Minggu, 19 April 2026

AS dan Israel Serang Iran

Selat Hormuz Memanas, Perang Lebih Besar AS-Iran Terbuka di Depan Mata

Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah Iran memberlakukan kembali pembatasan di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan

Editor: Ansari Hasyim
Kompas.com/Seto Ajinugroho
KAPAL PERTAMINA - Dua kapal Pertamina Indonesia masih tertahan di Selat Hormuz. 
Ringkasan Berita:
  • Seorang analis politik Iran, Profesor Mostafa Khoshcheshm, menyebut langkah Teheran itu sebagai respons langsung atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Amerika Serikat. 
  • Kepada Al Jazeera dari Teheran, ia menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata sejatinya mewajibkan selat tersebut tetap terbuka.

 

SERAMBINEWS.COM - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah Iran memberlakukan kembali pembatasan di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia. Sejumlah analis menilai peluang terjadinya konflik terbuka kini lebih besar dibandingkan harapan tercapainya meja perundingan.

Seorang analis politik Iran, Profesor Mostafa Khoshcheshm, menyebut langkah Teheran itu sebagai respons langsung atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Amerika Serikat. Kepada Al Jazeera dari Teheran, Sabtu, ia menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata sejatinya mewajibkan selat tersebut tetap terbuka.

“Blokade yang dilakukan AS merupakan pelanggaran langsung terhadap gencatan senjata. Bahkan, Amerika juga menambah pasukan dan peralatan militernya di kawasan, yang kembali melanggar kesepakatan,” ujarnya.

Baca juga: Iran Tegas, Tak Ada Uranium Diperkaya yang akan Dipindahkan ke AS

Khoshcheshm mengungkapkan bahwa Iran sempat melakukan upaya terbatas untuk membuka selat tersebut pada malam sebelumnya. Namun, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang dinilai tidak akurat justru memicu Teheran menutup kembali jalur strategis itu.

“Trump menyampaikan klaim yang keliru kepada media. Dari situlah Iran menyimpulkan bahwa menutup kembali selat adalah satu-satunya pilihan,” kata Khoshcheshm.

Ia pun pesimistis terhadap masa depan diplomasi. “Saat ini kondisinya jauh lebih sulit dibanding sebelumnya. Trump bisa mengubah sikap dan pernyataannya hampir setiap jam,” ucapnya blak-blakan.

Menurut Khoshcheshm, rekam jejak Trump yang kerap mengabaikan berbagai perjanjian dan komitmen internasional menjadi alasan utama sulitnya membangun kepercayaan. “Dia tidak menunjukkan rasa hormat terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa maupun Dewan Keamanan. Dalam situasi seperti ini, saya melihat kemungkinan perang jauh lebih besar dibandingkan negosiasi apa pun,” tegasnya.

Sementara itu, kritik juga datang dari Amerika Latin. Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menyerukan kepada lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB agar segera mengubah pendekatan mereka yang dinilai gagal meredam konflik di Timur Tengah.

Dalam pertemuan puncak internasional para pemimpin progresif di Barcelona, Lula secara tersirat menyentil Trump yang kerap melontarkan ancaman melalui media sosial terhadap Iran.

“Kita tidak bisa setiap pagi bangun dan setiap malam tidur dengan pesan dari seorang presiden yang mengancam dunia dan menyatakan perang,” ujar Lula.

Pernyataan-pernyataan keras dari berbagai pihak ini semakin menegaskan bahwa krisis Selat Hormuz bukan sekadar soal jalur pelayaran, melainkan cermin rapuhnya stabilitas geopolitik global yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi konflik berskala besar.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved