Sabtu, 30 Mei 2026

AS dan Israel Serang Iran

‘Pesta Vampir Telah Berakhir’, Iran: Tak Ada Lagi Perisai bagi Pangkalan AS

Iran melontarkan pesan keras ke Washington. Di hadapan ratusan pejabat keamanan dunia, Teheran menegaskan era dominasi Amerika Serikat

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
tangkap layar ParsToday
Satu di antara Pangkalan Militer AS di Irak. Serangan terhadap infrastruktur AS di Irak mengalami eskalasi sejak Israel membombardir Gaza dengan dalih memberangus Hamas. 

SERAMBINEWS.COM - Iran melontarkan pesan keras ke Washington. Di hadapan ratusan pejabat keamanan dunia, Teheran menegaskan era dominasi Amerika Serikat di Asia Barat telah berakhir dan pangkalan-pangkalan militer AS tak lagi memiliki “perisai”.

Pernyataan tajam itu disampaikan Ali Bagheri, Wakil Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, saat berbicara pada Pertemuan Internasional Pejabat Keamanan Tingkat Tinggi ke-14 di Moskow, Rusia, Kamis.

Forum ini dihadiri perwakilan keamanan dari lebih 120 negara dan membahas arah baru arsitektur keamanan Asia Barat pascaperang 40 hari dengan Amerika Serikat dan Israel.

Dalam pidatonya, Bagheri menyebut Iran tengah menghadapi “perang agresif” yang dilancarkan AS dan Israel.

Namun, menurutnya, ketahanan rakyat Iran dan kesiapan militer nasional justru mematahkan seluruh kalkulasi strategis lawan.

“Ketahanan yang menakjubkan dari rakyat Iran dan angkatan bersenjata heroik kami membuktikan bahwa ambisi dan sistem militer musuh gagal total menghadapi proyeksi kekuatan Republik Islam Iran,” tegas Bagheri.

Ia menilai dunia kini berada di persimpangan sejarah. Negara-negara Global Selatan dan Timur, kata dia, bergerak menuju multilateralisme dan kerja sama setara, sementara Barat memilih kekerasan demi mempertahankan hegemoni.

“Struktur keamanan yang bertumpu pada AS telah menjadi sumber ketidakamanan lintas kawasan,” ujarnya.

Kritik “Pakta Firaun”

Bagheri juga menguliti Perjanjian Abraham—normalisasi Israel dengan sejumlah negara Arab—yang ia juluki “Pakta Firaun”.

Alih-alih membawa damai, pakta itu disebutnya memperlebar instabilitas dan membuka jalan bagi eskalasi konflik di Asia Barat.

Ia bahkan mengaitkan normalisasi tersebut dengan peristiwa 7 Oktober 2023 yang dipimpin Hamas, yang disebutnya sebagai reaksi atas upaya meminggirkan perjuangan Palestina dan kesucian Al-Quds.

Pesan ke Washington dan Sekutu

Nada paling keras diarahkan pada kehadiran militer AS di kawasan. Bagheri menegaskan negara-negara regional tak lagi bisa berperan sebagai tameng bagi pangkalan AS.

Ia juga menyoroti posisi strategis Iran di Selat Hormuz, seraya memperingatkan bahwa setiap pihak yang memanfaatkan jalur vital itu untuk mengancam keamanan negara pantai akan dimintai pertanggungjawaban.

Sebagai jalan keluar, Bagheri menyerukan “persamaan keamanan baru” bagi Asia Barat dan Teluk Persia—kerangka keamanan endogen yang menolak hegemoni dan bebas dari kehadiran kekuatan ekstra-regional.

Ia menegaskan kesiapan Iran berdialog dan bekerja sama secara konstruktif dengan negara-negara yang bertanggung jawab demi stabilitas kawasan.

Di sela konferensi, Bagheri juga menggelar pertemuan bilateral dengan sejumlah pejabat keamanan nasional serta mengikuti pertemuan tertutup perwakilan negara-negara anggota BRICS.

Forum ini berlangsung hingga Jumat dan menjadi bagian penting dari Forum Keamanan Internasional Moskow.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved