Breaking News
Rabu, 13 Mei 2026

Opini

Rencana 20 Poin Trump Menghapus Palestina, dan Peran Empat 'Setan Kuburan'

Baik Netanyahu dan Trump melihatnya positif, dan mungkin berpikir akan menarik ke dalam lingkaran

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/FOR SERAMBINEWS
Teuku Taufiqulhadi, eks wartawan, penulis buku “Ironi Satu Kota Tiga Tuhan, Deskripsi Jurnalistik di Yerusalem." 

Oleh: Teuku Taufiqulhadi*)

DENGAN Benjamin Netanyahu  di sebelahnya, Presiden Amerika Donald Trump mengumumkan, ia telah membuat rencana bagus untuk perdamaian Gaza yang ia yakini akan disambut positif oleh Hamas.

PM Israel itu menyela, jika Hamas tidak menerima atau berpura-pura menerima tapi secara prinsip bertindak kontra terhadap ketentuan-ketentuan rencana itu, apakah boleh Israel menyelesaikan tugasnya (finishing the job)?

“Seperti Anda ketahui, saya akan mendukung Anda, lakukanlah apa yang perlu Anda lakukan,” jawab Presiden Trump dengan wajah tidak berubah, tetap dingin. 

Peristiwa ini terekam jelas dalam konferensi pers yang berlangsung pada 29 September lalu, yang menurut Trump, jika Hamas tidak setuju maka hanya tinggal organisasi perlawanan ini saja yang menolaknya, sementara lainnya sudah setuju semua.  

Baca juga: Prabowo, Gaza, dan Opresi Global

Sudah setuju semua? Termasuk Presiden Indonesia, yang sempat mencuri perhatian  dunia ketika tampil di Sidang Majelis Umum PBB seminggu sebelumnya? 

Pidato Presiden di Sidang MU PBB itu, dinilai cukup cerdas. Meski berapa-api, tapi tetap terjaga, tidak sleep of the tongue. 

Meski bergerak di atas seutas tali tipis, tapi tidak terpeleset ke salah satu arah. 

Baik Netanyahu dan Trump melihatnya positif, dan mungkin berpikir akan menarik ke dalam lingkaran propagandanya. 

Di pihak Palestina, isi pidato presiden tersebut tetap terasa ada semangat konsistensi posisi Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina.

Sikap kita terhadap sebuah konflik dunia selalu beranjak dari nilai Pembukaan UUD 45, yang tidak menolerir penjajahan dan semua umat manusia harus diperlakukan secara adil di atas bumi ini. 

Apa yang terjadi hari ini di Gaza adalah bentuk penjajahan dan ketidakadilan. Ia merupakan kelanjutan saja dari peristiwa Nakbah, ekor terbentuknya negara Israel pada tahun 1948. 

Setelah terbentuk apa yang disebut dalam sejarah sebagai proyek kolonial pemukim imperial yang bernama Israel, pengusiran manusia, perampasan tanah  serta pembunuhan terhadap orang Palestina seperti tidak ada hentinya. 

Gaza menjadi ruang tahanan  beratap langit, dan pasti terluas di muka bumi ini.  

Warga di Gaza ini tidak dibenarkan bergerak bebas dan hanya memiliki akses yang terbatas terhadap air dan makanan. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved