Rabu, 29 April 2026

Luar Negeri

Singapura: Selat Malaka Lebih Rentan daripada Selat Hormuz jika AS–China Perang

Jika hubungan kedua negara tersebut memburuk hingga memicu konflik, maka Selat Malaka akan menjadi titik paling krusial bagi stabilitas global.

Editor: Faisal Zamzami
Istimewa
SELAT MALAKA - Selat Malaka akan menjadi titik paling krusial bagi stabilitas global. 

Ringkasan Berita:
  • Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, menegaskan bahwa ketegangan geopolitik di Selat Hormuz hanya merupakan “latihan awal” dari potensi konflik yang lebih besar di kawasan Pasifik.
  • Menurutnya, pusat ketegangan dunia saat ini bukan di Timur Tengah, melainkan di hubungan strategis antara Amerika Serikat dan China di kawasan Indo-Pasifik.
  • Jika hubungan kedua negara tersebut memburuk hingga memicu konflik, maka Selat Malaka akan menjadi titik paling krusial bagi stabilitas global.

 


SERAMBINEWS.COM, SINGAPURA — Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, menegaskan bahwa ketegangan geopolitik di Selat Hormuz hanya merupakan “latihan awal” dari potensi konflik yang lebih besar di kawasan Pasifik.

Menurutnya, pusat ketegangan dunia saat ini bukan di Timur Tengah, melainkan di hubungan strategis antara Amerika Serikat dan China di kawasan Indo-Pasifik.

Jika hubungan kedua negara tersebut memburuk hingga memicu konflik, maka Selat Malaka akan menjadi titik paling krusial bagi stabilitas global.

“Bahaya utamanya adalah jika hubungan itu retak akibat perang di Pasifik. Apa yang Anda saksikan sekarang di Selat Hormuz hanyalah latihan awal,” ujar Balakrishnan dalam forum CNBC Converge Live di Singapura, dikutip dari South China Morning Post, Selasa (28/4/2026).

 
Selat Malaka Jadi Jalur Strategis Utama

Balakrishnan menekankan bahwa Singapura, Malaysia, dan Indonesia memiliki kepentingan bersama untuk menjaga Selat Malaka tetap terbuka, termasuk dari kemungkinan wacana pungutan biaya tol di jalur tersebut.

Ia juga menyoroti bahwa kawasan ini memiliki kepentingan strategis yang sangat besar bagi perdagangan global, sehingga tidak boleh terganggu oleh konflik atau kebijakan sepihak.

Baca juga: Thailand Genjot Proyek Land Bridge Rp532 Triliun, Disiapkan Jadi Pesaing Selat Malaka

 
AS, China, dan Tekanan Geopolitik

Dalam sesi yang sama, Balakrishnan ditanya mengenai tekanan geopolitik dari AS dan China agar negara-negara Asia Tenggara memilih pihak.

Ia menyatakan bahwa Singapura sejauh ini tidak mengalami tekanan langsung untuk berpihak.

Ia juga menekankan pentingnya hubungan ekonomi dengan kedua negara tersebut:

Amerika Serikat memiliki investasi besar di Asia Tenggara, bahkan lebih besar dibanding gabungan beberapa negara besar lainnya.

China juga merupakan salah satu sumber utama investasi asing bagi Singapura.
Menurutnya, kedua negara tetap memiliki kepentingan ekonomi yang kuat di kawasan.

 
Ancaman Lebih Dekat: Energi, AI, dan Teknologi

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved