Jumat, 24 April 2026

KUPI BEUNGOH

Pemulihan Trauma Anak Korban Banjir dan Harapan yang tak Boleh Runtuh

Bencana yang mereka alami bukan sekadar peristiwa sesaat, melainkan pengalaman yang membekas dalam ingatan dan emosi anak-anak.

Editor: Saifullah
Serambinews.com/HO
Cut Rumaisa, Staf KONI Aceh 

Oleh: Cut Rumaisa

PASCA bencana yang melanda sejumlah wilayah di Aceh tidak hanya meninggalkan jejak kerusakan fisik, tetapi juga menyisakan luka yang tak kasat mata, terutama bagi anak-anak.

Di antara lumpur yang belum sepenuhnya kering, bangunan yang rusak, dan aktivitas warga yang perlahan kembali bergerak, anak-anak menjadi kelompok paling rentan yang sering luput dari sorotan utama pemulihan.

Di lokasi terdampak, kondisi lingkungan masih jauh dari kata pulih. 

Sisa-sisa material bangunan, genangan lumpur, serta fasilitas umum yang belum sepenuhnya berfungsi menjadi pemandangan sehari-hari. 

Bagi orang dewasa, situasi ini mungkin dimaknai sebagai tantangan untuk bangkit. 

Namun bagi anak-anak, kondisi tersebut dapat memicu rasa takut, kebingungan, dan trauma berkepanjangan. 

Baca juga: Gedung Masih Dipenuhi Lumpur, Anak Korban Banjir di Aceh Tamiang Belajar di Sekolah Darurat

Bencana yang mereka alami bukan sekadar peristiwa sesaat, melainkan pengalaman yang membekas dalam ingatan dan emosi.

Anak-anak kehilangan rasa aman yang selama ini mereka kenal. 

Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung berubah menjadi simbol ketidakpastian.

Ruang bermain menyempit, rutinitas terganggu, dan sebagian dari mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang asing. 

Dalam situasi seperti ini, pemulihan trauma menjadi kebutuhan mendesak, bukan pelengkap dari proses rehabilitasi.

Pemulihan pascabencana tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa cepat bangunan berdiri kembali atau infrastruktur diperbaiki. 

Baca juga: Kapolres Lhokseumawe Hibur Anak-anak Korban Banjir di Pengungsian Saat Malam Tahun Baru

Ada aspek psikososial yang sama pentingnya, terutama bagi anak-anak. 

Keceriaan mereka bukan sekadar tawa sesaat, melainkan indikator bahwa rasa aman perlahan kembali tumbuh. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved