Berita Nasional

Demo di DPR RI Ricuh, Eks Kepala BIN Ungkap Dalangnya: Ada yang Main

"Karena saya tahu, saya nggak lebih pintar dari kalian. Saya tidak lebih pintar. Tapi saya mengalami semua. Dan ini ada yang main gitu.

Editor: Nurul Hayati
KOMPAS.com/Lidia Pratama Febrian
Demo mahasiswa di DPR 28 Agustus 2025 ricuh, lempar bambu runcing dan bakar sampah. 

"Karena saya tahu, saya nggak lebih pintar dari kalian. Saya tidak lebih pintar. Tapi saya mengalami semua. Dan ini ada yang main gitu. Pada waktunya saya bisa sampaikan namanya yang main. Itu dari sana," katanya.

SERAMBINEWS.COM - Siapa dalang di balik kericuhan demo buruh di DPR RI?

Kericuhan dalam demo buruh dan mahasiswa di depan Gedung DPR/MPR RI pada 28 Agustus 2025 tidak sepenuhnya berasal dari peserta aksi.

Berdasarkan keterangan resmi dari pihak kepolisian dan intelijen, berikut adalah temuan terkait dalang di balik insiden tersebut:

Versi Polisi: Penyusup Tak Dikenal
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ade Ary menyatakan bahwa kericuhan dipicu oleh pihak-pihak tak dikenal yang menyusup ke dalam aksi damai.

Mereka tidak memiliki struktur organisasi, tidak ada koordinator lapangan, dan langsung melakukan tindakan anarkis seperti: membakar bendera, merusak CCTV, mencoret tembok,
masuk ke jalur tol dan membahayakan pengguna jalan.

Versi Intelijen: Dalang dari Luar Negeri
A.M. Hendropriyono, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), menyebut bahwa ada aktor asing non-negara (non-state) yang menjadi dalang kericuhan.

Ia menyebut bahwa pihak luar tersebut menggerakkan “kaki tangan” di dalam negeri yang tidak sadar sedang diperalat.

Beberapa nama yang disebut sebagai tokoh kapitalis global yang punya pengaruh besar: George Soros, George Tenet, David Rockefeller, Michael Bloomberg.

“Tujuannya sama seperti kolonialisme dulu, hanya caranya berbeda. Dulu pakai peluru, sekarang pakai pengaruh,” ujar Hendropriyono

Belum ada nama resmi yang diungkap sebagai dalang utama.

Polisi masih menyelidiki identitas penyusup.

Intelijen meyakini ada agenda global yang memanfaatkan ketidakpuasan sosial di dalam negeri.

Baca juga: Demo Buruh di DPR RI Ricuh, Polisi Tembakkan Gas Air Mata, Puluhan Orang Diamankan

Respons Eks Kepala BIN

Demo Mahasiswa di DPR 28 Agustus Ricuh, Polisi Dorong Massa dengan Water Cannon
Demo mahasiswa di DPR 28 Agustus 2025 ricuh, polisi dorong massa dengan water cannon (KOMPAS.com/Lidia Pratama Febrian)

 

Eks Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono menilai ada dalang dalam aksi unjuk rasa yang ricuh di gedung DPR Jakarta pada 25 dan 28 Agustus 2025.

Hal itu disampaikan Hendropriyono usai mendampingi eks pejuang Timor Timur yang bersilaturahmi dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (28/8/2025) sore. 

"Karena saya tahu, saya nggak lebih pintar dari kalian. Saya tidak lebih pintar. Tapi saya mengalami semua. Dan ini ada yang main gitu. Pada waktunya saya bisa sampaikan namanya yang main. Itu dari sana," katanya.

Dalang aksi unjuk rasa tersebut, kata dia, adalah pihak asing yang menggerakkan kaki tangannya di Indonesia. 

Kaki tangan di Indonesia tersebut, menurut Hendropriyono, tidak menyadari sedang diperalat.

"Dari luar. Dari luar (dalangnya). Orang yang dari luar hanya menggerakkan kaki tangannya yang ada di dalam (di Indonesia). Dan saya sangat yakin bahwa kaki tangannya di dalam (negeri) ini tidak ngerti bahwa dia dipakai," katanya.

 Menurut Kepala BIN pertama Indonesia itu, dalang yang bermain bukanlah aktor yang mengatasnamakan negara.

Meskipun bukan atas nama negara, dalang tersebut sangat berpengaruh. 

Hendropriyono bahkan menyebut sejumlah nama diantaranya taipan dunia George Soros, mantan direktur CIA George Tenet, dan taipan David Rockefeller.

"Sebetulnya non-state. Tapi pengaruhnya sangat besar kepada kebijakan dari negaranya. Kebijakannya itu langkah-langkahnya kita baca selalu pas dengan usulan dari non-state. Non-state tapi isinya George Soros, isinya George Tenet, isinya tadi saya sampaikan David Rockefeller, Bloomberg. Baca sendirilah kaum kapitalis begitu. Itu yang usul," katanya.

Tujuan dari dalang tersebut, lanjut Hendropriyono, yakni mereka ingin menjajah Indonesia secara ekonomi.

"Tujuannya kan sama saja. Dari dulu juga maunya menjajah. Tapi kan caranya lain. Dulu kan pakai peluru, pakai bom. Kalau kita masih diam saja ya habis kita," pungkasnya.

Baca juga: Demo Besar-besaran di DPR RI, 4.531 Polisi Dikerahkan Amankan Aksi Unjuk Rasa Buruh

Media Sosial Jadi Alat Provokasi dan Propaganda
Media sosial digunakan untuk memprovokasi massa berunjuk rasa di gedung DPR RI.

Polisi mengungkap adanya tiga kanal media sosial yang digunakan untuk memprovokasi pelajar agar ikut berunjuk rasa di depan Gedung DPR RI, Kamis (28/8/2025) lalu.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi mengatakan temuan itu berawal dari interogasi terhadap 120 pelajar yang dicegah polisi saat hendak menuju lokasi demonstrasi.

“Berdasarkan interogasi komunikasi awal rekan-rekan kami di lapangan secara humanis, diajak ngobrol baik-baik, mereka mengakui bahwa datang ke sini untuk demo karena ikut ajakan medsos,” ujar Ade Ary di Kompleks DPR, Kamis.

Menurut Ade Ary, ajakan tersebut disebarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Mereka memanfaatkan situasi untuk menarik pelajar agar terlibat dalam aksi unjuk rasa.

“Ini dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, yang ingin memanfaatkan situasi, yang ingin memanfaatkan anak-anak ini, pelajar ini, untuk ikut lakukan kegiatan,” kata Ade Ary.

Ade Ary pun mengimbau semua pihak agar tidak menyalahgunakan media sosial untuk kepentingan yang merugikan masyarakat.

Dia juga mengingatkan bahwa penyebaran ajakan yang memicu kericuhan bisa berpotensi dan berujung pada proses hukum.

Baca juga: Demo Hari Ini, 10 Ribu Buruh dari Berbagai Kota Kepung DPR RI

Pemerintah Panggil TikTok dan Meta
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Angga Raka Prabowo menegaskan, fenomena disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK) di media sosial akan merusak sendi demokrasi.

Pihaknya akan memanggil sejumlah platform media sosial yang dinilai bertanggung jawab atas informasi yang beredar.

Beberapa platform media sosial yang dipanggil di antaranya TikTok dan Meta.

Meta adalah perusahaan teknologi global yang menjadi induk dari Facebook, Instagram, WhatsApp , dan berbagai produk digital lainnya.

Pemanggilan ini menyusul demo yang terjadi di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI yang berujung ricuh karena konten provokatif di media sosial.

"Iya (akan memanggil). Saya pribadi, tadi sama Pak Dirjen juga, saya hubungi. Yang pertama, saya sudah hubungi Head TikTok Asia Pasifik, Helena. Saya minta mereka ke Jakarta, kita akan bercerita tentang fenomena ini," kata Angga Raka di Kantor PCO, Jakarta Pusat, Selasa (26/8/2025) dikutip dari Tribun Jabar.

"Dan kita juga sudah komunikasi dengan TikTok Indonesia," ucapnya.

Rusuh di DPR 2 Hari
Sebelumnya aksi unjuk rasa menolak tunjangan berlebih anggota DPR berlangsung ricuh di depan Gedung DPR/MPR RI pada 25 Agustus 2025.

Aparat menembakkan gas air mata sementara demonstran melempar batu dan botol, dan membakar ban.

Bahkan, terjadi perusakan fasilitas umum seperti pos polisi dan pembatas busway.   

Bentrokan tersebut berlangsung hingga malam hari dengan eskalasi yang signifikan.

Pada sore hari ini 28 Agustus 2025, unjuk rasa mahasiswa dan pelajar juga rusuh di gedung DPR Jakarta.

Mereka beralasan menolak kebijakan tunjangan rumah sebesar Rp 50 juta untuk anggota DPR serta menuntut keadilan bagi guru honorer.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Eks Kepala BIN Ungkap Dalang di Balik Demo Rusuh di DPR, 

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved