Minggu, 3 Mei 2026

Berita Pidie

Pidie Masih Aman dari Banjir, BPBD Sorot Rumpun Bambu di Pinggir Sungai

BMKG memprediksi puncak musim hujan November 2025–Februari 2026, tiga kabupaten Aceh sudah banjir.

Tayang:
Penulis: Muhammad Nazar | Editor: Saifullah
Serambi Indonesia
BERSIHKAN SALURAN AIR - Alat berat membersihkan jaringan air skunder di Gampong Lampoh Lada, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie, Senin (24/11/2025). Jaringan skunder itu tersambung dengan Krueng Teukah Sigli. 
Ringkasan Berita:
  • BMKG memprediksi puncak musim hujan November 2025–Februari 2026, tiga kabupaten Aceh sudah banjir.
  • Pidie masih aman, namun berpotensi terdampak bila curah hujan tinggi berlanjut.
  • BPBD mengimbau warga giat gotong royong membersihkan bambu patah di sungai untuk mencegah banjir.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Muhammad Nazar I Pidie

SERAMBINEWS.COM, SIGLI - Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG bahwa, puncak musim hujan terjadi pada November 2025 hingga Februari 2026. 

Dampak dari curah hujan tinggi di bulan ini, telah menyebabkan tiga kabupaten di Aceh mulai dilanda banjir.

Ketiga kabupaten tersebut adalah Aceh Utara, Aceh Timur, dan Kabupaten Aceh Singkil. 

Bagaimana dengan Kabupaten Pidie dengan penduduk 456.000 jiwa?

Apakah akan menunggu giliran diterjang banjir

Berdasarkan penelusuran Serambinews.com, pada tahun 2024, banjir terjadi di  bulan Desember yang sempat merendam belasan kecamatan di Pidie. 

Baca juga: Abrasi Pesisir Jangka, Bireuen Meluas, Tambak dan Areal Sawah 6 Desa Terendam Banjir

Namun, banjir di tahun 2024 itu, tidak sampai membuat masyarakat mengungsi. 

Tahun 2023, banjir paling parah terjadi di Pidie.

Karena air bahkan menggenangi Kantor Bupati hingga Bundaran Tugu Aneuk Mulieng. 

Rumah warga juga hampir empat hari terendam banjir kiriman. 

"Betul, tahun 2023, banjir paling besar terjadi di Pidie," kata Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie, Muhammad Rabiul kepada Serambinews.com, Senin (24/11/2025).

Baca juga: Jalan ke Kampungnya Tergenang Banjir, Warga Rantau Gedang & Teluk Rumbia Naik Perahu ke Kota Singkil

Ia menjelaskan, perkiraan BMKG, puncak turun hujan pada periode November 2025 hingga Januari 2026. 

Saat ini, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Singkil, mulai banjir.

Menurut Rabiul, curah hujan tinggi bulan ini, bisa saja Bireuen, Pidie Jaya, dan Pidie, akan berpotensi dilanda banjir

Untuk itu, tuturnya, perlu kepekaan masyarakat mengatasi banjir

Antara lain, membersihkan pohon bambu yang patah di sepanjang aliran Krueng Baro agar aliran air lancar ke laut. 

Baca juga: Korban Banjir Pidie Dievakuasi Pakai Rakit Batang Pisang

Sebab, urai Rabiul, bambu yang patah di aliran sungai menjadi ancaman banjir

Soalnya, kayu dan sampah akan tersangkut di bambu yang patah di sungai. 

"Bambu dipinggir sungai tidak cocok lagi untuk penahan tebing, mengingat saat ini sungai kian dalam akibat aktivitas galian di hulu,” terang dia. 

Kecuali, sungai dangkal cocok bambu dijadikan penahan tebing," jelasnya.

Dipaparkan dia, jika bambu yang patah di sungai bisa mengamcam jembatan Gantung Tanjong Krueng, Jembatan Gantung Gajah Aye, dan Jembatan Gantung Gampong Pukat.

Baca juga: Rumpun Bambu Ambruk ke Sungai Cot Mancang Abdya, Hambat Aliran Air

Menurutnya, untuk memindahkan rumpun bambu di pinggir sungai perlu dilakukan gotong royong atau gotroy. 

Sebab, rumpun bambu di pinggir sungai ada pemiliknya. 

"Rumpun bambu itu sangat beresiko karena aliran sungai akan tersumbat,” papar Rabiul. 

“Saat curah hujan tinggi, rumpun bambu biasa tumbang ke sungai akibat akar serabut telah menggantung karena tanah bagian bawah terkikis air sungai," pungkasnya.(*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved