Senin, 8 Juni 2026

Opini

Keynes dan Kegagalan Teori Klasik: Pelajaran Abadi dari Depresi Besar untuk Ekonomi Modern

Untuk memahami kedahsyatan kritik Keynes, kita harus terlebih dahulu mengidentifikasi asumsi dasar teori klasik yang ia tentang. Paradigma klasik

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
For Serambinews.com
Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh. 

Oleh: Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh

DUNIA dilanda badai. Pabrik-pabrik tutup, pengangguran meroket, dan kemelaratan menjadi pemandangan sehari-hari.

Itulah gambaran suram era Depresi Besar tahun 1930-an, sebuah bencana ekonomi yang tidak hanya menghancurkan kehidupan jutaan orang tetapi juga meruntuhkan keyakinan pada mazhab ekonomi yang mendominasi pemikiran hingga saat itu: Teori Ekonomi Klasik. 

Dalam kevakuman intelektual dan kebijakan inilah, John Maynard Keynes muncul bagai mercusuar, dengan kritiknya yang menghantam fondasi teori klasik dan menawarkan resep radikal yang selamanya mengubah lanskap kebijakan ekonomi global.

Fondasi Teori Klasik dan Dunia yang Terlalu Sempurna

Untuk memahami kedahsyatan kritik Keynes, kita harus terlebih dahulu mengidentifikasi asumsi dasar teori klasik yang ia tentang. Paradigma klasik, yang diusung oleh ekonom seperti Adam Smith dan David Ricardo, berdiri di atas beberapa keyakinan fundamental.

Pertama, Hukum Say (Say’s Law), yang menyatakan bahwa "penawaran menciptakan permintaannya sendiri." Dalam pandangan ini, setiap barang yang diproduksi akan selalu menemukan pembelinya. Produksilah yang menjadi motor perekonomian, dan permintaan akan mengikutinya. Implikasinya, tidak mungkin terjadi kelebihan produksi (glut) yang berkepanjangan dalam perekonomian.

Kedua, keyakinan akan fleksibilitas harga dan upah. Teori klasik berasumsi bahwa harga (termasuk harga tenaga kerja, yaitu upah) akan menyesuaikan diri secara fleksibel untuk menyeimbangkan pasar.

Jika terjadi pengangguran, upah nominal akan turun hingga permintaan tenaga kerja meningkat dan pengangguran terserap. Dengan kata lain, pasar tenaga kerja diyakini akan selalu mencapai kondisi "full employment" (kesempatan kerja penuh) dalam jangka panjang.

Ketiga, peran uang yang netral. Uang dianggap hanya sebagai alat tukar (veil) yang tidak mempengaruhi variabel riil seperti output dan lapangan kerja. Suku bunga dilihat sebagai harga yang menyeimbangkan tabungan dan investasi; ketika masyarakat menabung lebih banyak, suku bunga akan turun, yang pada gilirannya akan mendorong investasi. Mekanisme ini menjamin bahwa semua tabungan akan dialokasikan menjadi investasi.

Dunia teori klasik adalah dunia yang harmonis dan mandiri, di mana pasar selalu menemukan titik keseimbangan terbaiknya tanpa perlu campur tangan pemerintah. Jika terjadi guncangan, pasar diyakini akan memperbaiki dirinya sendiri. Depresi Besar, dengan pengangguran massal yang bertahun-tahun, adalah bukti nyata yang menyangkal dunia ideal ini.

Kritik Mendasar Keynes: Menghancurkan Mitos Pasar yang Mandiri

Keynes, dalam magnum opus-nya The General Theory of Employment, Interest and Money (1936), menelikung setiap asumsi utama teori klasik. Pertama Membantah Hukum Say: Permintaan Efektif adalah Kunci. Keynes membalikkan logika klasik. Baginya, yang menjadi pendorong utama perekonomian bukanlah penawaran, melainkan permintaan efektif total pengeluaran yang benar-benar dilakukan oleh rumah tangga, bisnis, dan pemerintah.

Dalam perekonomian modern, uang tidak hanya untuk bertransaksi tetapi juga untuk berspekulasi (ditimbang). Orang bisa saja memilih tidak mengeluarkan uangnya (baik untuk konsumsi maupun investasi) karena ketidakpastian masa depan.

Jika permintaan efektif jatuh, perusahaan akan mengurangi produksi dan memecat pekerja, yang kemudian semakin menurunkan daya beli masyarakat. Ini menciptakan spiral deflasi yang dalam—sebuah "perangkap likuiditas" di mana mekanisme penurunan suku bunga menjadi tidak efektif. Depresi Besar adalah bukti empiris bahwa penawaran tidak secara otomatis menciptakan permintaannya sendiri.

Kedua Kekakuan Upah dan Harga: Ketidakmampuan Pasar untuk Menyesuaikan Diri. Keynes menolak asumsi fleksibilitas upah dan harga. Dalam dunia nyata, upah bersifat kaku ke bawah (sticky downwards). Pekerja akan menolak pemotongan upah nominal, dan serikat pekerja memperkuat penolakan ini.

Bahkan jika upah turun, penurunan itu akan semakin mengurangi pendapatan dan permintaan agregat, memperburuk resesi. Jadi, mengandalkan penurunan upah untuk menyelesaikan pengangguran adalah resep yang keliru dan justru kontra-produktif.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved