Sabtu, 2 Mei 2026

Konflik Amerika vs Iran

Mayoritas Warga AS Dukung Pemakzulan Trump Terkait Perang Iran

Bonifaz menyebut hasil ini sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya di awal masa jabatan seorang presiden.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Faisal Zamzami
Tangkapan Layar YouTube ABC News/WIKIMEDIA COMMONS/ABE MCNATT
Daftar proyek Donald Trump di Indonesia, salah satu yang paling besar dari bisnis Donald Trump di Indonesia adalah proyek Lido. 
Ringkasan Berita:
  • Sebagian besar warga Amerika Serikat menginginkan Kongres memakzulkan Presiden Donald Trump atas kebijakan perangnya terhadap Iran serta sejumlah kebijakan kontroversial lainnya.
  • Hal ini terungkap dalam jajak pendapat terbaru, lebih dari 40 hari setelah koalisi militer AS–Israel melancarkan operasi terhadap Iran.
  • Survei yang dirilis pada Rabu (8/4) waktu setempat menunjukkan bahwa 52 persen pemilih terdaftar mendukung pemakzulan Trump, sementara 40 persen menentangnya.

 

SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON — Sebagian besar warga Amerika Serikat menginginkan Kongres memakzulkan Presiden Donald Trump atas kebijakan perangnya terhadap Iran serta sejumlah kebijakan kontroversial lainnya.

Hal ini terungkap dalam jajak pendapat terbaru, lebih dari 40 hari setelah koalisi militer AS–Israel melancarkan operasi terhadap Iran.

Menurut laporan Newsweek, survei yang dirilis pada Rabu (8/4) waktu setempat menunjukkan bahwa 52 persen pemilih terdaftar mendukung pemakzulan Trump, sementara 40 persen menentangnya.

Survei tersebut melibatkan 790 responden dan diprakarsai oleh dua kelompok yang menentang kebijakan Trump terhadap Iran, yaitu Impeach Trump Again dan Free Speech for People.

Jajak pendapat dilakukan oleh John Bonifaz, presiden sekaligus salah satu pendiri Free Speech for People, bersama perusahaan survei progresif yang dipimpin oleh Celinda Lake. Margin kesalahan survei ini tercatat sebesar 3,9 persen.

Bonifaz menyebut hasil ini sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya di awal masa jabatan seorang presiden.

Temuan juga menunjukkan bahwa satu dari tujuh pemilih Partai Republik turut mendukung proses pemakzulan.

Baca juga: Trump Bela Israel soal Serangan ke Lebanon, Sebut Tak Termasuk Gencatan Senjata, Iran Murka

Dukungan publik terhadap pemakzulan ini dinilai muncul lebih cepat dibandingkan era Presiden Richard Nixon, yang sebelumnya menjadi satu-satunya presiden AS dua periode yang menghadapi dukungan mayoritas untuk dimakzulkan.

Pada masa jabatan pertamanya, Dewan Perwakilan Rakyat telah dua kali memakzulkan Trump, namun Senat menolak kedua upaya tersebut.

Saat ini, Trump kembali menghadapi dorongan pemakzulan dari sejumlah anggota Kongres, terutama dari Partai Demokrat, menyusul ancaman dan konflik dengan Iran sejak 28 Februari lalu.

Salah satu tokoh yang vokal menyerukan pemakzulan adalah anggota Kongres Alexandria Ocasio-Cortez.

Ia menegaskan bahwa pengumuman gencatan senjata sementara tidak mengubah urgensi pencopotan presiden dari jabatannya.

Dalam pernyataannya, ia menyebut bahwa tindakan presiden telah membahayakan stabilitas global dan kesejahteraan nasional.

Ia juga menekankan bahwa langkah pemakzulan harus segera dipertimbangkan, baik melalui kabinet maupun Kongres.

Sejumlah legislator Demokrat lainnya juga telah menyuarakan sikap serupa.

Mereka menilai ancaman terhadap Iran tetap menjadi alasan kuat untuk melanjutkan upaya pemakzulan, meskipun terdapat upaya gencatan senjata.

Baca juga: Ancaman Trump Menggema! Serangan Lebih Besar Siap Hantam Iran Jika Kesepakatan Gagal

Polarisasi politik yang tajam

Survei menunjukkan perbedaan sikap yang mencolok antar kelompok politik.

Sebanyak 84 persen pemilih Demokrat mendukung pemakzulan, dengan 78 persen di antaranya sangat mendukung.

Sebaliknya, 81 persen pemilih Partai Republik menolak, dan 77 persen di antaranya menyatakan penolakan kuat.

Sementara itu, pemilih independen cenderung mendukung pemakzulan dengan perbandingan 55 persen berbanding 34 persen.

Bonifaz mengakui kondisi politik yang sangat terpolarisasi.

“Kita berada dalam lingkungan politik yang sangat terpolarisasi, dan pola seperti ini sudah terjadi sejak lama,” katanya.

Upaya di Kongres Di tengah meningkatnya tekanan publik, sejumlah anggota Demokrat mulai mendorong langkah pemakzulan.

Anggota DPR dari Connecticut, John Larson, mengumumkan bahwa ia telah mengajukan pasal pemakzulan terhadap Trump terkait konflik Iran

Dalam pernyataannya, Larson menilai Trump telah melampaui batas.

“Donald Trump telah melampaui setiap persyaratan untuk dicopot dari jabatannya. Dan itu semakin buruk. Perang ilegalnya di Iran tidak hanya menaikkan harga-harga bagi keluarga Amerika—tetapi juga telah merenggut nyawa warga Amerika,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pernyataan Trump yang dinilai berbahaya.

 “Ucapan Paskahnya yang kasar dan tidak pantas serta ancaman-ancamannya, termasuk ‘seluruh peradaban akan mati’ dan ‘buka Selat itu… atau Anda akan hidup dalam neraka’ tidak hanya mengisyaratkan kejahatan perang, tetapi juga membahayakan keamanan kita,” lanjutnya.

 Respons Trump

Sementara itu, Trump menanggapi upaya pemakzulan tersebut dengan nada meremehkan. Dalam sebuah rapat umum, ia berkata, “Hari ini mereka melakukannya lagi.

Seseorang yang belum pernah saya dengar namanya… apakah dia anggota Kongres? Orang ini berkata, ‘Hadirin sekalian, saya akan memulai pemakzulan terhadap Donald Trump.’”

Namun secara politik, peluang pemakzulan tetap kecil. 

Partai Republik menguasai DPR dengan perbandingan 218 banding 214 kursi, sementara Senat juga berada di bawah kendali mereka.

Padahal, pemakzulan membutuhkan suara mayoritas di DPR dan dukungan dua pertiga suara di Senat.

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved