gampong Ie Masen Kayee Adang, Banda Aceh, Kamis (10/8/2023) petang (foto kanan). Abiya Jeunieb dan Tarmizi A Hamid sedang melihat Karya intelektual cendikiawan muslim Aceh di masa lalu (foto kiri)
Salah satu ulama Aceh, Teungku Muhammad Yusuf atau akrab disapa Abiya Jeunieb didampingi Sekjen Partai SIRA, Muhammad Daud (kanan), Direktur Rumoh Manuskrip Aceh Tarmizi A Hamid (kiri) dan Badaruddin (dua dari kiri) berkunjung ke Rumoh Manuskrip Aceh, di Gampong Ie Masen Kayee Adang, Banda Aceh, Kamis (10/8/2023) petang (foto kanan). Abiya Jeunieb dan Tarmizi A Hamid sedang melihat Karya intelektual cendikiawan muslim Aceh di masa lalu (foto kiri) (Kolase Serambinews.com)

Sebagai pecinta sejarah, Cek Midi melihat pameran itu sebagai kesempatan memperkenalkan khazanah intelektual Aceh kepada dunia internasional.

Tidak ada transaksi jual beli.

Tidak ada perpindahan hak kepemilikan.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved