Selasa, 5 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Sadar Gizi, Generasi Emas Menanti

Gizi adalah fondasi utama dalam mewujudkan kesehatan yang prima.  Kata gizi berasal dari bahasa Arab, ”ghidza” yang bermakna makanan yang menyehatkan.

Tayang:
Editor: Yeni Hardika
SERAMBINEWS.COM/HO
Siti Amira Mardhatillah, mahasiswi Program Studi Sarjana Terapan Gizi dan Dietetika, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Aceh. 

Oleh: Siti Amira Mardhatillah*)

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak bisa terlepas dari yang namanya gizi.

Gizi adalah fondasi utama dalam mewujudkan kesehatan yang prima. 

Kata gizi berasal dari bahasa Arab, ”ghidza” yang bermakna makanan yang menyehatkan.

Zat gizi bersumber dari berbagai unsur kimia bahan pangan yang dibutuhkan tubuh untuk menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan serta mengatur proses kehidupan.

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, gizi belum dianggap penting.

Akibatnya, masalah gizi masih menjadi problem tersendiri bagi bangsa ini.

Status gizi ditentukan oleh asupan makanan yang dikonsumsi.

Pola makan yang tidak seimbang mengakibatkan masalah bagi kesehatan. 

Kekurangan atau kelebihan asupan zat gizi makro (karbohidrat, protein, lemak, dan serat) dan zat gizi mikro (vitamin dan mineral) dalam waktu lama mengakibatkan beban ganda gizi.

Kondisi inilah yang sedang dihadapi bangsa Indonesia.

Baca juga: Peta Jalan Baru Karier Guru Indonesia

Dimana saat bersamaan, Indonesia berkutat dengan masalah kurang gizi, seperti stunting (gagal tumbuh), wasting (gizi buruk), underweight (berat badan kurang), dan anemia pada anak dan remaja.

Disamping juga berhadapan dengan kasus obesitas (kelebihan gizi).

Kekeliruan dalam bergizi juga dapat memunculkan berbagai penyakit degeneratif (non infeksi) di kemudian hari.

Diabetes, penyakit kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah), kanker, dan gangguan tulang dan sendi adalah sebagian contoh dari penyakit yang hadir akibat kesalahan pola makan.

Data International Diabetes Federation (IDF) tahun 2024, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia. Penderitanya mencapai 20,4 juta orang.

Secara global diperkirakan 589 juta orang hidup dengan diabetes dan diproyeksikan melonjak hingga 853 juta pada tahun 2050.

Sementara penyakit kardiovaskuler adalah pembunuh nomor satu di dunia. Juga di Indonesia.

Rilis World Health Organization (WHO) mengungkapkan, kematian akibat penyakit kardiovaskuler mencapai 17 juta jiwa lebih per tahun.

Di Indonesia mencapai 651.481 jiwa, dengan penyebab utama stroke, disusul jantung koroner dan hipertensi (brin.go.id).  

Baca juga: Dari Thaif ke Aceh: Makna Isra Mikraj di Tengah Bencana

Gizi Seimbang

Gizi seimbang ditandai dengan pola makan yang menyelaraskan berbagai kebutuhan tubuh sesuai dengan porsinya.

Selama ini, sebagian besar masyarakat Indonesia dibiasakan makan nasi (karbohidrat) dalam jumlah banyak, tapi sedikit protein (ikan, telur, daging), serta kurang vitamin dan mineral.

Kita belum merasa makan jika belum melahap nasi.

Padahal baru saja menghabiskan sepiring mi goreng, setongkol jagung, sejumlah roti atau sumber energi lainnya.

Makan masih sebatas menghilangkan rasa lapar dan melepaskan hawa nafsu.

Perhatian terhadap aspek gizi dan kebugaran belum terlalu dihiraukan.

Pola makan tinggi karbohidrat bila tidak dibarengi dengan konsumsi sayur dan buah berakibat pada munculnya berbagai penyakit degeneratif yang berakibat pada menurunnya status kesehatan.

Beras masih menjadi sumber utama energi harian masyarakat Indonesia.

Lebih 98 persen rumah tangga di Indonesia mengonsumsi beras.

Merujuk pada laman badanpangan.go.id, rata-rata konsumsi per kapita per bulan mencapai 6,6 kg di tahun 2023.

Sementara untuk asupan protein, berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2022, konsumsi protein per kapita per hari masyarakat Indonesia sudah di atas standar kecukupan konsumsi protein nasional, 62,21 gram (standar nasional 57 gram).

Namun masih rendah untuk konsumsi protein hewani.

Food and Agriculture Organization (FAO) mencatat, konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia masih tergolong rendah di dunia.

Orang Indonesia hanya mengonsumsi telur 4-6 kg per orang per tahun, daging dibawah 40 gr per orang per tahun, dan susu serta produk turunannya 0-50 kg per orang per tahun. 

Sutawi (2011), melihat rendahnya konsumsi protein hewani bangsa Indonesia berimbas pada karakter bangsa yang sudah tidak bisa membedakan nilai (values) yang baik menurut standar logika (benar-salah), estetika (bagus-buruk), etika (layak-tidak layak), agama (dosa-haram-halal) dan hukum (sah-absah).

Pada balita, dampak kekurangan protein hewani menyebabkan perkembangan sel-sel otak tidak maksimal sehingga memengaruhi kecerdasan dimasa dewasa.

Baca juga: Simpang Lima di Kala Malam: Refleksi tentang Keindahan, Ketertiban, dan Identitas Aceh

Untuk mencukupi kebutuhan gizi seimbang, pola makan harus mengacu pada konsep “Isi Piringku”.

“Isi Piringku” adalah pedoman gizi seimbang yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI.

Pedoman ini adalah penyempurnaan dari konsep “4 Sehat 5 Sempurna” yang telah dipromosikan oleh almarhum Prof Poorwo Soedarmo.  

Bapak Gizi Indonesia, yang sejak 50-an telah merintis dan memopulerkan masalah pentingnya gizi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam sekali makan, “Isi Piringku” diisi dengan 50 % makanan pokok dan lauk pauk.

Dimana seperempat piring berupa karbohidrat seperti nasi dan sejenisnya.

Seperempatnya lagi berisi unsur protein. Sedangkan setengah piring lainnya diisi dengan sayur (dua pertiga) dan sepertiganya buah.

Cukupi hidrasi air putih dua liter sehari atau delapan gelas.

Membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), aktivitas fisik (olahraga), dan menjaga serta memantau berat badan ideal.

Hal terpenting lainnya membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak.

Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian bervariasi menurut usia, jenis kelamin, dan kondisi fisik.

Acuannya bisa merujuk pada Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Republik Indonesia nomor 28 Tahun 2019 tentang angka kecukupan gizi yang dianjurkan untuk masyarakat Indonesia. 

Sadar Gizi

Sadar gizi belum menjadi bagian dari gaya hidup bangsa Indonesia.

Belanja untuk kebutuhan gizi masih belum prioritas. 

Sebagian masyarakat masih mengutamakan beli rokok, fesyen, produk kecantikan atau membeli pulsa agar tetap eksis di dunia maya.

Menanamkan sadar gizi pada masyarakat harus dimulai sejak dini.

Selain faktor utama akibat kemiskinan, rendahnya asupan gizi orang Indonesia karena  kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang gizi. 

 

Keluarga adalah basis dalam memperbaiki status gizi suatu bangsa.

Karenanya perlu dikembangkan model pendidikan gizi yang melibatkan keluarga dan masyarakat dengan dukungan dari lembaga pemerintah dan swasta.

Karena kurangnya pengetahuan tentang gizi, kita bisa menjumpai seorang ibu yang menjual telur hasil ternaknya untuk membeli ikan asin atau ada ayah yang lebih mengutamakan rokok daripada susu bayinya.  

Kampanye secara masif dan berkelanjutan juga harus giat dilakukan ditengah maraknya iklan rokok, produk kecantikan, fesyen dan ajakan hidup konsumtif lainnya.

Pola pikir dan pola tindak masyarakat harus diubah, bahwa gizi juga bagian dari gaya hidup. 

Asupan gizi yang optimal harus sudah dipenuhi sejak dalam kandungan hingga akhir hayat.

Tercukupinya gizi  menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang sehat, kreatif, inovatif, produktif, dan bestari.

Bangsa yang bermartabat, unggul dan berdaya saing. 

Selamat Hari Gizi Nasional ke-66. Hari yang diperingati setiap 25 Januari sejak pertengahan tahun 1960-an.

Tahun ini mengusung tema “Gizi Optimal Mewujudkan Generasi Emas 2045”.

*) Penulis adalah Mahasiswi Program Studi Sarjana Terapan Gizi dan Dietetika, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Aceh.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

BACA BERITA SERAMBINEWS.COM LAINNYA DI SINI

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved