Jurnalisme Warga
IN MEMORIAM: Razali Cut Lani, Guru Teladan yang Melahirkan Banyak Insan Terkemuka
Razali Cut Lani, seorang guru, ayah, dan pemuka masyarakat telah berpulang, meninggalkan jejak yang tidak akan lekang oleh zaman.
Catatan: Prof. Dr. APRIDAR, S.E., M.Si., Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK dan Ketua SMPT USK Periode 1991-1993
DUNIA pendidikan kehilangan salah satu pilar pendidik sejatinya. Pada Rabu, 10 Desember 2025, Razali Cut Lani, seorang guru, ayah, dan pemuka masyarakat telah berpulang, meninggalkan jejak yang tidak akan lekang oleh zaman.
Bukan sekadar nama di daftar pensiunan guru, beliau adalah sosok yang menjadi bukti nyata bahwa pengaruh seorang pendidik sejati melampaui dinding kelas, meresap ke dalam karakter anak-anak didiknya dan, yang paling menggugah, ke dalam jiwa anak-anak kandungnya sendiri.
Melalui perjalanan panjangnya yang dimulai dari sebuah gampong di Aceh Besar, Razali Cut Lani—kerap disingkat RCL—menegaskan bahwa teladan adalah kurikulum utama dalam membangun peradaban.
Ke panggung pengabdian
Lahir di Gampong Lubuk, Ingin Jaya, Aceh Besar, pada Senin, 6 Juli 1936, RCL menyaksikan langsung transformasi tanah kelahirannya. Lubuk, yang dulu kerap dilanda banjir, kini telah berkembang menjadi desa wisata berkat perluasan Krueng Aceh. Perubahan geografis ini seolah menjadi metafora hidupnya: dari kondisi yang penuh tantangan, muncul potensi dan kemajuan. Beliau adalah produk asli bumi Aceh yang tangguh, dibesarkan dalam kesederhanaan, tetapi memiliki cita-cita besar untuk mencerdaskan anak bangsa.
Pengabdiannya dimulai di garis depan yang berat. Tahun 1956, sebagai pegawai negeri sipil (PNS) muda, beliau mengawali karier mengajar di SMA Singkil, kemudian berpindah ke Kutacane, Aceh Tenggara. Di sana, beliau ditugaskan di Sekolah Guru B (SGB), sebuah lembaga yang bertujuan mencetak calon guru. Ini adalah titik awal yang strategis dan simbolis: sejak awal, beliau tidak hanya mengajar siswa, tetapi juga membentuk calon-calon pengajar baru.
Aktivitasnya meluas dengan mengajar di SMP dan SMA Al Washliah serta membina generasi muda melalui organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Front Pemuda Aceh. Jejaring organisasi inilah yang, seperti diungkapkan banyak sumber, membentuk karakter beliau yang taat, jujur, dan disiplin, sebuah karakter yang kemudian menjadi komoditas utama yang ditransfer ke murid-muridnya.
Pada tahun 1958, perjalanan kariernya membawa RCL ke pusat intelektual Aceh saat itu, Koetaradja (kini Banda Aceh), untuk mengajar di Sekolah Guru A (SGA). Puncak dari pengabdian formalnya adalah ketika dipercaya menjabat sebagai Kepala SMA Negeri 2, kemudian SMA Negeri 3 Banda Aceh. Di setiap posisi ini, reputasinya sebagai guru yang tegas, adil, dan berintegritas semakin kokoh.
Warisan nyata
Jika ingin melihat bukti paling konkret dari kehebatan seorang RCL sebagai pendidik, lihatlah pada keluarganya. Beliau dan sang istri berhasil membimbing anak-anaknya menjadi manusia-manusia unggul yang berkontribusi besar bagi masyarakat. Ini adalah prestasi yang mungkin melebihi semua jabatan dan penghargaan formal.
Dari delapan anak yang ditinggalkannya (setelah seorang anak ketiga, Ibnussalam, wafat pada usia 6 tahun pada tahun 1972), terpancar sinar keilmuan, kepemimpinan, dan pengabdian.
Anak pertama, Dr Muslim SH, MA, adalah mantan dekan Fakultas Tarbiyah UIN Ar-Raniry. Anak kedua, dr Taqwallah MKes, pernah menjabat Sekretaris Daerah Aceh, sebuah posisi birokrasi tertinggi di Aceh.
Anak keempat, Dr Nasrullah ST, MT, adalah dosen Fakultas Teknik. Anak kelima, Dr Khadijah, adalah guru SMA dan Dosen UIN Ar-Raniry. Anak kenam, Dr Khasanah MPd, adalah dosen Magister Teknologi Pendidikan di Universitas Islam As-Syafi’iyah, Jakarta.
Anak ketujuh, Amaliawati MPd, adalah Guru SMA 2 Banda Aceh. Anak kedelapan, Idialita SPd, adalah Wakil Kepala SMA Negeri 1 Peusangan, Bireuen. Dan anak kesembilan, Mukminan SE, adalah mantan ketua DPRD Kota Banda Aceh.
Ini bukan daftar prestasi biasa. Ini adalah monumen hidup dari kesuksesan sebuah "pendidikan keluarga" yang dibangun di atas fondasi keteladanan.
Setiap anak berada di jalur yang berbeda. Dari birokrasi, politik, teknik, hingga pendidikan, tetapi semuanya bersinggungan dengan ranah pelayanan publik dan penyebaran ilmu. Mereka adalah perpanjangan tangan dari visi ayah mereka: membangun Aceh dan Indonesia melalui keahlian, integritas, dan dedikasi.
Guru di mata tamu
Nilai-nilai yang dipegang teguh oleh RCL bukanlah teori semata. Sebuah kesaksian personal dari mereka yang pernah berkunjung ke rumahnya menggambarkan sosok yang hangat dan penuh petuah.
Penulis yang sering bertandang kerap bertemu dengan putra keempat beliau, Dr Nasrullah RCL. Dalam setiap pertemuan, sang ayahanda selalu menyambut dengan kehangatan dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk memberi nasihat bijak.
Dua pesan yang terus diulang-ulang beliau sangat sederhana, tetapi mendalam: Selalu berbuat yang benar, walau itu pahit, dan jangan pernah meninggalkan shalat lima waktu.
Kedua pesan ini merangkum filsafat hidupnya. Pesan pertama berbicara tentang integritas dan moralitas publik, sebuah prinsip yang jelas diterapkan dalam kariernya sebagai guru dan kepala sekolah, serta diwariskan kepada anak-anaknya yang banyak berkecimpung di ranah publik.
Pesan kedua berbicara tentang fondasi spiritual dan disiplin privat sumber kekuatan dan ketenangan batin. Kombinasi inilah yang membentuk "insan kamil" atau insan seutuhnya yang menjadi tujuan pendidikan beliau: manusia yang kuat secara moral, unggul secara intelektual, dan kukuh secara spiritual.
Refleksi untuk kini
Dalam konteks pendidikan modern yang sering terjebak pada paradigma nilai ujian dan kompetisi, kehidupan RCL adalah sebuah renungan. Keberhasilan sejati seorang guru tidak diukur dari seberapa banyak muridnya yang lulus dengan nilai sempurna, tetapi dari seberapa mampu murid-muridnya, baik di sekolah maupun di rumah menjadi manusia yang bermanfaat dan berkarakter bagi masyarakat.
Beliau mengajarkan bahwa pendidikan adalah proses holistik. Tidak cukup hanya dengan mentransfer ilmu pengetahuan (kognitif), tetapi harus disertai dengan penanaman nilai (afektif) dan pembiasaan dalam berperilaku (psikomotorik). Pengalamannya mengajar dari SGB hingga SMA, serta aktif di organisasi kepemudaan, menunjukkan pemahamannya yang mendalam tentang pendidikan karakter sejak dini.
Razali Cut Lani telah pergi. Namun, guru tangguh dari Gampong Lubuk ini telah menyelesaikan misinya dengan sempurna. Beliau telah melampaui peran sebagai seorang guru biasa; beliau adalah seorang "arsitek peradaban" dalam skala mini. Melalui anak-anaknya yang luar biasa, pengaruhnya akan terus mengalir, mengairi berbagai sektor penting di Aceh dan Indonesia. Melalui ribuan murid yang pernah diajarinya, nilai-nilai kejujuran, ketataan, dan kedisiplinan akan terus hidup.
Selamat jalan, Guru Sejati. Jasamu tidak hanya tercatat dalam arsip dinas pendidikan, tetapi terpateri dalam kesuksesan anak-anakmu dan dalam setiap kebaikan yang mereka sebarkan kepada dunia.
Kini, Gampong Lubuk tidak hanya dikenal sebagai desa wisata, tetapi juga sebagai tempat lahirnya seorang guru yang melahirkan banyak insan terkemuka. Itulah warisan terindah yang tidak akan pernah banjir oleh waktu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/apridarrr.jpg)