Sabtu, 9 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Dari Bahasa Melayu Menjadi Bahasa Indonesia

Tentu sudah cukup banyak diketahui bahwa bahasa Indonesia sendiri mengakar pada bahasa Melayu yang sudah lebih dulu menjadi ‘lingua franca’

Tayang:
Editor: mufti
IST
MELINDA RAHMAWATI, M.Pd., alumnus Pendidikan IPS Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, melaporkan dari Jakarta 

Kemudian, pada momentum puncaknya dalam Sumpah Pemuda yang terjadi tanggal 28 Oktober 1928, para tokoh pemuda dari berbagai organisasi kedaerahan secara serentak berkomitmen untuk menjunjung tinggi “bahasa Indonesia” sebagai bahasa persatuan. Hal tersebut menjadi sebuah strategi simbolik, yaitu: bahasa yang sama tetapi dengan nama baru yang dapat mewakili semangat kebangsaan yang baru lahir.

Setelah Indonesia merdeka, peran bahasa Indonesia semakin diperkuat melalui konstitusi dalam Pasal 36 UUD 1945 yang menyatakan “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia.”

Pemerintah kemudian mengembangkan berbagai program pembinaan dan pengembangan bahasa, seperti penyusunan ejaan, pengayaan kosakata, penyusunan tata bahasa baku, penelitian, dan pengajaran dalam lembaga pendidikan. Seluruhnya diupayakan guna memastikan bahasa Indonesia dapat menjalankan fungsi modernisasi ilmu pengetahuan dan teknologi di tengah pesatnya perkembangan global.

Pada ranah linguistik, perkembangan bahasa yang memadukan akar Melayu dengan dinamika peminjaman kosakata dari berbagai bahasa, turut mencerminkan sejarah panjang Nusantara sebagai kawasan perdagangan internasional. 

Tumbuh dan berkembangnya sebagai kawasan perdagangan telah secara simultan menghadirkan interaksi yang intens dengan budaya asing, seperti India, Arab, Persia, Tiongkok, hingga Eropa.

Selain itu, terdapat juga warisan leksikal dari Sanskerta yang ditemukan pada ranah kebudayaan, politik, dan keagamaan. Keberagaman tersebut yang menandai sifat bahasa Indonesia sebagai bahasa terbuka dan terus berkembang.

Terakhir, pada aspek sosial, bahasa Indonesia telah bertumbuh menjadi alat mobilitas dan integrasi bangsa. Dengan status tunggalnya sebagai bahasa resmi negara dan bahasa pengantar pendidikan, membuatnya tersebar luas hingga ke pelosok negeri tanpa menggeser kedudukan bahasa daerah sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional. Bahasa Indonesia justru hadir sebagai titik temu antaretnis dan antarwilayah. Dengan begitu, bahasa Indonesia telah turut serta dalam menghadirkan kesetaraan akses terhadap pendidikan, media, dan informasi publik.

Kini, bahasa Indonesia telah menunjukkan dirinya sebagai menjadi bahasa yang hidup, dinamis, dan terus berkembang mengikuti perkembangan zaman. Bahasa ini telah menjelma menjadi wadah ekspresi ilmiah, budaya, ekonomi, dan digital, serta tampil sebagai bahasa besar dengan ratusan juta penutur. Keberhasilannya telah benar-benar menyatukan keragaman dalam satu identitas kebahasaan yang kokoh.

Sebagai generasi penerus, kita harus menyadari dan memaknai secara mendalam perjalanan bahasa Indonesia yang tidak terlepas dari peran bahasa Melayu sebagai akarnya.

Berawal dari bahasa perdagangan di wilayah pesisir, kini menjadi simbol pembangunan nasional yang strategis. Sejarah telah mencatatkan, bahasa memiliki peran penting dalam menciptakan bangsa yang merdeka, setara, dan berdaulat. Bahasa Indonesia hari ini adalah buah dari perjalanan kolaboratif linguistik yang cerdas, kolaboratif, dan tetap terbuka untuk tumbuh bersama menuju masa depan.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved