Berita Banda Aceh
Tim Dosen USK Bina Petani Garam, dari Pencacahan hingga Pembuatan Sabun Cuci Piring Berbasis Garam
Kegiatan yang dilaksanakan di Gampomg Neuheun, Aceh Besar, ini merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat tahun 2025 yang didanai
Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Mursal Ismail
Kegiatan yang dilaksanakan di Gampomg Neuheun, Aceh Besar, ini merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat tahun 2025 yang didanai oleh Direktorat Pemberdayaan dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek.
Laporan Yarmen Dinamika | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM - Tim dosen Universitas Syiah Kuala (USK) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tema “Pemberdayaan Petani Garam Garuda Kuala Gigieng Melalui Branding Kemasan Garam Lokal dan Diversifikasi Produk Sabun Cuci Piring Berbasis Garam”.
Kegiatan yang dilaksanakan di Gampomg Neuheun, Aceh Besar, ini merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat tahun 2025 yang didanai oleh Direktorat Pemberdayaan dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk garam lokal sekaligus membuka peluang usaha baru bagi petani garam Aceh.
Ketua program pengabdian ini, Dr Vicky Prajaputra MSi mengatakan, dalam kegiatan ini, tim dosen bersama para petani garam memulai pendampingan dari proses pencacahan garam krosok menjadi garam halus.
"Upaya ini dilakukan agar garam yang sebelumnya bertekstur kasar dapat diolah menjadi produk yang lebih seragam dan halus serta memiliki nilai jual lebih tinggi," ujarnya kepada Serambinews.com di Banda Aceh, Minggu (21/9/2025) sore.
Menurutnya, petani garam juga dilatih dalam hal pengemasan produk garam dengan desain kemasan yang menarik sehingga garam lokal memiliki citra yang lebih dikenal di pasaran.
Baca juga: Kapolsek Mane Kumandangkan Azan Saat Cari Santri Hanyut Diseret Arus, Garam Ikut Ditabur ke Sungai
Selain itu, mereka mendapatkan pembekalan manajemen usaha serta pendampingan pendaftaran Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) untuk merek dagang sebagai bentuk perlindungan hukum atas apa yang mereka hasilkan.
Tidak berhenti pada garam halus, tim pengabdi juga telah memperkenalkan diversifikasi produk berupa sabun cuci piring berbasis garam pada bulan Agustus 2025.
Melalui praktik langsung, para petani dilatih mengolah garam menjadi bahan utama pembuatan sabun, mulai dari proses pencampuran hingga pengemasan produk.
Sabun ini, kata Dr Vicky, diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan tambahan sekaligus membuka peluang usaha baru bagi kelompok petani garam.
Dr Vicky Prajaputra MSi yang mengetuai kegiatan ini merupakan Dosen Program Studi Ilmu Kelautan USK. Dalam tim ini terlibat anggota pengabdi, yakni Adinda Gusti Vonna SP, MSi (Agribisnis), Apt. Fajar Fakri SFarm, MSFarm (Farmasi), dan Ulil Amri Mc, SPi, MSi (Ilmu Kelautan), serta mahasiswa lintas program studi.
Ketua tim pengabdi, Dr Vicky, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bentuk nyata kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengangkat potensi garam lokal agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Baca juga: Rektor USK Kunjungi World Expo 2025 Osaka, Perkuat Diplomasi Budaya dan Inovasi Indonesia
Ketua Mitra Garam, Junaidi, turut menyampaikan apresiasi atas kegiatan ini.
| ISBI Aceh Gandeng PSU Tailan Jalin Kerja Sama Strategis Pendidikan di Phuket |
|
|---|
| Wamendiktisaintek Puji Riset dan Hilirisasi USK saat Kunjungi ARC dan TDMRC |
|
|---|
| QR Antar Negara BYOND by BSI Siap Digunakan di China |
|
|---|
| DPRK Keluarkan Rekom Soal Kekerasan Anak, Desak Pemko Audit Semua Daycare di Banda Aceh |
|
|---|
| Peringati Hari Talasemia Sedunia, YDUA Kampanyekan ‘Melihat yang Selama Ini Tak Terlihat’ |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ajar-petani-garam-200905.jpg)