Wawancara Khusus
Kiprah Ismail Rasyid di Panggung Pengusaha Global
Forum bergengsi yang berlangsung di Hotel Sheraton Hanoi ini, mempertemukan lebih dari 160 pelaku freight forwarder dari 60 negara
Annual Global Meeting (AGP) 2026 yang berlangsung di Hanoi, Vietnam, pada 20–23 April 2026, menjadi panggung penting bagi Ismail Rasyid untuk menegaskan peran PT Trans Continent di kancah logistik internasional. Berikut catatan wartawan Serambi Indonesia, Zainal Arifin M Nur, yang hadir langsung dalam pertemuan tersebut:
Forum bergengsi yang berlangsung di Hotel Sheraton Hanoi ini, mempertemukan lebih dari 160 pelaku freight forwarder dari 60 negara yang bergabung dalam organisasi Globalink & Global Value Network. Forum ini sekaligus menjadi ajang strategis bagi para pelaku industri logistik global untuk memperkuat jejaring, menjajaki peluang baru, dan merumuskan arah masa depan industri.
Dalam pertemuan tersebut, Ismail Rasyid hadir bersama sembilan anggota tim PT Trans Continent, menjadikannya sebagai delegasi terbesar dari seluruh peserta yang datang dari berbagai negara. Kehadiran tim Trans Continent ini bukan sekadar simbol partisipasi, melainkan penegasan komitmen perusahaan untuk terus tumbuh, beradaptasi, dan tampil sebagai pemain global yang diperhitungkan.
Menembus batas global
Bagi Ismail Rasyid, kiprah di panggung global adalah buah dari perjalanan panjang yang ditempa oleh pengalaman, ketekunan, dan semangat belajar tanpa henti. Lahir di Matangkuli, Aceh Utara, pada 3 Juni 1968, Ismail merupakan putra pasangan H.M. Rasyid S dan Salamah.
Perjalanan akademiknya tidak berlangsung secara konvensional. Tuntutan pekerjaan membuatnya beberapa kali harus menunda pendidikan formal. Namun, hal itu tidak pernah menghentikan proses belajarnya. “Belajar itu tidak pernah berhenti. Formal boleh tertunda, tapi informal terus berjalan,” kata Ismail dalam wawancara khusus dengan Serambi di sela-sela pertemuan itu.
Setelah mendirikan perusahaan di Australia pada 2016, Ismail kembali menata rencana akademiknya. Momentum pandemi Covid-19, yang mendorong berkembangnya sistem pembelajaran daring dan hybrid, memberinya kesempatan untuk menuntaskan pendidikan formal.
Ia meraih gelar magister pada 2023. Tiga tahun kemudian, pada 2026, Ismail berhasil menyelesaikan program doktor di ITL Trisakti, Jakarta, dengan fokus pada supply chain dan logistik. Baginya, pencapaian akademik bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari perjalanan intelektual yang terus berkembang. Bahkan, ia membuka kemungkinan untuk melanjutkan ke jenjang profesor.
Fondasi keluarga
Di balik kesuksesannya sebagai pengusaha global, Ismail tetap menempatkan keluarga sebagai fondasi utama. Bersama istrinya, Erni Molisa, ia membesarkan dua anak: Jibril Gibran dan Syifa Aulia.
Jibril kini mulai aktif dalam dunia bisnis keluarga, sementara Syifa Aulia tengah menempuh studi Marketing Communications di University of Melbourne, Australia.
Bagi Ismail, keluarga adalah sumber nilai, inspirasi, dan keberlanjutan. Prinsip kerja keras, integritas, dan komitmen yang ia pegang selama ini menjadi warisan yang ingin diteruskan kepada generasi berikutnya.
Momentum regenerasi
AGP 2026 juga menjadi tonggak penting dalam proses regenerasi kepemimpinan PT Trans Continent, perusahaan yang didirikan Ismail pada tahun 2003 silam. Dalam forum ini, Alan Hugh Mclare, praktisi supply chain asal Skotlandia, resmi diperkenalkan sebagai Chief Operating Officer (COO). Kehadiran Alan diharapkan akan semakin memperkuat struktur manajemen perusahaan.
Pada saat yang sama, Ismail juga memperkenalkan putranya, Jibril Gibran, sebagai Komisaris PT Trans Continent kepada para pengurus organisasi Globalink & Global Value Network, serta para mitra global yang hadir pada pertemuan ini. Ismail Rasyid mengatakan, kehadiran Jibril menandai dimulainya fase transisi kepemimpinan yang telah lama dipersiapkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Bos-Trans-Continent-Ismail-Rasyid.jpg)