Kupi Beungoh
Urgensi Kehadiran Museum Bencana Hidrometeorologi di Aceh dalam Perspektif Pendidikan
Museum Bencana Hidrometeorologi dapat berfungsi sebagai ruang belajar alternatif, tempat anak-anak memahami hubungan antara alam dan manusia.
*) Oleh: Djamaluddin Husita, S.Pd., M.Si
PADA penghujung tahun 2025, bencana hidrometeorologi melanda sejumlah wilayah di Aceh dan meninggalkan dampak yang luas serta berkepanjangan.
Lebih dari dua bulan setelah kejadian, pemulihan belum sepenuhnya selesai. Di banyak tempat, jejak kehancuran masih mudah ditemukan.
Alur sungai berubah, lumpur menutup lahan pertanian, rumah warga belum tertata kembali, dan roda ekonomi berjalan tertatih.
Peristiwa seperti ini seharusnya tidak berlalu begitu saja sebagai ingatan sesaat. Pengalaman tersebut perlu dicatat dan diwariskan agar tetap hidup dalam kesadaran bersama.
Pengalaman pahit hari ini penting diketahui oleh generasi berikutnya, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan agar mereka memahami mahalnya harga yang harus dibayar ketika hubungan manusia dan alam diabaikan.
Dari sinilah urgensi kehadiran Museum Bencana Hidrometeorologi di Aceh menemukan pijakan yang kuat, terutama jika dilihat dari sudut pandang pendidikan.
Aceh sejak lama hidup berdampingan dengan risiko bencana. Letak geografis, kondisi alam yang beragam, serta iklim tropis dengan curah hujan tinggi menjadikan daerah ini rawan banjir, longsor, abrasi pantai, angin kencang, dan kekeringan.
Dalam beberapa tahun terakhir, bencana semacam ini terasa semakin sering dan berdampak luas. Di sisi lain, pemahaman masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda, tentang lingkungan dan risiko bencana belum tumbuh secara utuh dan berkelanjutan.
Selama ini, pembicaraan tentang bencana di Aceh lebih banyak bertumpu pada gempa bumi dan tsunami. Pengalaman tahun 2004 memang meninggalkan pelajaran besar dan membentuk ingatan kolektif masyarakat.
Namun dalam kehidupan sehari-hari, bencana hidrometeorologi justru lebih sering terjadi dan langsung memengaruhi aktivitas warga.
Sekolah terendam banjir, akses jalan terputus akibat longsor, dan permukiman pesisir perlahan tergerus abrasi. Realitas inilah yang seharusnya mendapat perhatian lebih serius, terutama dalam dunia pendidikan.
Museum sering dipahami sebagai tempat menyimpan benda lama dan catatan masa lalu. Pandangan ini perlu diperluas. Dalam konteks pendidikan, museum dapat menjadi ruang belajar yang hidup dan dekat dengan pengalaman sehari-hari.
Museum Bencana Hidrometeorologi dapat berfungsi sebagai ruang belajar alternatif, tempat anak-anak dan masyarakat memahami hubungan antara alam, aktivitas manusia, dan risiko bencana dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami.
Dalam praktiknya, pendidikan kebencanaan di sekolah masih sering bersifat umum dan teoritis. Peserta didik mengenal istilah banjir, longsor, atau perubahan iklim, tetapi tidak selalu memahami bagaimana proses itu terjadi di lingkungan sekitar mereka.
Materi pelajaran kerap disampaikan melalui buku teks dan penjelasan singkat di kelas, tanpa ruang cukup untuk mengaitkannya dengan pengalaman nyata yang mereka lihat setiap tahun. Akibatnya, pengetahuan kebencanaan mudah dilupakan dan tidak benar-benar membentuk sikap.
Museum dapat menjembatani kekosongan tersebut dengan menghadirkan cerita, gambar, peta, dan rekaman peristiwa bencana yang benar-benar terjadi di Aceh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Alumnus-Pascasarjana-FMIPA-UNPAD-Bandung-Djamaluddin-Husita.jpg)