Dapur MBG Terima Rp1 Miliar per Bulan, Perputaran Dana di Jabar Capai Rp5 Triliun
Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa program MBG tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal.
Ringkasan Berita:
- Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengungkapkan bahwa setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menerima anggaran rata-rata sebesar Rp1 miliar setiap bulan.
- Dana tersebut tidak hanya digunakan untuk operasional, tetapi juga berkontribusi pada perputaran ekonomi di daerah.
- Sebagai contoh, di Provinsi Jawa Barat yang saat ini memiliki sekitar 5.000 SPPG, total uang yang beredar diperkirakan mencapai Rp5 triliun per bulan.
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengungkapkan bahwa setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menerima anggaran rata-rata sebesar Rp1 miliar setiap bulan.
Dana tersebut tidak hanya digunakan untuk operasional, tetapi juga berkontribusi pada perputaran ekonomi di daerah.
Sebagai contoh, di Provinsi Jawa Barat yang saat ini memiliki sekitar 5.000 SPPG, total uang yang beredar diperkirakan mencapai Rp5 triliun per bulan.
“Jika satu SPPG menerima Rp1 miliar per bulan dan jumlahnya 5.000, maka perputaran uang di Jawa Barat bisa mencapai Rp5 triliun setiap bulan,” jelas Dadan dalam keterangannya, Jumat (20/3/2026).
Ia menambahkan, sejak program ini berjalan selama kurang lebih 2,5 bulan, total dana yang telah beredar di Jawa Barat diperkirakan mencapai Rp11 hingga Rp12 triliun.
Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa program MBG tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal.
Baca juga: Prabowo: Lebih dari 1.000 Dapur MBG Disetop Sementara untuk Evaluasi
Program ini sejak awal dirancang untuk mendorong penggunaan bahan pangan dari daerah setempat.
Dengan begitu, kebutuhan dapur MBG diharapkan dapat dipenuhi oleh petani, pelaku UMKM, dan industri pangan lokal.
Selain itu, Dadan menjelaskan bahwa sekitar 93 persen anggaran Badan Gizi Nasional langsung disalurkan ke daerah melalui mekanisme virtual account yang terhubung dengan seluruh SPPG di Indonesia, yang jumlahnya kini telah mencapai 25.574 unit.
“Dengan sistem ini, distribusi dana menjadi lebih merata ke seluruh wilayah,” ujarnya.
Lebih lanjut, keberadaan SPPG juga membuka peluang kerja baru di tingkat lokal, mulai dari tenaga operasional hingga tenaga profesional seperti ahli gizi yang direkrut dari masyarakat sekitar.
Dadan juga menekankan pentingnya mendorong ekonomi sirkular di daerah.
Ia menyebutkan bahwa semakin banyak pemerintah daerah yang kini berupaya agar dana yang masuk dapat dibelanjakan untuk produk lokal.
“Sudah banyak kepala daerah yang ingin agar uang yang beredar di wilayahnya digunakan untuk membeli bahan baku lokal,” tambahnya.
Melalui pendekatan ini, program MBG diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat ekonomi daerah secara berkelanjutan.
Baca juga: Serangan AS-Israel Tewaskan 1.001 Orang di Lebanon, 3.134 Terbunuh di Iran
Baca juga: Menanamkan Cinta Al-Qur’an dan Ilmu di Cinta Al-Qur’an
Baca juga: VIDEO - Viral! Finalis Putri Indonesia Riau 2024 Digerebek Bareng Suami Teman di Tempat Biliar
Artikel ini sudah tayang di Kompas.com
| Di Balik Kritik Terhadap Mualem, Ada Perjuangan Besar untuk Aceh |
|
|---|
| Kapolres Lhokseumawe: Pengawasan SPPG Harus Ketat untuk Dukung Program MBG |
|
|---|
| Dosen USK Latih Warga Pidie Olah Ikan Jadi Produk Bernilai Ekonomi |
|
|---|
| VIDEO - Demo Mahasiswa Bengkulu Viral, Insiden Polwan Tersenggol Tuai Reaksi |
|
|---|
| HIMA Unimal Gelar Talkshow Entrepreneurial LEAP, Angkat Tema Ekonomi Kreatif |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Kepala-Badan-Gizi-Nasional-Dadan-Hindayana-memaparkan-dampak-Program-MBG.jpg)