Kupi Beungoh
Pemulihan Trauma Pascabanjir di Tanah Rencong
Dalam ilmu psikologi, kondisi ini dikenal sebagai stres traumatik, yakni respons alami tubuh dan pikiran terhadap peristiwa yang mengancam.
*) Oleh: Ulya Faizah, SIP
BANJIR yang melanda sejumlah wilayah di Aceh memang telah surut. Namun bagi sebagian mayarakat terutama mereka yang hingga kini masih bertahan di posko-posko pengungsian, bencana itu belum sepenuhnya berakhir.
Kehidupan masih berada dalam jeda antara menunggu kepastian, menata harapan, dan bertahan di tengah keterbatasan.
Dalam kondisi seperti ini, perhatian publik umumnya tertuju pada kerusakan rumah, fasilitas umum, serta penyaluran bantuan logistik.
Semua itu penting dan mendesak. Akan tetapi, ada satu aspek lain yang kerap luput dari perhatian, padahal dampaknya tidak kalah nyata, yakni kondisi psikologis para pengungsi pascabanjir.
Dari sudut pandang psikologi, banjir merupakan peristiwa yang mengguncang rasa aman paling dasar dalam diri manusia.
Ketika air datang secara tiba-tiba, individu dipaksa menghadapi situasi yang tidak dapat dikendalikan.
Proses evakuasi mendadak, kepanikan menyelamatkan diri, hingga kehilangan tempat berlindung menciptakan pengalaman emosional yang kuat dan membekas dalam ingatan.
Dalam ilmu psikologi, kondisi ini dikenal sebagai stres traumatik, yakni respons alami tubuh dan pikiran terhadap peristiwa yang mengancam keselamatan.
Trauma tidak selalu tampak secara kasat mata. Banyak pengungsi terlihat mampu bertahan, namun menyimpan kecemasan, ketegangan, dan rasa waspada yang berkepanjangan.
Sebagian pengungsi mengalami gangguan tidur, mudah terkejut, atau merasa gelisah setiap kali hujan turun.
Ada pula yang merasakan kelelahan emosional meski aktivitas fisik tidak terlalu berat. Reaksi-reaksi tersebut bukan tanda kelemahan, melainkan respon psikologis yang wajar dalam situasi pascabencana.
Anak-anak berada pada posisi yang lebih rentan. Bagi mereka, banjir bukan sekadar peristiwa alam, melainkan pengalaman yang dapat memengaruhi cara memandang dunia.
Tinggal di pengungsian, terputus dari rutinitas sekolah, kehilangan ruang bermain, serta menyaksikan kecemasan orang dewasa di sekitarnya dapat berdampak pada kestabilan emosi anak.
Dalam psikologi perkembangan, kondisi ini berpotensi mengganggu rasa aman jika tidak mendapat pendampingan yang memadai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Mahasiswi-Ilmu-Politik-Universitas-Syiah-Kuala-dan-Piskologi-UIN-Ar-Raniry-Ulya-Faizah.jpg)