Pojok Humam Hamid
Senyar Aceh 25, Gelap, dan Lilin-Lilin yang Kita Abaikan
ketika masyarakat Aceh sedang berjuang untuk sekadar bertahan, ruang publik nasional terbelah oleh amarah.
Oleh Ahmad Humam Hamid*)
Siklon Senyar menghantam Aceh seperti sebuah tamparan dari alam-keras, tiba-tiba, dan meninggalkan rasa perih yang tidak segera hilang.
Rumah-rumah rata dengan tanah, jembatan ambruk seperti mainan rapuh, dan ribuan keluarga berpindah dari satu tempat ke tempat lain mencari ruang aman yang mungkin tidak pernah benar-benar ada.
Anak-anak menangis di tenda pengungsian, orang tua menggigil kedinginan, dan ibu-ibu berusaha memasak dari bahan seadanya sambil bertanya-tanya bagaimana mereka akan melewati malam berikutnya.
Namun ketika masyarakat Aceh sedang berjuang untuk sekadar bertahan, ruang publik nasional terbelah oleh amarah.
Setiap orang merasa berhak menunjukkan siapa yang paling benar, siapa yang paling peduli, siapa yang paling lantang mengutuk kegelapan.
Padahal kegelapan tidak pernah terusir oleh kutukan.
Ia hanya pergi ketika kita menyalakan lilin.
Kita semakin sering melihat pola yang berulang: saat bencana datang, energi sosial kita justru banyak terserap dalam kemarahan-kemarahan terhadap pemerintah yang dianggap lamban, terhadap elite ekonomi yang dinilai abai, terhadap perusahaan-perusahaan yang dituduh merusak lingkungan, terhadap birokrasi yang tampak tidak bergerak, bahkan terhadap sesama masyarakat yang dianggap tidak peka.
Semua merasa perlu menunjukkan kemarahan, seolah kemarahan itu sendiri sudah cukup menjadi tindakan.
Tetapi Aceh yang porak-poranda hari ini tidak dapat diselamatkan oleh kemarahan.
Ini bukan berarti pemerintah tidak perlu dikritik.
Justru sebaliknya: kritik adalah bagian dari demokrasi, vitamin bagi negara.
Tetapi ketika seluruh energi publik hanya berkutat pada kemarahan, pada kecaman, pada pencarian kambing hitam, maka kita kehilangan energi moral untuk menyelamatkan manusia yang hari ini sedang bertarung untuk hidup.
Baca juga: VIDEO Bahlil Lapor Kondisi Listrik di Aceh ke Presiden Prabowo
Menguji Watak Bangsa
Senyar tidak hanya memporak-porandakan rumah dan infrastruktur.
Ia juga sedang menguji watak bangsa ini.
Sejarah memberi kita banyak cermin untuk melihat diri.
Pada tahun 2011, Jepang mengalami salah satu bencana terdahsyat dalam sejarah modern: gempa magnitudo 9,0 dan tsunami raksasa yang menyapu wilayah Tohoku.
Ribuan nyawa hilang, kota-kota musnah, pembangkit nuklir lumpuh.
Dunia terkejut melihat skala kehancuran itu.
Namun dunia lebih terkejut lagi melihat bagaimana Jepang merespons: bukan dengan teriakan marah, bukan dengan saling menyalahkan, dan bukan dengan kepanikan.
Di tengah reruntuhan, orang-orang Jepang antre dengan tenang untuk mendapatkan makanan.
Di pusat pengungsian, warga saling membantu tanpa harus diperintah.
Para relawan datang dari seluruh negeri, membawa selimut, makanan, dan tenaga.
Mereka tidak mengutuk gelap; mereka menyalakan lilin-lilin kecil yang membuat dunia melihat kembali makna kemanusiaan.
Sikap itu bukan kebetulan.
Ia adalah buah dari budaya, pendidikan, dan kepercayaan bahwa solidaritas lebih kuat daripada amarah.
Dunia juga sempat menyaksikan Badai Katrina pada 2005, ketika New Orleans terbenam oleh air.
Pemerintah Amerika Serikat dikritik habis-habisan karena dianggap lamban dan tidak sigap.
Tetapi penyelamatan bukan datang dari gedung-gedung pemerintahan.
Ia datang dari warga biasa: kelompok gereja, komunitas lokal, kelompok Afro-Amerika, organisasi kampus, dan orang-orang yang mengemudi mobil pribadi untuk menjemput tetangga yang terjebak.
Kemarahan memang ada, tetapi ia tidak mematikan solidaritas.
Begitu pula dengan Turki pada 1999 ketika gempa Izmit mengguncang kota besar itu.
Birokrasi runtuh oleh kritik, tetapi masyarakat sipil bangkit spontan.
Kelompok-kelompok kecil bergerak cepat, jauh lebih cepat dari negara.
Mereka membentuk jaringan informal yang kemudian menjadi cikal-bakal sistem penanggulangan bencana modern Turki.
Baca juga: Cahaya dari Surya, Harapan Pengungsi Paloh Raya di Tengah Gelap Pascabanjir
Tidak Boleh Tumbang
Sejarah dunia menunjukkan pola yang jelas: negara boleh goyah ketika bencana datang, tetapi masyarakat sipil tidak boleh ikut tumbang.
Aceh sendiri pernah menunjukkan kebijaksanaan yang jauh lebih besar daripada yang kita kira.
Tahun 2004, tsunami meratakan hampir seluruh garis pantai Aceh.
Lebih dari 160.000 nyawa hilang.
Tidak ada kata yang cukup untuk menggambarkan skala kehancuran saat itu.
Namun Aceh tidak runtuh oleh kemarahan.
Ia bangkit oleh cinta, keberanian, dan solidaritas.
Anak-anak muda menjadi relawan, meunasah berubah menjadi pusat pengungsian, warga desa bahu-membahu memasak makanan untuk keluarga lain, dan dunia internasional datang membantu Aceh tanpa syarat.
Di masa itu, Aceh mengirim pesan ke seluruh dunia: di tengah kehancuran total, kemanusiaan tetap bisa tumbuh.
Kini, Senyar menempatkan Aceh di persimpangan sejarah yang sama.
Pertanyaannya bukan lagi “di mana pemerintah?” atau “siapa yang salah?”. Pertanyaannya adalah:
Apakah kita akan mengulangi kebijaksanaan 2004 atau kita akan tenggelam dalam kemarahan tanpa arah?
Bagian paling politis dari bencana bukan soal siapa menteri yang turun, siapa pejabat yang datang, atau siapa elite yang membuat pernyataan.
Bagian paling politis dari sebuah bencana adalah keputusan kolektif masyarakat dalam meresponsnya.
Kita sering terjebak dalam ilusi bahwa negara selalu siap.
Fakta lapangan menunjukkan hal lain: tidak ada negara di dunia yang sepenuhnya siap menghadapi bencana besar.
Jepang yang paling disiplin pun kewalahan di Tohoku.
Amerika Serikat yang punya anggaran triliunan pun kalang kabut saat Katrina.
Turki yang memiliki militer besar pun runtuh ketika gempa Izmit datang.
Jika negara-negara besar saja goyah, wajar bila negara kita juga mengalami keterlambatan atau kekurangan.
Ini Kritik Kepada Kita Semua
Namun bencana tidak menunggu kesiapan.
Ia datang, menghancurkan, dan meninggalkan manusia menghadapi kenyataan yang pahit.
Karena itu, masyarakat sipil justru memegang kunci.
Ini bukan kritik kepada pemerintah.
Ini kritik kepada kita semua: jangan serahkan seluruh beban kemanusiaan hanya kepada negara.
Jika kita hanya mengutuk pemerintah, kita membuat diri kita seperti penonton dalam tragedi yang menimpa saudara-saudara kita sendiri.
Kita memperlakukan bencana seakan-akan itu bukan urusan kita.
Kita lupa bahwa bantuan sekecil apa pun-beras satu kantong, sarung satu helai, listrik satu genset kecil-bisa mengubah kesedihan seseorang menjadi harapan.
Dan di sinilah letak politik yang sejati: pilihan untuk bertindak atau tidak bertindak adalah tindakan politik.
Pilihan untuk menolong atau tidak menolong adalah keputusan moral yang dampaknya jauh lebih besar daripada perdebatan siapa yang harus disalahkan.
Hari ini di Aceh, ribuan keluarga tidak menunggu kemarahan kita.
Mereka menunggu kehadiran kita.
Ada anak kecil yang tidur berselimutkan udara dingin.
Ada lansia yang sudah dua hari tidak makan cukup.
Ada ibu yang menggigil karena hanya memakai pakaian basah.
Ada keluarga yang menatap rumah tertimbun lumpur sampai atap mereka sambil bertanya pelan, “Harus ke mana kami sekarang?”
Mereka tidak peduli siapa yang berdebat paling keras di televisi.
Mereka tidak peduli siapa yang menang dalam perang opini di media sosial.
Mereka tidak menunggu kicauan marah; mereka menunggu uluran tangan.
Setiap manusia yang sedang menderita hanya menunggu satu hal: seberkas cahaya.
Cahaya itu bisa berupa makanan, logistik, bantuan darurat, tenaga relawan, atau sekadar kesediaan untuk tidak menutup mata.
Kita terlalu sering menganggap bantuan harus besar.
Padahal sejarah kemanusiaan dunia menunjukkan bahwa bencana sering dilawan oleh tindakan-tindakan kecil tetapi konsisten.
Satu lilin mungkin tidak menerangi seluruh Aceh.
Tetapi ribuan lilin-yang dinyalakan oleh ribuan orang biasa, bisa mengusir kegelapan.
Senyar tidak datang untuk menghancurkan Aceh.
Senyar datang untuk mengingatkan kita siapa diri kita sebenarnya.
Kita bisa memilih menjadi bangsa yang hanya marah, atau bangsa yang menolong.
Kita bisa memilih menjadi masyarakat yang hanya mengutuk, atau masyarakat yang menyalakan lilin.
Dan mari kita jujur: dunia tidak mengingat bangsa dari mana yang paling lantang marah, tetapi dari mana yang paling banyak menyalakan cahaya.
Hari ini Aceh butuh lilin-lilin itu lebih dari kapan pun.
Bukan hanya lilin dari pemerintah, tetapi lilin dari rakyatnya, dari masyarakat Indonesia di luar Aceh, dari diaspora, dari komunitas kecil hingga besar.
Lilin dari siapa saja yang menolak membiarkan gelap menang.
Kemarahan mungkin akan selalu ada.
Tetapi mari kita putuskan bahwa kemarahan itu harus berubah menjadi kepedulian.
Jika tidak, maka kita hanya menghasilkan suara tanpa cahaya.
Senyar telah menghadirkan kegelapan.
Kini tugas kita adalah menyalakan cahaya.
Dan cahaya itu ada pada kita semua.
*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid menjadi tanggung jawab penulis.
siklon senyar 2025
bencana siklon senyar
humam hamid aceh
pojok humam hamid
Serambi Indonesia
Serambinews
| Membaca Indonesia Hari Ini: Chairul Tanjung, Purbaya, dan Presiden Prabowo |
|
|---|
| Dolar Naik: Neraca Untung-Rugi Masyarakat Kawasan Pedesaan Kita |
|
|---|
| Prabowo dan The Economist: Indonesia dan Siklus Optimisme - Kewaspadaan Versi Media Internasional |
|
|---|
| JKA, Senyar, dan Otsus: Ujian Serius atau Kembali “Lagee Biasa”? |
|
|---|
| Tenaga Kerja Aceh: Dominasi Sektor Informal, TPT, dan Indikator Tak Sehat Lainnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Humam-Hamid-tanggapi-Benny-K-Harman.jpg)