Opini

USK Simpul Soft Skill Pertumbuhan Ekonomi Aceh

Sebagai provinsi yang ditakdirkan menjadi pintu gerbang jalur laut perdagangan

Editor: Ansari Hasyim
IST
Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh. 

Oleh: Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh

SEBAGAI provinsi yang ditakdirkan menjadi pintu gerbang jalur laut perdagangan dunia, Aceh menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa.

Posisi strategis di ujung barat Indonesia, menghadap Selat Malaka yang merupakan arteri pelayaran tersibuk di dunia, seharusnya menjadi berkah kemakmuran.

Namun, potensi ini masih menjadi janji yang belum sepenuhnya terwujud. Untuk mengubah janji menjadi realita, Aceh membutuhkan lebih dari sekadar infrastruktur fisik; ia membutuhkan infrastruktur manusia yang unggul.

Di sinilah Universitas Syiah Kuala (USK) hadir bukan hanya sebagai menara ilmu, tetapi sebagai simpul pertumbuhan yang vital, dengan fokus pada penguatan soft skill sebagai katalisator ekonomi daerah.

Aceh di Persimpangan Global: Potensi dan Tantangan

Data Bank Dunia menunjukkan bahwa lebih dari 90.000 kapal melintasi Selat Malaka setiap tahunnya, membawa sekitar 40 persen perdagangan global. Aceh, dengan garis pantai terpanjang di Indonesia, berada tepat di jalur emas ini.

Pelabuhan Kuala Tanjung dan Pelabuhan Malahayati diharapkan dapat menjadi game changer dalam mengkoneksikan Aceh dengan rantai pasok global.

Namun, data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh per Februari 2024 mengungkapkan tantangan serius: Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 6.52 % , masih di atas rata-rata nasional.

Sementara itu, laporan Bank Indonesia Perwakilan Aceh menyoroti ketimpangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri. Ini mengindikasikan adanya missing link antara dunia pendidikan dan dunia usaha.

Kekurangan bukan terletak pada ijazah, tetapi pada kompetensi yang relevan, adaptif, dan siap pakai, inilah yang kita sebut sebagai soft skill.

USK sebagai Simpul Soft Skill: Dari Kampus untuk Negeri

Sebagai perguruan tinggi terbesar dan tertua di Aceh, USK memikul tanggung jawab strategis untuk menjawab tantangan ini. Melalui semangat Kampus sebagai Simpul Pertumbuhan Ekonomi, USK harus mentransformasi dirinya dari menara gading akademik menjadi innovation hub yang menghasilkan lulusan dengan soft skill unggulan.

Pertama, Penguatan Soft Skill Melalui Kurikulum Holistik dan Program Saintek. Inovasi tidak hanya lahir dari penguasaan teknik, tetapi juga dari kemampuan berkolaborasi, berkomunikasi, dan memecahkan masalah.

Program studi sains dan teknologi (saintek) di USK harus didesain dengan pendekatan project-based learning yang melatih mahasiswa bekerja dalam tim, mempresentasikan ide, dan mengelola kegagalan.

Skema pembinaan dan afirmasi, seperti program Asta Cita yang berfokus pada pencapaian delapan tujuan, dapat diarahkan untuk membentuk karakter kepemimpinan dan kewirausahaan.

Melalui penugasan magang dan proyek nyata di industri maritim, logistik, dan agroindustry  sektor unggulan Aceh, mahasiswa tidak hanya menerapkan ilmu keras (hard skill) tetapi juga mengasah kemampuan negosiasi, adaptasi, dan etos kerja.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved