Minggu, 10 Mei 2026

Berita Banda Aceh

Tim Dosen USK Bina Petani Garam, dari Pencacahan  hingga Pembuatan Sabun Cuci Piring Berbasis Garam

Kegiatan yang dilaksanakan di Gampomg Neuheun, Aceh Besar, ini merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat tahun 2025 yang didanai

Tayang:
Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Mursal Ismail
Serambinews.com/HO
GARAM KROSOK - Tim pengabdi Universitas Syiah Kuala (USK) bersama mitra dampingan memperhatikan garam krosok yang sudah dicacah untuk dijadikan garam halus di Gampong Neuheun, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, Sabtu (20/9/2025). 

Kegiatan yang dilaksanakan di Gampomg Neuheun, Aceh Besar, ini merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat tahun 2025 yang didanai oleh Direktorat Pemberdayaan dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek.

Laporan Yarmen Dinamika | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM - Tim dosen Universitas Syiah Kuala (USK) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tema “Pemberdayaan Petani Garam Garuda Kuala Gigieng Melalui Branding Kemasan Garam Lokal dan Diversifikasi Produk Sabun Cuci Piring Berbasis Garam”. 

Kegiatan yang dilaksanakan di Gampomg Neuheun, Aceh Besar, ini merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat tahun 2025 yang didanai oleh Direktorat Pemberdayaan dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek.

Tujuannya adalah untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk garam lokal sekaligus membuka peluang usaha baru bagi petani garam Aceh.

Ketua program pengabdian ini, Dr Vicky Prajaputra MSi mengatakan, dalam kegiatan ini, tim dosen bersama para petani garam memulai pendampingan dari proses pencacahan garam krosok menjadi garam halus.

"Upaya ini dilakukan agar garam yang sebelumnya bertekstur kasar dapat diolah menjadi produk yang lebih seragam dan halus serta memiliki nilai jual lebih tinggi," ujarnya kepada Serambinews.com di Banda Aceh, Minggu (21/9/2025) sore.

Menurutnya, petani garam juga dilatih dalam hal pengemasan produk garam dengan desain kemasan yang menarik sehingga garam lokal memiliki citra yang lebih dikenal di pasaran. 

Baca juga: Kapolsek Mane Kumandangkan Azan Saat Cari Santri Hanyut Diseret Arus, Garam Ikut Ditabur ke Sungai

Selain itu, mereka mendapatkan pembekalan manajemen usaha serta pendampingan pendaftaran Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) untuk merek dagang sebagai bentuk perlindungan hukum atas apa yang mereka hasilkan.

Tidak berhenti pada garam halus, tim pengabdi juga telah memperkenalkan diversifikasi produk berupa sabun cuci piring berbasis garam pada bulan Agustus 2025.

Melalui praktik langsung, para petani dilatih mengolah garam menjadi bahan utama pembuatan sabun, mulai dari proses pencampuran hingga pengemasan produk. 

Sabun ini, kata Dr Vicky, diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan tambahan sekaligus membuka peluang usaha baru bagi kelompok petani garam.

Dr Vicky Prajaputra MSi yang mengetuai kegiatan ini merupakan Dosen Program Studi Ilmu Kelautan USK. Dalam tim ini terlibat anggota pengabdi, yakni Adinda Gusti Vonna SP, MSi (Agribisnis), Apt. Fajar Fakri SFarm, MSFarm (Farmasi), dan Ulil Amri Mc, SPi, MSi (Ilmu Kelautan), serta mahasiswa lintas program studi. 

Ketua tim pengabdi, Dr Vicky, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bentuk nyata kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengangkat potensi garam lokal agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Baca juga: Rektor USK Kunjungi World Expo 2025 Osaka, Perkuat Diplomasi Budaya dan Inovasi Indonesia

Ketua Mitra Garam, Junaidi, turut menyampaikan apresiasi atas kegiatan ini.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved