Opini

Takengon Pusat Wisata Agraris Aceh yang Bermartabat

Kopi Arabika Gayo telah mendapatkan pengakuan internasional sebagai salah satu kopi terbaik di dunia. Kopi ini ditanam di Dataran

Editor: Ansari Hasyim
For Serambinews.com
Prof Dr Apridar SE M Si, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh. 

Konsep wisata agraris yang bermartabat menawarkan solusi: mengalihkan sebagian tekanan ekonomi dari menangkap depik ke sektor jasa wisata. Wisatawan dapat diajak untuk mengalami langsung kehidupan nelayan dengan prinsip catch and release atau budidaya keramba jaring apung yang ramah lingkungan, sehingga ekosistem danau terjaga untuk generasi mendatang.

Wisata Halal sebagai Kerangka Etika dan Ekonomi

Pengembangan Takengon sebagai pusat wisata agraris tidak bisa lepas dari kerangka besar wisata halal. Berbeda dengan pemahaman sempit yang hanya berfokus pada makanan halal, wisata halal di Takengon adalah sebuah ekosistem ekonomi syariah yang menyeluruh.

Akomodasi dan Kuliner: Hotel dan homestay mulai menerapkan prinsip syariah, seperti pemisahan fasilitas untuk keluarga dan jamaah, serta menyediakan makanan yang tidak hanya halal tetapi juga thayyib (baik, sehat, dan proporsional). 

Warung-warung kopi dan rumah makan dijamin kehalalannya, memberikan ketenangan bagi wisatawan muslim. Data dari Dinas Pariwisata Aceh Tengah mencatat peningkatan signifikan permintaan akomodasi bernuansa islami, terutama dari wisatawan Malaysia dan Timur Tengah.

Selain menikmati kebun kopi dan danau, wisatawan dapat engaging dalam aktivitas yang memiliki nilai spiritual dan edukatif. Berkuda, sebagai olahraga yang disunnahkan dalam Islam, adalah contoh sempurna. 

Arena pacuan kuda di Takengon bukan sekadar atraksi, tetapi representasi dari budaya yang selaras dengan ajaran agama. Aktivitas lain seperti mengunjungi pusat pengolahan kopi syariah atau berinteraksi dengan komunitas petani yang menjunjung tinggi nilai kejujuran (shiddiq) dalam transaksi, memperkaya pengalaman wisata.

Kekuatan dari model wisata agraris yang bermartabat ini terletak pada dampak ekonominya yang inklusif dan humanis. Data menunjukkan bahwa sektor pariwisata dan pertanian kopi menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Aceh Tengah. Yang membedakan adalah bagaimana pertumbuhan ekonomi ini dirasakan hingga ke akar rumput.

Pemandu wisata merupakan seorang petani kopi di pagi hari. Seorang ibu rumah tangga mengelola homestay sederhana yang menyajikan hidangan lokal untuk tamu. Seorang pemuda mengembangkan usaha olahan kopi dan kerajinan tangan bernuansa Gayo. Ekonomi tidak hanya berputar di investor besar, tetapi terdistribusi merata kepada masyarakat (sadaqah jariyah dalam bentuk ekonomi). Ini adalah esensi dari produktivitas berkelanjutan yang dijamin dalam syariah.

Tantangan dan Langkah Ke Depan

Takengon masih menghadapi tantangan. Infrastruktur, terutama akses jalan dari Banda Aceh dan Medan, masih perlu ditingkatkan. Kapasitas SDM dalam menghadapi wisatawan mancanegara, pemasaran digital, dan standardisasi layanan halal juga perlu terus dibenahi. Pemerintah daerah harus konsisten dalam menerapkan kebijakan yang pro-lingkungan dan pro-masyarakat kecil, serta memastikan bahwa perkembangan wisata tidak menggeser identitas kultural dan religious masyarakat Gayo.

Takengon lebih dari sekadar destinasi, ia adalah sebuah gagasan. Gagasan tentang bagaimana kekayaan agraris dari biji kopi, ikan depik, hingga kuda dapat dikelola dengan prinsip-prinsip yang memuliakan manusia dan alam. Martabatnya terletak pada komitmen untuk tidak menjual diri secara murah, tetapi pada keberanian untuk menawarkan nilai-nilai autentik: kearifan lokal, keberlanjutan, dan spiritualitas.

Dengan menyandingkan kebun kopi, danau, dan nilai-nilai syariah, Takengon tidak hanya menjadi pusat wisata agraris Aceh, tetapi menjadi contoh nyata bagaimana pariwisata dapat menjadi alat untuk mencapai kesejahteraan yang bermartabat, berkeadilan, dan berkelanjutan, sebagaimana diajarkan dalam Islam.

Setiap cangkir kopi Gayo yang dinikmati seorang wisatawan adalah cerita tentang martabat itu sendiri sebuah cerita yang patut didengar oleh dunia.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved