Berita Internasional
Serangan Iran ke Pangkalan Amerika Serikat Makin Presisi, Intel Rusia Dituding Pasok Data
Laporan The Washington Post dan NBC News menyebut Rusia diduga memberi data intelijen posisi pasukan AS, sehingga membantu akurasi serangan Iran.
Ringkasan Berita:
- Iran meningkatkan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Timur Tengah sejak awal Maret 2026, dengan target radar dan pusat komunikasi yang lebih presisi.
- Laporan The Washington Post dan NBC News menyebut Rusia diduga memberi data intelijen posisi pasukan AS, sehingga membantu akurasi serangan Iran.
- Meski Iran mengakui dukungan politik dari Rusia dan China, AS menilai kedua negara bukan faktor utama, sementara ketegangan kawasan berpotensi meluas secara global.
Laporan The Washington Post dan NBC News menyebut Rusia diduga memberi data intelijen posisi pasukan AS, sehingga membantu akurasi serangan Iran.
SERAMBINEWS.COM, TEHERAN - Konflik di Timur Tengah (Timteng) semakin memanas setelah Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer Amerika Serikat (AS).
Serangan yang terjadi sejak awal Maret 2026 ini, disebut lebih presisi dibandingkan sebelumnya, dengan target utama sistem radar, antena satelit, dan pusat komunikasi militer AS di kawasan Teluk Persia.
Laporan dari The Washington Post dan NBC News menyebutkan, Rusia diduga memberikan dukungan intelijen kepada Iran berupa data posisi pasukan dan kapal perang AS, sehingga membantu Teheran meningkatkan akurasi serangan.
Pengamat hubungan internasional menilai, jaringan satelit Rusia yang luas memungkinkan Moskwa menyuplai informasi lebih cepat dan detail kepada Iran.
Hal ini membuat serangan Iran terlihat lebih terarah, mirip dengan taktik militer Rusia di Ukraina: serangan drone berkelompok diikuti rudal balistik.
Meski Iran memiliki satelit militer sendiri, kapasitasnya jauh lebih terbatas dibandingkan Rusia.
Baca juga: Terungkap! AS Gunakan Senjata Laser Hadapi Serangan Iran, Perang Modern Libatkan Satelit dan Siber
Dukungan ini memperlihatkan semakin kompleksnya dampak geopolitik, dengan risiko besar terhadap aset militer AS di Timur Tengah.
Dari sisi politik, Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi mengakui adanya dukungan politik dari Rusia dan Cina, meski enggan merinci bentuk bantuan lain.
Ia menegaskan, kerja sama militer Iran-Rusia bukan hal baru.
Trump Remehkan Intel Rusia
Sementara itu, Presiden AS, Donald Trump meremehkan laporan bantuan intelijen Rusia, dan menyebut pertanyaan wartawan sebagai “bodoh” serta menilai operasi militer AS terhadap Iran sangat efektif.
Trump mengklaim kekuatan militer Iran sudah hancur, meski serangan Teheran menunjukkan sebaliknya.
Menteri Pertahanan (Menhan) AS, Pete Hegseth juga menolak anggapan bahwa Rusia dan Cina menjadi faktor utama dalam konflik ini.
Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi lebih luas.
Baca juga: AS Rugi Bandar, Bakar Uang Rp 19 Triliun Buat Rudal THAAD Demi Lindungi Israel dari Serangan Iran
Serangan Iran yang semakin presisi memperlihatkan adanya peningkatan kualitas intelijen.
Sekaligus menandakan keterlibatan aktor global lain dalam konflik.
Dengan Rusia dan Cina berada di belakang Iran secara politik, ketegangan di Timur Tengah berpotensi memicu dampak lebih besar terhadap stabilitas regional maupun global.(*)
| Ismail Rasyid Bahas Peluang Konektivitas Aceh-Malaysia |
|
|---|
| Detik-Detik Negosiasi Batal, Trump Pilih Perpanjang Gencatan Senjata dengan Iran |
|
|---|
| Pernyataan Lengkap Ismail Rasyid Terkait Peluang Konektivitas Pelabuhan Aceh – Malaysia |
|
|---|
| Baru Perpanjang Gencatan Senjata, Trump Langsung Ancam Hancurkan Iran Jika Negosiasi Gagal |
|
|---|
| Kuba Akui Pembicaraan dengan AS, Desak Penghentian Blokade Energi di Tengah Ketegangan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Militer-AS-di-Pangkalan-Qatar-Mulai-Ditarik-Washington-Antisipasi-Serangan-Iran.jpg)