Kamis, 14 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

79 Tahun HMI: Masih Relevankah Sintesis Islam dan Nasionalisme?

Ketika Lafran Pane mendirikan HMI pada 1947, Indonesia bahkan belum sepenuhnya yakin ingin menjadi apa.

Tayang:
Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Keduanya saling melengkapi. 

Tanpa Lafran, Cak Nur melayang. 

Tanpa Cak Nur, Lafran berisiko membeku. 

Sintesis inilah yang membuat HMI mengambil jalan yang tidak spektakuler, tetapi tahan lama.

Baca juga: Ini 9 Presidium KAHMI Aceh Periode 2022-2027, Ahmad Doli Kurnia: Jaga Eksistensi HMI

Memilih Akumulasi Sejarah 

Sejarah global memberi banyak contoh organisasi mahasiswa Islam yang memilih jalan sebaliknya. 

Di Mesir, Ikhwanul Muslimin membangun jaringan pemuda yang mengesankan, hanya untuk berakhir sebagai musuh utama negara. 

Di Asia Selatan, Jamaat-e-Islami dan sayap mahasiswanya tampil disiplin dan ideologis, tetapi sering terjebak dalam kekakuan doktrin. 

Di Malaysia, ABIM mendekati model HMI, namun kedekatan dengan negara pada fase tertentu menggerus jarak kritis. 

Di Tunisia, generasi muda Islam pasca Arab Spring lahir dengan semangat demokrasi, tetapi tanpa kesabaran kaderisasi jangka panjang. 

Polanya nyaris seragam: “terlalu ideologis”, atau “terlalu politis”. Hasilnya pun serupa: represi, fragmentasi, atau stagnasi.

HMI mengambil jalan yang tampak membosankan bagi kaum revolusioner dan terlalu kritis bagi kaum pragmatis. 

Ia tidak mengejar kekuasaan, tetapi pengaruh. 

Tidak membangun massa, tetapi manusia. 

Dalam istilah yang lebih tajam, HMI tidak memilih ledakan sejarah, melainkan “akumulasi sejarah”. 

Dan seperti banyak institusi yang bertahan lama, kekuatannya bukan pada kemenangan singkat, tetapi pada daya tahannya.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved