Minggu, 10 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Dari Kebun Sekolah, Belajar Menjaga Alam dan Lingkungan

Amanah inilah yang saya rasakan ketika mendampingi kegiatan ekstrakurikuler berkebun Agrokids di SD Sukma Bangsa Lhokseumawe,

Tayang:
Editor: mufti
SERAMBINEWS.COM/IST/IST
GUNAWAN, Guru SD Sukma Bangsa Lhokseumawe dan penyintas banjir Aceh Utara, melaporkan dari Kota Lhokseumawe 

GUNAWAN, Guru SD Sukma Bangsa Lhokseumawe dan penyintas banjir Aceh Utara, melaporkan dari Kota Lhokseumawe

“Dialah yang menjadikan kamu dari bumi (tanah) dan memakmurkannya.” (QS. Hud: 61)

Ayat ini mengingatkan bahwa manusia—termasuk anak-anak—memiliki amanah besar untuk memakmurkan Bumi, bukan merusaknya. Amanah inilah yang saya rasakan ketika mendampingi kegiatan ekstrakurikuler berkebun Agrokids di SD Sukma Bangsa Lhokseumawe, sebuah ruang belajar alam terbuka bagi siswa kelas IV s.d. VI yang dilaksanakan rutin setiap Kamis pukul 14.00–16.00 WIB.

Setiap Kamis sore, halaman depan sekolah berubah menjadi ruang belajar yang berbeda. Tidak ada bangku kelas dan papan tulis. Yang ada hanyalah tanah, cangkul kecil, polybag, bibit sayuran, dan wajah-wajah ceria anak-anak yang tak sabar memulai kegiatan berkebun.

Bagi masyarakat Aceh, relasi dengan alam bukanlah sesuatu yang jauh. Banjir yang berulang hampir setiap tahun menjadikan alam hadir dalam pengalaman sehari-hari anak-anak, melalui sekolah yang terendam, aktivitas belajar yang terhenti, dan rasa cemas yang tertinggal.

Dalam konteks inilah, kebun sekolah menjadi ruang belajar yang bermakna. Bukan hanya tentang menanam, melainkan tentang memahami alam dan dampak dari cara manusia memperlakukannya.

Bagi saya, mengajar Agrokids bukan sekadar mendampingi anak menanam. Ia adalah proses pendidikan yang utuh: mengasah kecerdasan naturalis, membangun karakter, serta menanam kesadaran ekologis sejak dini. Terlebih di Aceh dan Sumatra yang rawan banjir dan longsor, pendidikan berbasis alam seperti ini terasa semakin relevan.

Dari alam untuk kehidupan

Howard Gardner dalam teori Multiple Intelligences menyebut bahwa kecerdasan naturalis sebagai kemampuan mengenali dan berinteraksi dengan alam.

Kegiatan berkebun menjadi sarana yang tepat untuk mengasah kecerdasan ini. Anak-anak belajar mengenal jenis tanaman, memahami kebutuhannya, serta mengamati perubahan dari hari ke hari.

Dalam Agrokids, anak-anak mengenal berbagai sayuran seperti kangkung, sawi, terung, mentimun, dan jagung, serta apotek hidup seperti jahe, kunyit, lengkuas, dan serai.

Mereka belajar bahwa alam menyediakan sumber kesehatan, asalkan dirawat dan dimanfaatkan dengan bijak.

Pembelajaran ini sejalan dengan pandangan Jean Piaget yang menegaskan bahwa anak belajar paling efektif melalui pengalaman konkret. Dengan menyentuh tanah dan merawat tanaman secara langsung, konsep tentang alam tidak lagi abstrak, melainkan hidup dalam pengalaman mereka.

Dalam konteks Aceh yang kerap dilanda banjir, pengalaman konkret ini menjadi penting. Anak-anak mulai memahami bahwa tanah, akar, dan vegetasi berperan dalam menyerap air dan menjaga keseimbangan alam. Dari kebun kecil di sekolah, mereka belajar bahwa bencana sering kali berkaitan dengan kerusakan lingkungan.

Mengajarkan anak berkebun juga berarti menanamkan nilai kesabaran, tanggung jawab, dan kepedulian. Tanaman yang tidak dirawat akan layu. Dari sini, anak belajar bahwa hasil baik menuntut proses dan komitmen.

Kegiatan ini melatih kerja sama. Anak-anak berbagi tugas, mulai dari menyiram, menyiangi, hingga mencatat pertumbuhan tanaman. Nilai gotong royong atau ‘meuseraya’ yang hidup dalam budaya Aceh kembali dihidupkan dalam praktik sederhana, sebagaimana semangat kebersamaan yang juga muncul saat masyarakat menghadapi banjir.

Bagian penting lain dari Agrokids adalah pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk kompos. Anak-anak belajar bahwa tidak semua sampah harus dibuang. Sebagian dapat dikembalikan ke tanah. Praktik ini menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini dan membentuk pola pikir ramah lingkungan.

FAO menyebut kebun sekolah sebagai sarana efektif untuk mengenalkan sistem pangan dan pengelolaan lingkungan. Agrokids menjadi contoh penerapan gagasan tersebut dalam konteks lokal Aceh.

Saatnya panen

Suasana kebun terasa berbeda ketika masa panen tiba. Anak-anak datang lebih awal dengan wajah penuh antusias. Sayuran yang mereka rawat selama beberapa minggu kini tumbuh subur: kangkung memanjang, sawi rimbun, mentimun bergelantungan, hingga jagung yang mulai menguning.

Dalam Islam, menanam dan merawat alam adalah bagian dari amal kebaikan. Rasulullah saw bersabda bahwa setiap tanaman yang dimakan makhluk lain menjadi sedekah bagi penanamnya.

Kegiatan panen menjadi momen belajar yang bermakna. Anak-anak memetik hasil kebun dengan hati-hati dan bangga. “Ini yang saya tanam, Bu,” ujar seorang anak sambil menunjukkan hasil kebunnya.

Kalimat sederhana itu mengandung kesadaran bahwa hasil tidak datang secara instan.

Melalui panen, anak-anak belajar mensyukuri proses. Mereka mengingat hari-hari menyiapkan tanah, menyemai benih, hingga merawat tanaman. Saat ada tanaman yang tumbuh kurang baik, mereka belajar menerima dan memperbaikinya.

Dalam budaya Aceh, rasa syukur diajarkan sejak dini. Panen menjadi momentum untuk memahami bahwa makanan berasal dari alam dan kerja keras manusia. Sayur yang dipanen tidak sekadar dibawa pulang, tetapi dinikmati dan dibagikan bersama.

Kegiatan ini juga menumbuhkan empati dan kepedulian. Anak-anak yang awalnya enggan menyentuh tanah kini justru bangga dengan tangan kotor mereka. Kesadaran ini menjadi bekal penting bagi generasi Aceh di tengah ancaman banjir dan kerusakan lingkungan.

Mitigasi bencana

Aceh dan Sumatra adalah wilayah rawan banjir dan longsor. Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya tutupan vegetasi dan buruknya pengelolaan lingkungan.

Melalui Agrokids, anak-anak dikenalkan peran tanaman dalam menyerap air, mengikat tanah, dan menjaga keseimbangan alam.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menegaskan bahwa vegetasi berperan besar dalam mengurangi risiko bencana. Dengan menanam dan merawat tanaman sejak dini, anak-anak belajar menjadi bagian dari solusi. Dalam kearifan lokal Aceh dikenal pepatah, “Ala ta peulara, musibah ta peugah”. Pepatah ini memiliki makna mendalam yang mengajarkan tentang tanggung jawab dan kejujuran. Sesuatu yang baik atau berharga harus kita pelihara/jaga. Sedangkan musibah, kesalahan, atau hal buruk harus kita beri tahukan, ungkapkan, atau akui.

Dari rangkaian kegiatan Agrokids, SD Sukma Bangsa Lhokseumawe meraih penghargaan Sekolah Adiwiyata Tingkat Provinsi Aceh Tahun 2025. Penghargaan ini bukan tujuan akhir, melainkan pengingat bahwa pendidikan lingkungan harus terus hidup.

Kegiatan ini mengajarkan bahwa pendidikan sejati tumbuh dari hal-hal sederhana: tanah yang diolah, benih yang disemai, dan tangan-tangan kecil yang belajar merawat kehidupan.

Pesan ini sejalan dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto saat berkunjung ke Aceh pascabanjir bandang bahwa menjaga alam berarti menjaga masa depan generasi bangsa.

Pada akhirnya, berkebun bukan hanya tentang panen sayur, melainkan juga tentang menumbuhkan generasi yang berakar kuat pada alam dan bertanggung jawab pada Bumi. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved