Kamis, 30 April 2026

Wawancara Khusus

Kiprah Ismail Rasyid di Panggung Penting Pengusaha Global

Ismail Rasyid, kiprah di panggung global adalah buah dari perjalanan panjang yang ditempa oleh pengalaman, ketekunan, dan semangat belajar tanpa henti

Tayang:
Editor: mufti
for serambinews/SERAMBI/ZAINAL ARIFIN
REGENERASI - CEO PT Trans Continent, Ismail Rasyid (kiri) dan putranya Jibril Gibran, berfoto bersama Bill Siemens, Chairman Globalink & Global Value Network, di sela-sela kegiatan Annual Global Meeting (AGP) 2026, di Hanoi Vietnam, 20-23 April 2026. AGP 2026 menjadi momentum penting bagi proses regenerasi kepemimpinan di PT Trans Continent, perusahaan yang didirikan oleh Ismail Rasyid pada tahun 2003 silam. 

Annual Global Meeting (AGP) 2026 yang berlangsung di Hanoi, Vietnam, pada 20–23 April 2026, menjadi panggung penting bagi Ismail Rasyid untuk menegaskan peran PT Trans Continent di kancah logistik internasional. Berikut catatan wartawan Serambi Indonesia, Zainal Arifin M Nur, yang hadir langsung dalam pertemuan tersebut:

*

Forum bergengsi yang berlangsung di Hotel Sheraton Hanoi ini, mempertemukan lebih dari 160 pelaku freight forwarder dari 60 negara yang bergabung dalam organisasi Globalink & Global Value Network. Forum ini sekaligus menjadi ajang strategis bagi para pelaku industri logistik global untuk memperkuat jejaring, menjajaki peluang baru, dan merumuskan arah masa depan industri.

Dalam pertemuan tersebut, Ismail Rasyid hadir bersama sembilan anggota tim PT Trans Continent, menjadikannya sebagai delegasi terbesar dari seluruh peserta yang datang dari berbagai negara. Kehadiran tim Trans Continent ini bukan sekadar simbol partisipasi, melainkan penegasan komitmen perusahaan untuk terus tumbuh, beradaptasi, dan tampil sebagai pemain global yang diperhitungkan.

Menembus batas global

Bagi Ismail Rasyid, kiprah di panggung global adalah buah dari perjalanan panjang yang ditempa oleh pengalaman, ketekunan, dan semangat belajar tanpa henti. Lahir di Matangkuli, Aceh Utara, pada 3 Juni 1968, Ismail merupakan putra pasangan H.M. Rasyid S dan Salamah.

Perjalanan akademiknya tidak berlangsung secara konvensional. Tuntutan pekerjaan membuatnya beberapa kali harus menunda pendidikan formal. Namun, hal itu tidak pernah menghentikan proses belajarnya. “Belajar itu tidak pernah berhenti. Formal boleh tertunda, tapi informal terus berjalan,” kata Ismail dalam wawancara khusus dengan Serambi di sela-sela pertemuan itu.

Setelah mendirikan perusahaan di Australia pada 2016, Ismail kembali menata rencana akademiknya. Momentum pandemi Covid-19, yang mendorong berkembangnya sistem pembelajaran daring dan hybrid, memberinya kesempatan untuk menuntaskan pendidikan formal.

Ia meraih gelar magister pada 2023. Tiga tahun kemudian, pada 2026, Ismail berhasil menyelesaikan program doktor di ITL Trisakti, Jakarta, dengan fokus pada supply chain dan logistik. Baginya, pencapaian akademik bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari perjalanan intelektual yang terus berkembang. Bahkan, ia membuka kemungkinan untuk melanjutkan ke jenjang profesor.

Fondasi keluarga

Di balik kesuksesannya sebagai pengusaha global, Ismail tetap menempatkan keluarga sebagai fondasi utama. Bersama istrinya, Erni Molisa, ia membesarkan dua anak: Jibril Gibran dan Syifa Aulia.

Jibril kini mulai aktif dalam dunia bisnis keluarga, sementara Syifa Aulia tengah menempuh studi Marketing Communications di University of Melbourne, Australia.

Bagi Ismail, keluarga adalah sumber nilai, inspirasi, dan keberlanjutan. Prinsip kerja keras, integritas, dan komitmen yang ia pegang selama ini menjadi warisan yang ingin diteruskan kepada generasi berikutnya.


Momentum regenerasi

AGP 2026 juga menjadi tonggak penting dalam proses regenerasi kepemimpinan PT Trans Continent, perusahaan yang didirikan Ismail pada tahun 2003 silam. Dalam forum ini, Alan Hugh Mclare, praktisi supply chain asal Skotlandia, resmi diperkenalkan sebagai Chief Operating Officer (COO). Kehadiran Alan diharapkan akan semakin memperkuat struktur manajemen perusahaan.

Pada saat yang sama, Ismail juga memperkenalkan putranya, Jibril Gibran, sebagai Komisaris PT Trans Continent kepada para pengurus organisasi Globalink & Global Value Network, serta para mitra global yang hadir pada pertemuan ini. Ismail Rasyid mengatakan, kehadiran Jibril menandai dimulainya fase transisi kepemimpinan yang telah lama dipersiapkan.

Jibril, lulusan Master of Science in Supply Chain Management dari University of Manchester, diproyeksikan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan perusahaan. Namun bagi Ismail, proses suksesi tidak cukup hanya mengandalkan latar belakang akademik. “Saya ingin anak saya belajar langsung di lapangan, bertemu orang, merasakan dinamika bisnis. Tanpa itu, intelektual saja tidak cukup,” ujarnya.

Selama di Hanoi, tim PT Trans Continent melakukan lebih dari 40 pertemuan bilateral dengan mitra internasional. Dari rangkaian pertemuan tersebut, tercatat tiga hingga empat peluang bisnis besar yang berpotensi direalisasikan dalam waktu dekat.

Bagi Ismail, proses regenerasi bukan sekadar alih jabatan, melainkan transfer nilai, budaya perusahaan, jaringan, dan kepemimpinan. “Transisi itu tidak mulus. Pekerjaan tidak gampang di-takeover. Saya ingin dia memahami kultur perusahaan, leadership, dan bagaimana membumi,” papar Ismail.

Transformasi digital

Selain regenerasi, AGP 2026 menjadi momentum bagi Ismail untuk mempertegas arah transformasi PT Trans Continent. Menurutnya, industri logistik global tidak lagi dapat bertahan dengan pendekatan konvensional.
“Regenerasi, digitalisasi, transformasi--ketiga hal ini harus berjalan beriringan.”

PT Trans Continent kini tengah memperkuat fondasi transformasi melalui sejumlah langkah strategis, antara lain: digitalisasi proses operasional dan dokumentasi; integrasi sistem supply chain berbasis teknologi; peningkatan visibilitas rantai pasok secara real-time; pengembangan layanan berbasis data dan analitik; perekrutan talenta muda dengan kompetensi digital; serta penyelarasan human capital, sistem, dan peralatan.

Transformasi ini diarahkan untuk meningkatkan efisiensi, mempercepat inovasi, dan memperkuat daya saing perusahaan di pasar global.

Aceh dalam peta logistik global

Di balik agenda bisnis internasional, Ismail juga membawa misi besar untuk Aceh. Ia melihat tanah kelahirannya yang berstatus sebagai provinsi paling barat Indonesia ini, memiliki posisi geografis yang sangat strategis di jalur perdagangan dunia.

Dalam beberapa kesempatan pertemuan tatap muka (one on one) dengan mitra bisnisnya di Hanoi, Ismail membahas peluang pengembangan konektivitas antara pelabuhan di Aceh dan Port Klang, Malaysia. Inisiatif ini diharapkan menjadi koridor ekspor baru yang mampu menghubungkan Aceh dengan pasar global secara lebih efisien.

“Secara geografis Aceh sangat potensial. Tapi kebijakan daerah dan pusat harus sinkron. Kalau ini berhasil, Aceh bisa kembali hidup ekonominya dan terbuka keluar masuk dunia,” ujarnya.

Optimisme Ismail Rasyid untuk membuka peluang ekspor-impor Aceh ke pasar global, melalui pelabuhan Klang atau Port Klang Malaysia, muncul setelah dia bersama Alan dan Jibril melakukan diskusi mendalam dengan James Ku, GM Infinity Logistics & Transport Sdn, Bhd, perusahaan logistik dan cargo besar asal Malaysia.

Pertemuan Ismail Rasyid dengan pihak Infinity Logistics & Transport Malaysia dalam forum bisnis di Hanoi, Vietnam, menghasilkan kesepakatan positif. Perusahaan logistik besar asal Malaysia itu menyatakan siap mendukung rencana ekspor-impor langsung melalui pelabuhan Aceh menuju Port Klang, Malaysia dan sebaliknya.

Ismail menyatakan, konektivitas ini akan membawa sejumlah manfaat strategis, antara lain: mempercepat arus ekspor-impor; menurunkan biaya logistik; meningkatkan daya saing produk unggulan Aceh; membuka akses pasar internasional yang lebih luas; serta mendorong pertumbuhan ekonomi regional.

Logistik sebagai jembatan peradaban

AGP 2026 di Hanoi menjadi lebih dari sekadar forum tahunan. Bagi Ismail Rasyid, pertemuan ini adalah panggung regenerasi, transformasi, dan diplomasi bisnis. Melalui forum ini, ia tidak hanya memperkuat posisi PT Trans Continent di tingkat global, tetapi juga membawa nama Aceh ke dalam percakapan logistik internasional.

Kiprah Ismail menunjukkan bahwa pengusaha daerah mampu bersaing di level dunia ketika didukung visi, jejaring, dan kemampuan beradaptasi. “Supply chain itu ilmu terapan yang sangat penting. Dari pagi sampai sore, sejak orang lahir sampai meninggal, ada proses supply chain di situ. Maka saya yakin, logistik bukan sekadar bisnis, melainkan jembatan peradaban,” ujarnya.

Dari Aceh ke dunia, Ismail Rasyid terus membuktikan bahwa kepemimpinan visioner, pembelajaran sepanjang hayat, dan keberanian bertransformasi adalah kunci untuk menembus batas global.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved