Rabu, 13 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

79 Tahun HMI: Masih Relevankah Sintesis Islam dan Nasionalisme?

Ketika Lafran Pane mendirikan HMI pada 1947, Indonesia bahkan belum sepenuhnya yakin ingin menjadi apa.

Tayang:
Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Oleh Ahmad Humam Hamid*)

PADA 5 Februari lalu, organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam, memasuki usia 79 tahun. 

Usia yang biasanya dirayakan sebagai tanda kematangan. 

Tetapi bagi organisasi kader, kematangan bisa berarti dua hal: “kedewasaan intelektual”, atau “kenyamanan yang perlahan mematikan daya kritis”. 

HMI kini berdiri di antara keduanya.

Di titik inilah perayaan berubah menjadi ujian. 

Bukan ujian sejarah, karena sejarah telah lama berpihak pada HMI

Bukan pula ujian eksistensi, karena nama dan jaringannya masih sangat hidup. 

Yang diuji justru sesuatu yang lebih sunyi dan lebih menentukan: apakah HMI masih menjadi “kekuatan gagasan”, atau telah menjelma menjadi organisasi besar yang hidup dari ingatan akan kebesarannya sendiri.

Baca juga: Latihan Kader HMI Langsa, Dr Dayyan : Mahasiswa Harus Memiliki Nilai Tauhid Sebagai Insan Akademis

Menjawab Kegelisahan Zaman

Fondasi HMI sejak awal tidak dibangun untuk sekadar bertahan. 

Ia dibangun untuk menjawab kegelisahan zaman. 

Ketika Lafran Pane mendirikan HMI pada 1947, Indonesia bahkan belum sepenuhnya yakin ingin menjadi apa. 

Negara belum selesai, ideologi saling berbenturan, dan kampus menjadi medan pertarungan intelektual. 

Dalam situasi itu, Lafran melakukan pilihan yang, jika dibaca hari ini, terlihat nyaris subversif. 

Ia menolak dua godaan besar sekaligus: menjadikan Islam sebagai alat kekuasaan, dan menjadikan nasionalisme sebagai proyek sekuler tanpa jiwa.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved