Pojok Humam Hamid
79 Tahun HMI: Masih Relevankah Sintesis Islam dan Nasionalisme?
Ketika Lafran Pane mendirikan HMI pada 1947, Indonesia bahkan belum sepenuhnya yakin ingin menjadi apa.
Hasilnya terlihat hari ini.
Kader HMI tersebar di hampir semua jalur kekuasaan dan pengaruh.
Di kampus, mereka menjadi dosen, peneliti, dan rektor.
Di politik, mereka hadir di parlemen, partai, kabinet, dan oposisi.
Di birokrasi, mereka menjadi teknokrat dan administrator negara.
Di dunia usaha, mereka menjadi pengusaha dan profesional.
Di masyarakat sipil, mereka menjadi aktivis dan pengkritik negara.
Ini bukan klaim romantis, melainkan “fakta sosiologis”.
Yang lebih menarik, mereka sering saling berhadapan.
Di satu ruangan, seorang kader HMI membela kebijakan negara; di ruangan lain, kader HMI lain menggugatnya.
Mereka berbeda kamar, berbeda kepentingan, bahkan berbeda ideologi praktis.
Namun pada momen tertentu, ketika negara goyah dan krisis datang, mereka tampak seperti satu generasi yang berbagi “alfabet moral yang sama”.
Mereka mungkin tidak sepakat, tetapi mereka saling memahami.
Dalam dunia politik yang semakin tribal: terpecah oleh sekat-sekat identit sempit, ini bukan hal kecil.
Dari Mimpi Lafran Pane ke Tantangan Algoritma
Di sinilah mimpi Lafran Pane terasa nyaris profetik.
Ia tidak bermimpi menciptakan barisan seragam.
Ia bermimpi menciptakan manusia yang mampu berbeda tanpa saling meniadakan.
Dalam bahasa yang lebih tajam, HMI tidak dimaksudkan untuk memenangkan satu faksi, tetapi untuk memastikan bangsa ini selalu memiliki “stok akal sehat”.
Itulah sebabnya HMI bisa melahirkan elite yang saling berhadapan, tetapi masih saling menghormati.
Namun justru di sinilah bahaya terbesar mengintai.
Ketika kader tersebar di mana-mana, organisasi mudah tergoda untuk hidup dari jaringan, bukan dari gagasan.
Nama besar menjadi mata uang.
Sejarah menjadi legitimasi.
HMI berisiko berubah dari dapur kaderisasi menjadi “klub alumni raksasa” yang sibuk mengingat masa lalu sambil mengatur masa depan masing-masing. Banyak institusi besar runtuh bukan karena diserang, tetapi karena “terlalu nyaman”.
Tantangan hari ini juga jauh lebih kejam daripada era Lafran Pane dan Cak Nur.
Musuhnya bukan tentara kolonial, melainkan “algoritma”.
Bukan sensor negara, melainkan “pasar atensi”.
Bukan ideologi besar, melainkan “pragmatisme kecil yang menumpuk”.
Dalam dunia seperti ini, Islam mudah direduksi menjadi identitas, nasionalisme menjadi slogan, dan kaderisasi menjadi formalitas.
HMI sering disebut nyaris ideal.
Bukan karena ia sempurna, melainkan karena ia dirancang untuk bertahan dalam ketidaksempurnaan.
Ia tidak mengikat kader pada satu partai, satu tafsir, atau satu agenda kekuasaan.
Ia mengikat mereka pada “tanggung jawab moral” untuk berpikir dan bertindak bagi bangsa. Inilah yang membuat HMI lentur.
Namun kelenturan tanpa disiplin selalu berisiko berubah menjadi oportunisme.
Maka pertanyaan paling jujur hari ini bukan apakah HMI masih relevan, melainkan apakah HMI masih berani.
Berani mengkritik dirinya sendiri.
Berani menolak kenyamanan jaringan.
Berani mengutamakan intelektualitas di tengah godaan pragmatisme.
Lafran Pane tidak mendirikan HMI agar ia menjadi besar; ia mendirikannya agar ia menjadi “penting”.
Jika HMI terus melahirkan kader yang beriman tanpa fanatisme, nasionalis tanpa kekosongan nilai, dan intelektual tanpa kesombongan, maka sintesis Islam dan nasionalisme bukan hanya relevan, ia menjadi “kebutuhan sejarah”.
Jika tidak, HMI akan tetap hidup, tetapi hanya sebagai bayangan dari mimpinya sendiri.
Sejarah tidak pernah kehabisan organisasi besar.
Yang langka adalah organisasi yang tetap gelisah setelah menjadi besar.
Pada usia 79 tahun, HMI sedang diuji bukan oleh musuh dari luar, melainkan oleh keberhasilannya sendiri.
Dan seperti sejak 1947, mimpi Lafran Pane menunggu satu hal yang sama: keberanian kader untuk tidak sekadar hadir di mana-mana, tetapi bermakna di mana pun mereka berada.
*) PENULIS adalah Senior dan Inspirator Kaderisasi HMI, serta Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (UKS).
Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid menjadi tanggung jawab penulis.
Lafran Pane
HMI
HUT HMI
siapa pendiri hmi
Nurcholish Madjid
pojok humam hamid
Ahmad Humam Hamid
humam hamid aceh
Serambi Indonesia
| Tenaga Kerja Aceh: Dominasi Sektor Informal, TPT, dan Indikator Tak Sehat Lainnya |
|
|---|
| Siapa Mengendalikan Pertumbuhan Banda Aceh-Aceh Besar? |
|
|---|
| Perang Iran, Pupuk, dan Piring Nasi Kita |
|
|---|
| Purbaya, “Indonesia Survival Mode”: Diagnosis, Peringatan, dan Reportoar Kehati-hatian |
|
|---|
| Posisi Strategis Selat Malaka dalam Integrasi Jalur Energi dan Perdagangan Global |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/humam-hamid-sosiolog-aceh-4.jpg)