Jumat, 24 April 2026

Konflik Amerika vs Iran

Iran Mulai Raup Pendapatan dari Tarif Kapal di Selat Hormuz

“Pendapatan pertama yang diterima dari tarif Selat Hormuz telah disetorkan ke rekening Bank Sentral,” ujarnya

Editor: Faisal Zamzami
Kompas.com/Seto Ajinugroho
KAPAL PERTAMINA - Dua kapal Pertamina Indonesia masih tertahan di Selat Hormuz. 

Ringkasan Berita:
  • Iran dilaporkan untuk pertama kalinya mulai menerima pemasukan dari tarif kapal yang melintasi Selat Hormuz.
  • Kebijakan pungutan ini sebelumnya sempat diwacanakan oleh pemerintah Teheran dan kini mulai direalisasikan.
  • Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamidreza Hajibabaei, menyatakan bahwa pendapatan awal dari kebijakan tersebut telah masuk ke kas negara. 

 

SERAMBINEWS.COM, TEHERANIran dilaporkan untuk pertama kalinya mulai menerima pemasukan dari tarif kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Kebijakan pungutan ini sebelumnya sempat diwacanakan oleh pemerintah Teheran dan kini mulai direalisasikan.

Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamidreza Hajibabaei, menyatakan bahwa pendapatan awal dari kebijakan tersebut telah masuk ke kas negara.

“Pendapatan pertama yang diterima dari tarif Selat Hormuz telah disetorkan ke rekening Bank Sentral,” ujarnya pada Kamis (23/4/2026), seperti dikutip AFP melalui kantor berita Tasnim dan media Iran lainnya.

Namun, hingga kini belum ada rincian resmi mengenai besaran pendapatan maupun mekanisme tarif yang diterapkan kepada kapal-kapal yang melintas.

 
Selat Hormuz Jadi Titik Panas Konflik

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling vital di dunia.

Dalam kondisi normal, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melewati wilayah ini.

Sejak pecahnya konflik di Iran pada 28 Februari, kawasan tersebut berubah menjadi titik panas.

Iran dilaporkan hanya mengizinkan sebagian kecil kapal untuk melintas, sehingga mengganggu arus perdagangan energi dan komoditas global secara signifikan.

Baca juga: Perang Iran Hari ke-55: Dialog Mandek, Selat Hormuz Memanas, Ketegangan AS-Iran Kian Tak Terkendali

 
Kebijakan Tarif Sempat Diperdebatkan

Sebelum diterapkan, rencana pungutan ini sempat menjadi perdebatan di parlemen Iran.

Sejumlah pejabat bahkan memperingatkan bahwa lalu lintas maritim di Selat Hormuz kemungkinan tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang.

Pada 30 Maret, media pemerintah Iran melaporkan bahwa komisi keamanan parlemen telah menyetujui rencana penerapan tarif tersebut.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved